Senin, 13 Mei 2013

yang aku mau ya cuma KAMU !!!




Yang Aku Mau itu, KAMU ! bukan yg lain :’)


“Aku benci sama kamu!!” bentakku pada Lugie, seorang cowok yang tingginya kira-kira 5 cm di atasku. Dia itu pacarku, hubungan kami baru berjalan sekitar 4 bulan.

“Kita PUTUS!!”  lanjutku, dengan penuh emosi.

Lugie memalingkan wajahnya, seperti tak mau memperlihatkan raut wajahnya saat ini padaku. Ia mendengus kesal. Aku tahu, pasti dia sudah cukup lelah menghadapiku… aku si cewek cerewet yang aku sadari pastinya aku sudah terlalu sering membuatnya kesal.

Setiap kali kita bertengkar pasti kamu minta putus! Coba kamu ingat-ingat ini udah kata ‘putus’ yang ke berapa yang udah kamu ucapin ke aku?”  Lugie membentakku. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin kali ini dia sudah benar-benar muak  denganku.

Malam sudah cukup larut dan jalanan sudah mulai sepi. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 11 malam. Beberapa supir taxi yang ngetem di depan sebuah cafe tempat aku dan Lugie menikmati makan malam tadi, sudah cekikikkan melihat pertengkaran kami. Tak kuhiraukan lagi apapun yang terjadi di sekitar, pikiranku mulai kalut. Lugie membentakku untuk pertama kalinya sejak 4 bulan kami pacaran.

Aku terdiam…. Hatiku bergemuruh, ingin rasanya aku menangis saat itu juga. Tapi ku tahan… aku tak mau terlihat lemah!

Aku kesal sama kamu! Kenapa sih kamu tuh gak bisa jadi seperti yang aku mau? Aku kan udah bilang, aku gak suka sikap kamu yang selalu cuek bebek sama aku! Aku ini pacar kamu! Sama kayak cewek-cewek lainnya, aku pengen diperhatiin lebih sama pacarku, sama kamu! Dan kamu gak bisa ngasih itu semua ke aku!”

Emosiku tak dapat ku rem lagi. Kutumpahkan semua unek-unek yang ada di dalam hatiku. Dan Lugie hanya mendengus sambil mengusap-usap wajahnya.

“Aku capek menghadapi sikap kamu yang seperti ini terus! Kapan kamu mau berubahnya? KAPAN???” lagi-lagi aku membentak pacarku yang sangat kusayangi itu.

“Oke!”  Lugie menatapku, “sekarang kamu dengerin aku ya, Chell..”

Aku menatapnya, kami bertatapan sejenak, ia terdiam beberapa detik. Kemudian kembali mendengus, mengusap wajahnya, dan mengacak-acakkan rambutnya sendiri.
Aku ikut terdiam, kulihat ia memalingkan wajahnya sesaat dariku, beberapa detik kemudian ia kembali menatapku, dengan tatapan kosong.

Aku tak tahu entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Tapi yang jelas, aku takut! Aku takut perkataanku tadi benar-benar menyinggung perasaannya. Tapi aku harus kuat, aku harus siap menerima resiko apapun.. aku bukanlah cewek lemah!!!

Lugie menatapku…

“Chell, aku akui memang aku gak bisa jadi seperti yang kamu harapkan. Aku gak bisa seperti cowok-cowok lain yang bisa ngasih perhatian 24 jam ke pacarnya. Kamu tahu kan aku ini kerja siang – malam. Kamu tahu persis gimana kerjaan aku..”

Lugie memang seorang pembisnis, meskipun masih kuliah, ia sudah berpenghasilan. Memang bisnisnya itu memakan banyak waktu dan memang hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bisa memberi perhatian pada orang lain. Tapi aku ini cuma seorang cewek biasa! Aku pengen dapat perhatian lebih dari orang yang aku sayangi..

“Tapi ya sudahlah..” lanjut Lugie dengan intonasi yang semakin melemah. “Mulai sekarang, aku akan berkorban demi kamu, aku akan berkorban supaya kamu mendapatan kebahagiaan seperti yang kamu harapkan”

Kalimat itu…… Aku senang mendengarnya! Semoga kali ini Lugie benar-benar mau berubah…

“Mulai malam ini dan seterusnya, aku akan lepaskan kamu, dan kamu bebas cari cowok lain yang bisa bikin kamu senang, yang bisa jadi seperti kamu mau,, dan yang pastinya bisa ngasih kamu perhatian melebihi yang aku kasih ke kamu.. You are free, now….”

Lugie menyelesaikan kalimatnya, ia tertunduk di hadapanku, dan lagi-lagi mengusap wajahnya.

Air mataku berlinang….

“Fine ! Aku bisa dapat yang 1000x lebih baik dari kamu!!” bentakku.

Air mataku menetes..
Aku berjalan menjauh dari Lugie..
Dan dia tak mengejarku..
Air mata yang sejak tadi sudah ku tahan, akhirnya tumpah juga.. aku terisak.. emosiku memuncak..

“’Lugiiiee … ! Bukan seperti ini yang aku mau !!!!!!” teriakku, dalam hati.

---

Aku berjalan tanpa arah, tak lama kemudian..

"Aku antar kamu pulang."  Lugie tiba-tiba sudah ada di belakangku, ia menggenggam pergelangan tanganku.

"Aku mau pulang sendiri.."

"Gak, aku yang akan antar kamu pulang!", ia mulai meninggikan intonasinya..

"ENGGAK! Aku gak mau pulang sama kamu!" dengan paksa kucoba melepaskan genggaman Lugie di pergelangan tanganku, namun usahaku sia-sia, cengkramannya sangat kuat. Kusadari pergelangan tanganku memerah, nyeri.


"Aku gak mungkin ngebiarin kamu, cewek sendirian pulang jam segini, ini udah tengah malam. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa!", genggaman Lugie semakin kuat.

"Oh, masih peduli kamu sama aku? Kamu lupa ya? Kamu itu bukan siapa-siapa lagi buat aku! Malam ini juga aku bisa kok dapat yang lebih baik dari kamu, ntar aku minta diantar pulang aja sama dia! Selesai, kan? Mending kamu lepasin tangan aku sekarang!"

"Jangan konyol ya Michell. Mungkin aku gagal buat jadi pacar ideal seperti yang kamu harapkan, tapi aku gak mau gagal sebagai seorang laki-laki. Aku gak mungkin membiarkan seorang cewek yang aku sayang berkeliaran sendirian tengah malam seperti ini! Aku yang tadi jemput kamu di rumah, aku juga yang akan antar kamu pulang."

Tutur panjang Lugie membuatku terdiam, sementara itu air mataku kian menetes. Baru kali ini aku tak dapat membantah perkataan seseorang. Ntahlah apa itu karena aku terlalu menyayangi Lugue, atau memang perkataannya tadi itu benar-benar membuatku tertegun?

Ingin rasanya aku berteriak !

Lugie menuntunku ke tempat dimana motornya diparkirkan, dan aku mengikutinya tanpa membantah sedikitpun.

Pikiranku campur aduk. Tak jelas ntah apa yang ada dipikiranku. Aku hanya ingin malam ini cepat selesai. Aku capek dengan pertengkaran ini.

Di perjalanan pulang, tak sedikitpun ada pembicaraan di antara kami. Lugie mengendarai motornya dengan kecepatan motor lebih dari 80km/h. Dan aku tak menghiraukan lagi hal itu. Aku tak peduli lagi jikapun akan mati konyol malam ini bersamanya. Sedikitpun aku tak berpengan pada Lugie, aku tak peduli meski aku akan terjatuh dari motor yang melaju dengan kecepatan cukup kencang ini. Air mataku masih menetes..

"Ya Tuhan, kumohon cepatlah selesaikan malam ini. Aku lelah...", doaku dalam hati.

Tak sampai 10 menit, kami tiba di rumahku.

Dan dalam hitungan detik setelah aku turun dari motornya, Luge langsung kembali menancap gas... Dan ia menghilang dari pandanganku, dalam hitungan beberapa detik saja...

Dan akhirnya, malam ini selesai juga...
Aku masuk ke kamar,, kurebahkan tubuh ini di kasur kesayanganku.. mataku terpejam seraya meneteskan butiran air mata... Akupun terlelap, dalam sekejap....

~
Esok paginya.....

Tok tok... -ada seseorang yang menggedor pintu kamarku. Dan ketika ku buka pintunya, sudah kutebak, mama yang ada di depan pintu itu. "Michell, mata kamu kenapa?", sontak mama kaget melihat mataku yang, yah... bengkak -__-

Aku kembali menutup pintu, tanpa menjawab pertanyaan mama...
"eh, kok ditutup lagi pintunya?", mama menahan pintu itu agar tak bisa kututup.

"Gak ada hal penting yang mau diomongin kan, ma?"

"Ada yang nungguin kamu dari tadi pagi tuh di depan.." jawab mama singkat kemudian meninggalkan aku begitu saja sebelum kutanya siapa yang dia maksud?

Dengan bermalas-malasan ditambah kepala yang sedikit pusing, aku berjalan keluar kamar dan membuka pintu utama rumahku. Ada Lugie disana, di teras rumahku. Aku tak kaget dengan kehadirannya.

"Chell."

Aku menggelengkan kepalaku. "Gak. Don't talk anyting 'bcause I won't hear that."
Aku berjalan perlahan menuju kursi tamu di teras itu, sedikit sempoyongan. Tangan kiriku memegangi kepala karena memang aku sangat pusing.

"Kamu sakit?"

"cuma pusing...."

"aku beliin obat ya"

"gak perlu, ada rasa sakit yang lebih parah di hati gue. and I'm fine, aku masih sanggup"

Lugie menatapku dengan tatapan penyesalan. Dan aku tau aku akan menangis. Ucapan-ucapan semalam kembali terdengar di kepalaku, membuatku semakin yakin untuk menangis.

Menyadari aku mengusap airmata, Lugie langsung menghampiriku, ia berlutut di hadapanku, memegangi wajahku, mencoba melihat apakah benar aku menangis. "Michell.."

"Jangan sentuh gue!"

Lugie tertunduk, iya menggenggam erat tanganku. "maaf", katanya dengan pelan.

"Kata maaf gak akan merubah semua kalimat kalimat  yang udah kamu ucapkan semalam"

"Aku sama sekali gak bermaksud kaya gitu, Chell. Aku gak mau kehilangan kamu."

"Harusnya kamu pikirkan hal itu sebelum kamu ngomong seenaknya semalam. Kamu gak tau kan gimana sakitnya waktu kamu nyuruh aku buat nyari cowok lain yang bisa jadi seperti yang aku mau?"

Lugie menangis, aku tak tega melihatnya. Aku tau ia sangat-sangat menyesal dengan perkataannya semalam. Tapi hatiku juga tak kalah sakit.

"Aku pengen kamu ngerti. Yang aku mau itu kamu, bukan yang lain! Aku mau kamu jadi orang itu, orang yang bisa membuat aku bahagia, bisa membuat aku nyaman, bisa membuat aku merasa lebih baik. Yang aku mau kamu, bukan orang lain. Aku sayang kamu Gie......"


Lugie memelukku. Aku tau ia menangis. Aku membalas pelukkannya dan berharap setelah ini semua akan baik-baik saja.

"Kasih aku kesempatan untuk merubah diri. Aku janji akan menjadi orang itu, orang yang kamu mau." kemudian ia menatapku.

"Kita lupain kejadian semalam, anggap cuma mimpi buruk, bunga tidur... Kamu mau kan sayng ? kiita mulai semua nya dari awal lagi"  Lugie mencium punggung tangan ku

"Kamu akan jadi orang itu, aku percaya sama kamu..."

Aku menangis, kuharap kali ini Lugie benar-benar akan merubah dirinya menjadi lebih baik. Karena aku tak inginkan yang lain.

aku memeluknya dengan erat..

"jangan pernah nyuruh aku buat nyari orang lain......"

Karena yang aku mau itu KAMU! Cuma kamu .. Bukan yang lain :')
Cuma kamu Gie …

.
----- the end -----








Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by