Senin, 13 Mei 2013

a Last Promise .. will u marry me ??





Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Daniel meskipun dia sering menghianati cintaku.

Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”

Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.

“Maafin aku Ris, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Ris. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Daniel, aku sangat mencintainya.

Malam ini Daniel menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Daniel dan berdandan secantik mungkin. Kutemui dia di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

“Clarissa, kamu cantik banget malam ini.”

“Makasih. Kita jadi dinner kan?”


“Ya tentu, tapi Ris, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”

“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Daniel. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Daniel menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahunya menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Daniel perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Daniel benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Daniel, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan. Tapi .. ya sudahlah,aku ikuti saja kemauan nya.

“Kenapa El? Mienya gak enak?”

“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Ris?”

“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”

Aku yakin, Daniel gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Daniel mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Daniel bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Daniel sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali dirinya berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Daniel. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Daniel Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”

“Yakin di kantong gak ada?”

“Gak ada. Gimana dong?”

“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”

“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”

**


Saat di kampus, aku bertemu dengan Meylin dan Gladys. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Meylin menarik tanganku.

“Rissa, lo sakit? Ko pucet sich?”

Meylin bicara padaku, ini seperti mimpi, Meylin masih peduli padaku.

“Engga, Cuma capek aja ko Mey. Kalian apa kabar?”

“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Daniel! Jangan-jangan dia gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”

“uda deh Dys! Kasian Clarissa ! lo kenapa sich bahas itu mulu?

“Udah lah Mey, lo diem aja! Harusnya lo tuh ngaca Ris! Kenapa lo diselingkuhin terus sama pangeran lo itu!”

Edys bener, jangan-jangan Daniel gak sayang sama aku, Daniel gak cinta sama aku, itu yang buat dia selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai dia dan takut kehilangan dia.
Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Daniel padaku. Jika benar dia tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Daniel bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Daniel menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Gladys….

Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Daniel. Akan ku pastikan, apa Daniel akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubunginya.

“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”

“aduh sory syang, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”

“Emang kakak kamu mau kemana El?”

“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”


“ Sejak kapan lo mau nganter kakak lo belanja? Sejak Gladys jadi kakak lo? Hah?!!”

“Clarissa, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”

gw liat sendiri lo jalan sama Gladys El! Lo gak usah bohongin gw! Kali ini gw gak bisa maafin lo El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Gladys El? GW BENCI SAMA LO! Mulai sekarang gw gak mau liat lo lagi! Kita Putus El!”

“Rissa, ini gak…….”


Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Daniel tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Mama dan Papa mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Daniel, meskipun aku tau itu tak mudah. Hubungan yang selama bertahun tahun luar biasa aku pertahankan, akhir nya kandas juga dengan ara tragis seperti ini. kenapa harus Galdys ?? kenapa bukan yang lain.
Setiap hari Daniel datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Daniel sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkannya lagi, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Daniel yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Daniel. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Daniel ada dihadapanku.

“Maafin gw Ris! gw sama Gladys gak ada hubungan apa-apa. gw Cuma nanyain tentang lo ke dia Ris!

“Kita udah putus El! Jangan ganggu gw lagi! Sekarang lo bebas! lo mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan gw!”

“Tapi Ris…..”


Aku berlari meninggalkan Daniel, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Daniel terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
 
“Daniieeelllll…..”

Daniel tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.

“Daniel, maafin gw!”

“Ris. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”

“Danieeelllll……”

Daniel meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Daniel semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Daniel menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.

Rasanya ingin sekali menemani Daniel didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

**
Tak terasa satu minggu sudah berlalu.
Daniel meninggal .. itu gk mungkin . Daniel masih hidup. Aku sayang sama kamu. Aku mau nikah sama kamu. Aku sayang sama kamu. Kamu masih hidup El. Tolong temui aku…
Aku masih terus mengulang ulang kalimat itu. aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Daniel yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapan mata nya, takkan pernah bisa kulupakan.

“Rissa sayang, ini ada titipan dari Ibunya Daniel. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Daniel tenang di alam sana. Mama yakin kamu bisa sayang!”

“Ini salah aku Ma. Aku butuh waktu. Aku mau sendiri”

Kubuka bingkisan dari orang tua Daniel, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Semua nya merah, seperti warna kesukaan ku.
Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

Dear Clarissa,
sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Bukan yang lain. Malam itu aku pergi dengan Gladys, Cuma untuk nyiapin ini semua buat kamu ..
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu sayng. Aku gak ingin pisah sama kamu. Cuma takdir kematian yang akan bisa memisahkan cinta kita. Selama nya hati ini Cuma buat kamu.
Clarissa Amanda ..
Mau kah kamu menikah dengan ku ……
Jika jawaban nya ia, tersenyumlah .


Love You
Daniel


Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Daniel, aku berlari menghampiri Mama dan memeluknya.

“Ma, Rissa udah nikah sama Daniel !”

“Rissa, kenapa sayang?”

“Ini!”
Kutunjukan cincin pemberian Daniel yang melingkar dijari manisku.

“sayang kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!” Mama ikut menangis melihat ku seperti ini.

“Sekarang aku mau cerai sama Daniel Ma!”
kulepas cincin pemberian Daniel dan memberikannya pada Mamaku.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan Daniel ya Ma.. Mama harus janji untuk menjaganya dengan baik! Sampai nanti Tuhan akan mempertemukan Rissa dengan Daniel. Dan saat itu juga Mama harus memakaikan cincin itu ke jari Rissa lagi. Janji ya Ma”

“kamu gk boleh ngomong gitu sayng.  Kamu harus kuat”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.


Daniell … ia aku mau nikah sama kamu ~


 

THE END ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by