Aku tak pernah tahu mengapa bagianku berhenti begitu saja di angka itu.
Mungkin angka spesial, atau mungkin ada hal yang menimpa penyusunku selama ini.
Sebab, di akhir bagianku, tak kudapati lagi bara semangat dari penantian dan
pengembaraan yang melelahkan. Yang kutemui hanya kata-kata pasrah yang
menyedihkan tentang akhir sebuah kerinduan yang tak tertunaikan.
Namun dari hal itulah kisahku bermula. Bagian-bagianku dikumpulkannya
menjadi satu, di lipat, kemudian aku dibuatnya menjadi sebuah perahu kertas.
Ya, sebuah perahu kertas yang kemudian ia layarkan di antara aliran air sungai
yang begitu tenang. Aku berlayar bebas, meski sedikit oleng sebab beban yang ku
pikul; buku diary, dan sebuah kotak hijau yang entah berisi apa.
Aku terus berlayar dengan bebasnya. Senda gurau ikan-ikan di sekitarku,
aku acuhkan begitu saja. Aku terus berlayar, menembus setiap celah, melewati
berbagai rintangan dengan lincah. Tak jarang kulihat burung kakak tua yang
bertengger di pepohonan menatapku tajam. Ah, aku acuhkan juga dia begitu saja,
sama seperti yang lainnya.
Sampai di suatu tempat, kulihat dari kejauhan ada seorang wanita tengah
menikmati indahnya malam di ujung geledek sungai. Jarak semakin dekat, ia
seperti terkejut dengan kedatanganku. Ia bangkit perlahan, mengambil
rerantingan, lalu menggapaiku dengan hati-hati. Ia mengambilku, menatapiku,
lalu mengambil sesuatu yang sedari tadi membebaniku; diary dan sebuah kotak
hijau itu. Ia lantas membacanya di antara taburan bintang, diterangi bias
cahaya rembulan.
—
MeyP.O.V
Sebulan lalu, di antara cahaya rembulan yang sungguh begitu terang, aku
membaca terlebih dahulu diarymu di sini sebelum kubawa pulang. Esoknya, kujemur
terlebih dahulu perahu kertasmu itu sebelum membacanya satu persatu. Aku terkesima
membaca semua itu, Daniel. Seakan tak percaya bahwa akulah tokoh dari semua
catatan purnamamu.
Kemarin malam aku melayarkan kembali perahu kertasmu yang kuterima di
antara bias punama sebulan lalu. Hanya perahu kertasmu, Daniel, tidak dengan
diary dan kotak hijau itu. Tak lupa kutulis sebuah surat untukmu, agar kau tahu
bahwa aku akan menunggumu mulai malam ini dan entah kapan akan berhenti.
Kuyakini saja akan sampai padamu, meski teramat mustahil sebab dirimu yang
mungkin telah akrab kembali dengan aroma bukit Lancharan itu. Ya, seperti yang
kubaca di catatan purnamamu, kau tengah sakit dan hendak mengakhiri
pengembaraanmu mencariku dengan tetap membiarkan perasaan itu mendekam di
hatimu entah sampai kapan. Aku benar-benar ragu semua itu sampai padamu, namun
aku akan tetap menunggu. inilah imbalku atas sembilan tahun ketulusanmu
mempertahankan perasaan itu untukku.
Seharusnya kini kau telah sampai kembali di rumahmu. Sengaja memang
kuambil resiko ini. Kuterima suratmu sebulan lalu, namun kulayarkan kembali
padamu baru kemarin malam. Namun kulakukan semua ini bukan tanpa alasan. Ya,
seperti katamu, purnamalah yang membuatmu tetap mempertahankan rasa itu, dan
membuat perahu kertasmu benar-benar sampai di tanganku. Maka dari itu, kutunggu
purnama selanjutnya untuk kembali melayarkan surat-suratmu. Barangkali saja
ucapanmu benar. Siapa tahu?
Aku mendongak perlahan, menatapi rembulan yang bersinar terang di antara
taburan gemintang. Cahayanya berpendar di atas riak air sungai yang mengalir
cukup tenang seakan menyiratkan sebuah keindahan. Semoga saja kau datang malam
ini sesuai dengan munajatku pada Tuhan, juga pada purnama yang bersinar indah
kemarin malam.
Malam ini, seperti biasa aku menghabiskan waktu sendiri di ujung geledek
ini. Sambil menatap gemintangku, juga rembulanmu yang membentuk galaksi padu.
Aku akan tetap menantimu sejak malam ini, dan malam-malam berikutnya hingga
waktu tak mengizinkanku lagi. Bukan karena apa-apa, namun aku merasa perasaanmu
itu tulus untukku sehingga kau berani berlama-lama menantikanku. Maka dari
itulah aku akan menunggumu, semoga saja kau datang malam ini, jika tidak,
semoga secepatnya kau akan datang temani sepiku ini. Aku akan menunggumu,
Daniel. Meski teramat mustahil kau datang, aku tetap akan menunggumu. Inilah
tekadku.
—
Daniel.pov
Sejak sembilan tahun lalu aku memang telah bertekad untuk menunggumu.
Waktu demi waktu kujalani dengan tetap memendam rasa ini. Rasa aneh yang
perlahan menjalar diam-diam dalam hati, menciptakan kerinduan dan kegelisahan
menyenangkan selama ini. Berawal dari tatapan tak di sengaja waktu kita sekelas
di sekolah dasar dulu, hingga kini, rasa di hatiku ini tak pernah sedikit pun
berkurang padamu. Rasa ini masih sama seperti dulu, Mey.. waktu senyumanmu
masih begitu lekat di mataku.
Setelah dipikir-pikir, untung saja penyakit ini menimpaku sejak sebulan
lalu. Jika tidak, aku akan cepat sampai di rumah dan takkan pernah mendapatkan
lagi kesempatan se-luar biasa ini. Seperti katamu, mungkin ini hanya kebetulan
saja, atau mungkin Tuhan telah menakdirkannya jauh sebelum diciptakannya
manusia. Namun satu hal yang tetap kuyakini Mey, Tuhan juga pasti tahu tentang
hati kita dan takkan selamanya membuat kita kecewa.
Telah kubaca dengan sempurna suratmu yang kau kirimkan bersama perahu
kertasku. Dan telah dapat kubayangkan, kini kau tengah menatapi rembulan
sendiri di ujung geledek itu sembari mendekap erat buku diary dan kotak kecil
hijau dengan memendam satu harapan, agar aku datang menemuimu malam ini. Aku
akan mewujudkan harapan itu sebentar lagi. Tunggulah aku, tinggal beberapa desa
saja yang belum kulewati. Terus berjalan ke hulu, bergegas menemuimu yang
tengah menantikanku, sebagai akhir menyenangkan dari penantian dan
pengembaraanku yang tak lagi mengenal waktu. Bersabarlah, Mey. Aku akan segera
datang menemuimu.
—
Mey pov.
Aku akan tetap bersabar menantimu. Meski kau takkan datang malam ini,
mungkin di malam-malam berikutnya Tuhan kembali memberi keajaiban seperti
halnya perahu kertasmu yang benar-benar sampai ke tanganku.
Daniel POV
Di antara deru nafasku yang mulai memburu, ada satu kata yang entah
mengapa terbersit begitu saja dalam otakku. Ketulusan. Mungkin di sana kau
tengah bergumam tentang ketulusanku mempertahkan rasa ini untukmu.
Mey POV
Aku masih mengingatmu dengan sempurna. Begini-begini, aku juga tipe orang
yang tak mudah melupakan kenangan. Banyak sekali kenangan yang masih membekas
di otakku, terutama saat kau membelaku dulu. Aku lantas tersenyum padamu yang
membuatmu kemudian menyimpulkan senyum kecil untukku. Bahkan, dulu aku sudah
tahu bahwa sebenarnya kau menyukaiku, Daniel. Kutahu hal itu kala kuperhatikan
wajahmu yang selalu saja murung sejak aku menjalin hubungan dengan sahabatmu
yang tak tahu diri itu. Aku tahu semua itu. hanya saja dulu, aku tak yakin pada
perasaanku. Aku hanya bisa menerima apa adanya dan menjalani hidup sebagaimana
biasa.
Ah, tampaknya kau takkan datang malam ini, atau mungkin bahkan kau juga
takkan datang di malam-malam berikutnya. Tapi aku akan tetap menunggumu sesuai
tekadku, sampai waktu tak memberikan kesempatan lagi untukku.
Daniel P.O.V
Aku harap, kau masih menantikanku di geledek sungai yang memanjang itu.
Malam segigil ini, aku khawatir kau akan pulang lebih awal. Namun aku tetap
pertahankan keyakinanku, bahwa kau akan tetap menungguku untuk melewati malam
bersama, menyaksikan rembulanku, juga gemintangmu yang membentuk galaksi padu.
Aku sudah dekat. Mungkin beberapa menit lagi aku akan sampai. Kubuka
ranselku, mengeluarkan beberapa kertas yang memang sengaja akan kupersembahkan
padamu. Bukan catatan purnamaku. Sudahlah nanti kau akan tahu. Aku hanya ingin
tahu saja bagaimana reaksimu membaca semua ini. Ah, aku jadi tak sabar ingin
menemuimu. Aku pun meneruskan langkah dengan cepat seiring dengan tarikan nafas
yang tak lagi beraturan.
—
Mey P.O.V
Sepuluh menit telah berlalu, kau tak mungkin datang malam ini. Aku akan
pulang dan meluapkan sedikit kecewaku ini dengan membaca diarymu lagi hingga
aku terlelap, sampai aku menutup mata dengan sejuta harapan agar kau datang
dalam mimpi indahku.
Daniel P.O.V
Aku tidak akan membuatmu kecewa. Tunggulah aku sebentar lagi, aku hampir
sampai. Kita akan melewati malam ini bersama di antara cahaya-cahaya yang
berpendar pada air sungai yang mengalir begitu tenang.
Aku tertunduk lemas di ujung geledek ini. Semuanya seakan musnah perlahan;
harapan-harapan itu, bayangan-bayangan yang sedari tadi berkelebat di
hadapanku, serta bisikan-bisikan aneh seperti suaramu, semuanya perlahan runtuh
satu per satu. Mungkin inilah takdirku, seseorang yang terus menunggu di antara
kekecewaan yang hadir silih berganti, datang dan pergi.
“Aku tak menyangka kau benar-benar
datang malam ini, Daniel. Ia aku mau”
Aku menoleh ke asal suara. Ada yang damai di jiwaku seketika…
Penantian ku …
Aku percaya cinta itu benar benar ada
Karna hati tak perlu memilih, dia tau kemana harus berlabuh bukan ???


Tidak ada komentar:
Posting Komentar