Namaku Gisella, biasa dipanggil Gisel.
Setidaknya itu panggilan akrab dari sahabatku yang sangat aku sayangi. Gladys
Aku dan Edys sudah bersahabat sejak
kelas 1 SD, dan sampai sekarang kita gak pernah pisah. Selalu bersekolah di
sekolah yang sama. Dan sekarang kita sudah kelas 3 SMA.
Layaknya persahabatan lain, tak ada
rahasia antara aku dan Edys. Segala hal apapun kita selalu berbagi. Baik itu
tentang keluarga, maupun kisah cinta. Benar-benar tak ada yang kami
tutup-tutupi. Pokoknya gitu deh, aku sayang sahabatku. Indahnya persahabatan
kami, benar-benar indah hingga rasanya tak ingin perasahabatan ini
diganggu-gugat oleh siapapun.
Semua baik-baik saja, sebelum akhirnya
Edys jadian dengan seorang cowok bernama Nathan. Cowok itu sekelas sama kami.
Nathan merupakan ketua kelas dan Edys
adalah sekertaris kelas kami. Mereka memang dekat, dan mereka cocok. Nathan
cakep dengan kulit putih dan lesung pipi di wajahnya, begitupun Edys, cantik
dengan kepribadiannya yang cukup menarik.
Aku senang ketika mengatahui Nathan
dan Edys jadian. Hanya saja aku sedikit takut. Aku takut Edys akan terlalu
sibuk dengan pacarnya nanti, kemudian mengabaikan aku.
Setelah 1 bulan mereka jadian, hal yang
kutakutkan pun terjadi. Edys mulai sibuk dengan kisah percintaannya sendiri.
Sesekali ia mulai cuekkin aku. Dan tak jarang ia lebih mementingkan Nathan
daripada aku. Aku cemburu! Dulu Edys selalu ada untukku, tapi sekarang………. Ah
sudahlah, aku harus belajar menerima kenyataan bahwa memang kini Edys sudah
punya pacar.
Sampai akhirnya suatu hari.... Nathan
dan Edys bertengkar gara-gara sesuatu yang aku gak tau kenapa. Waktu itu
tiba-tiba Nathan menghubungi aku, ngajak ketemuan, katanya mau ngebahas sesuatu
soal Edys. Katanya PENTING! Tapi jangan sampai Edys tau soal pertemuan ini.
Karena katanya PENTING, akhirnya aku
turuti apa kata Nathan. Kita ketemuan diam-diam tanpa sepengetahuan Edys. Waktu
itu sebnarnya aku ngerasa bersalah karena tak memberitahu Edys mengenai
pertemuan ini.
Aku dan Nathan ketemuan di sebuah
Mall. Waktu itu dia,, cakep banget!! Penampilannya beda dari biasanya. Aku
sempat kaget dengan penampilannya yang menurutku cukup maksimal. Jujur saja, ia
membuatku tertarik.
Setelah ketemu, Nathan menyapaku
dengan senyuman. Gak munafik deh, dia itu emang cakep. Beruntung Edys bisa jd
pacarnya.
Tapi anehnya, tampang Nathan saat
bertemu aku biasa-biasa saja. Tak ada tersirat kesedihan / kegalauan di
wajahnya. Padahal kan katanya lagi bertengkar sama Edys. Tapi kenapa dia
terlihat baik-baik saja?
"Makasih ya udah mau datang,
kirain lo gak bakalan datang.." Kata Nathan.
"Apapun yang menyangkut sahabat gue,
gak mungkin gue abaikan, than" kataku, kemudian Nathan tersenyum,
membuatku rasanya ingin meleleh. Kekasih sahabatku ini memang benar-benar
manarik.
"Langsung to the point aja,
lo mau bicara soal apa? Ada apa antara lo dengan Edys?? Dan kenapa lo gak mau
Edys tau tentang pertemuan kita hari ini?" Tanyaku.
"Duh Gisella, lo itu kaku banget
ya. Mending sekarang kita makan dulu, gimana??" Ajak Nathan. Dan aku tak menolak,
jam 7 malam, emang waktunya makan malam sih.
Dan malam itu berakhir begitu saja,
sementara itu Nathan gak cerita apapun soal dia dan Edys. Kita cuma makan,
terus main di TimeZone, ice skating, dll.
Walaupun agak bingung, tapi jujur saja
aku senang! Siapa sih yang gak senang diajak main, makan, sama cowok secakep
Nathan??
Ya ampun, sadar Gis! Dia kan pacar
sahabat lo sendiri!!
Sejak pertemuan malam itu, aku dan
Nathan jadi semakin ‘dekat’, kami sering SMSan, teleponan, BBMan, dan semua itu
tanpa diketahui oleh Edys.
Perlahan tapi pasti, kusadari aku
mulai menyukai Nathan! Gak seharusnya seperti ini. Nathan itu pcarnya Edys,
sahabatku sejak kecil! Tapi hati ini...
Hati gak bisa bohong.. Aku mencintai
Nathan.
Gladys,, maafkan aku..
***
3 bulan sudah aku menjalin hubungan
diam-diam dengan Nathan dibelakang Edys.
Aku menikmati semua ini. Seperti yang dijanjikan Nathan, semua akan baik-baik
saja.
Sampai akhirnya saat malam valentine
kemarin. Edys mulai curiga ada sesuatu yang kusembunyikan darinya. Malam itu,
di sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu teman kami, Nathan melakukan
kesalahan yang fatal.
Nathan datang ke pesta tersebut bersama
Edys, dan aku datang sendiri. Saat di pesta, kita ketemu dan ngobrol seperti
biasa. Dan saat ada kesempatan, Nathan mulai nakal
Saat Edys lengah, Nathan diam-diam
mengajakku ke tempat yang agak sunyi di sela-sela pesta valentine tersebut. Dan
betapa senangnya aku ketika dia ngasih aku cokelat. Jujur aku senang banget.
Nathan adalah cowok pertama yang ngasih aku coklat di hari valentine. Ini
membuatku semakin sulit untuk melepaskannya.
Dan malam itu, Nathan menciumku. Mencium
bibir ini. Itu adalah ciuman pertamaku. Dan aku, bahagia. Namun sedih juga …….
Saat aku dan Nathan sedang menikmati
ciuman pertama kami, betapa memalukan ternyata Edys melihat apa yang sedang
kami lakukan. Edys melihat hal indah yang kualami bersama kekasihnya itu.
"Gisell?!", suara Edys
terdengar parau. Aku dan Nathan terdiam. Nathan menatap Edys dengan wajah
cemas, takut, ya seperti maling yang ketahuan sedang mencuri. Panik.
Edys menangis saat itu juga, aku bisa
melihat airmatanya menetes. Tapi saat Nathan ingin menghampirinya, aku malah
mencegah! Seolah-olah tak ingin Nathan pergi dariku.
Edys kaget saat melihatku menahan Nathan
agar tetap berada di dekatku. Kugenggam erat tangan Nathan. Dalam hati ini
rasanya aku benar-benar Gila!
Aku sudah terlalu mencintai JONATHAN
dan aku tak mungkin mudah melepaskannya!
Kusadari saat itu Edys terlihat
benar-benar terpukul, ia lagsung pergi begitu saja. Dan Nathan tak berkutik
sedikitpun karena aku menggenggam tangannya sangat erat.
Kusadari, aku benar-benar sudah jahat
pada Edys. Namun mau bagaimana lagi? Aku pun mencintai Nathan, aku tak mau
kehilangan Nathan!
"Gis, lo kenapa sih?? Lo gak liat
tadi itu Edys,,,"
"Udah biarin aja! Mungkin emang
sudah saatnya dia tau soal hubungan kita!" bentakku pada Nathan.
"apa?? Lo gila ya?” Nathan
menatapku seolah-olah ingin menerkamku. Aku tak tau apa yang ada dalam
pikirannya.
Malam itu aku kacau.
“Than, lo cinta kan sama gue!?
Yaudahlah, biarin aja dia tau. Dan gue mau lo putusin dia!" Nathan
terlihat tak percaya dengan kata-kataku tersebut.
Dan Nathan menuruti apa kataku. Ia tak
mengejar Edys, ia tetap berada di dekatku, kemudian memelukku. Malam itu juga,
aku merasa Nathan adalah milikku seutuhnya. Tanpa kepura puraan lagi. Tanpa
harus di tutup tutupi.
Malam itu berakhir begitu saja.
Meskipun ada sedikit perasaan bersalah pada Edys, tetap saja aku lebih merasa
bahagia karena akhirnya Nathan menjadi milikku seutuhnya.
Aku tau ini gila, aku tau ini tak
wajar, aku tau aku salah. Apa yang kulakukan pada Edys sudah benar-benar
kelewatan. Tapi aku tak dapat melawan hati ini. Aku mencintai NATHAN!
***
Keesokkan harinya di sekolah, Edys gak
masuk. Tak ada kabar apapun dari Edys, dan aku mulai tak peduli dengannya. Yang
ada di pikiranku sekarang cuma 1, JONATHAN !
Selama seminggu, Edy tak ada kabar.
Aku tak peduli. Seisi sekolah mulai bertanya-tanya padaku ada apa antara aku
dan Edys, tapi tak pernah kujawab.
Setalah beberapa minggu tanpa kabar,
akhirnya aku mendapat berita dari wali kelas kami bahwa Edys pindah sekolah.
Gila aja, padahal sebentar lagi UN!!
Dia malah pindah sekolah. Tapi ya, bodo amet lah, yang penting
sekarang Nathan pacarku. Aku bahagia….
Waktu berlalu begitu cepat. Ujian
Nasional pun sudah berlalu. Aku lulus, kami lulus. Dan hubunganku dengan Nathan
masih baik-baik saja. Kami memutuskan untuk masuk di satu Universitas yang
sama. And finally , kami di terima, walaupun gak satu fakultas tapi hubungan ku
dengan Nathan selalu baik baik saja. Tetap romantic, tanpa peduli bagaimana
pengorbanan Edys di balik ini. Edys ??? aku mulai teringat satu nama.
“sayang” aku memanggil Nathan . tapi
tak ku lihat ada respon sedikit pun dari dia. Mungkin suara ku terlalu pelan aku bergumam dalam hati
Beberapa hari terakhir ia terlihat
sedikit aneh, seperti ada yang disembunyikan. Namun aku tak begitu peduli
karena menurutku yang penting dia milikku, sampai detik ini dia masih
pacarku….
Sampai suatu hari, tiba-tiba Edys
datang ke rumahku.
Aku kaget melihatnya sudah ada di
kamarku. Ia duduk di ranjangku, mengenakan kaos oblong berwarna putih,
tersenyum. Cantik… sahabatku ini memang cantik.
Ah, apa aku masih pantas disebut
sahabatnya?
Dan jujur saja, melihat Edys
tersenyum, aku langsung merasa bersalah! Tapi aku mencoba mengabaikan rasa
bersalahku. Lgsung saja kutanyakan padanya, mau apa dia datang ke rumahku.
"Edys? Apa kabar? Tiba-tiba
ngilang, sekarang muncul disini. Ada perlu apa?", tanyaku dengan sedikit
canggung.
Edys masih tersenyum. "hai Gis.
Gue kangen sama lo.."
Kangen? Ya Tuhan, Edys Kangen sama
aku? Edys kangen sama orang yang sudah merusak hubungannya dengan Nathan???
Edys, lo itu ! Ahhhh aku benar2 merasa
terpukul mendengar ucapan Edys tersebut.
"Gue juga kangen sama lo, Dys..",
air mataku ingin menetes, akan menetes.. Yah ! Menetes sudah! Aku menangis di
hadapan Edys yang tersenyum?!
Edys langsung memelukku, dan airmataku
pun tumpah dengan seketika. "Maafin gue ya Gis, harusnya gue gak ngilang
gitu aja. Seharusnya gw bisa tetap nemanin hari hari lo. " .. Ucap Edys..
Aku kaget, ya ampun Edys, harusnya yg
minta maaf kan Gue??! "Dys, gue .. Gue bener bener.."
"sudah, gak usah bahas soal itu,
gue udah gak peduli lagi kok"
Eyds menatap mataku, lalu berkata
lagi.. "Gisell, malam itu, sebenarnya gue bukan kaget melihat kenyataan
bahwa Nathan selingkuh sama lo. Mengenai Nathan, gue bisa paham. Cowok jaman
sekarang mana ada yang bisa %100 setia. Apalagi kalau deket cewek cantik kaya lo..",
aku terdiam mendengar Edys menuturkan kata-katanya.
"Waktu itu, yang bikin gue gak
percaya, yang bikin gue benar-benar kaget. Kenapa cewek itu harus lo?? Kenapa
harus sahabat terbaik gue???" aku terenyah, dadaku terasa sesak.
"Gue sempat berharap malam itu
cuma mimpi. Gue berharap semua itu gak pernah terjadi. Gue gak mau lo ngelakuin
semua itu, gue gak mau Gisel... lo itu sahabat terbaik gue. Sahabat terbaik
yang pernah gue miliki" intonasi Edys datar, suaranya terdengar miris
namun tegar.
Aku menangis, airmataku kian menetes.
Sekarang aku merasakan penyesalan yang sedalam-dalamnya.. Edys sahabat
terbaikku, tega aku menyakitinya.. aku benar-benar jahat!
"Gisella, kalo emang lo
benar-benar cinta sama Nathan. Gue rela kok. Apa sih yang gak buat sahabat
terbaik?" Edys mulai meneteskan airmata, sambil tetap tersenyum.
"Bagi gue, gak ada yang lebih
penting daripada kebahagiaan seorang sahabat. Meski lo tega nyakitin gue, tetap
aja lo itu sosok yang pernah mengindahkan hidup gue" lanjut Edys.
Spontan aku langsung memeluk Edys.
"Dys, maafin gue!!" Airmataku tumpah.
"lo gak perlu minta maaf, gue uda
maaffin kok" Edys tetap tersenyum dan mengusap airmata yang menetes di
pipinya.
"Tapi kenapa waktu itu lo
langsung pergi, terus ngilang gitu aja, Dys?” tanyaku sedikit membentak.
"karena itu kebahagiaan Lo. Jawab
jujur, lo senang kan bisa memiliki Nathan seutuhnya?” pertanyaan ini membuatku
rasanya ingin membenturkan kepala ke tembok.
Ya Tuhan, Gladys bahkan tau soal itu.
Soal betapa aku senang karena bisa memiliki Nathan seutuhnya. Rasanya aku
benar-benar tak percaya bahwa aku sudah sejahat itu pada Edys. sahabatku sejak
SD!
"Gisella, skrg lo denger gue
baik2.." Edys menatapku serius.. "Sekarang lo temui Nathan di rumah
orangtuanya, ada sesuatu yang harus lo ketahui soal dia.." Lanjut Eyds..
Aku jadi penasaran.
"Yaudah, kita pergi bareng ya
Dys,, gue juga mau minta supaya Nathan minta maaf sama lo.."
"sorry gue ga bisa. Semua nya uda
beda sayng, sekang lo harus tau yang terbaik buat lo.."
"loh knapa??"
"Udah, mending sekarang lo buruan
mandi! Jangan sampai telat. Pokoknya hari ini juga lo harus ke rumahnya Nathan”
Edys memaksaku, dan aku pun berlalu ke kamar mandi. Aku penasaran, ada apa
dengan Nathan?
Seusai mandi, Edys sudah tak ada di
kamarku. Ahh !! Aku benar-benar kesal.. Mana aku gak tau no hp barunya..
Setelah mengenakan pakaian, aku
langsung keluar kamar. Dan ketemu sama Mama yang sedang membaca majalah di ruang
tamu.
"Ma, Edys udah balik ya?"
Aku langsung nanya ke Mama, tapi mama malah terlihat bingung... "Ma, jawab
donk.. Edys nya mana?"
Mama menatapku serius, “Edys temen
kamu yang dari SD itu?"
"iya ma, Edys sahabat aku yang
itu… yang centil itu… siapa lg?"
"Gisella, dia kan udah gak
ada...?"
Hah??!
"Gak ada gimana? Maksud Mama
apaan sih?!"
"sayng, kamu lupa? Dia kan
kecelekaan pesawat 2 hari sebelum kamu Ujian Nasional. Waktu itu mama kan sudah
bilang sama kamu?"
Ya ampun.. Aku lupa.. Sumpah aku gak
ingat soal apa yang barusan mama bilang.
"Ma, jadi Gladys yang waktu itu
mama bilang, itu adalah Edys sahabat aku??" Aku panik.
Mama terlihat was-was..
"Gak, mama pasti bohong! Tadi
Edys ada disini, Ma! Dia bareng aku. Tadi aku sempat peluk dia, Ma!! Mama
jangan main-main donk! Gak lucu!" aku histeris, air mataku kembali
menetes. Masih dalam keadaan tak percaya.
Mama memelukku. Aku bingung.
Dulu memang sebelum UN mama pernah
bilang ada salah satu temanku yang meninggal karena kecelakaan pesawat, tapi
aku tak sadar jika yang di maksud mama saat itu adalah Gladys. Gladys Gravita
Alea sahabat aku ! Mungkin karena saat itu aku terlalu sibuk dengan Nathan.
Hingga mengabaikan banyak hal…..
Kemudian kurasakan kepalaku pusing,
canda tawa, senyum, serta tangis Edys yang kulihat dikamar tadi, bahkan
pelukkan Edys, semua terasa terlalu nyata! Semua terbayang jelas dipikiranku!!
Jadi yang di kamarku tadi..
Air mataku lagi-lagi tumpah di pelukan
mama...
Betapa bodohnya aku!! Semua gara-gara
aku! Andai perselingkuhan itu tak pernah terjadi… Edys gak perlu pindah
sekolah, ia gak perlu naik pesawat keluar negri. Dan pastinya kecelakaan itu
gak akan dia alami!! Semua gara-gara aku !
Aku menyesal !! Sangat!! Gladys sekarang
sudah tak ada!! Bodoh!
"Mama , aku benar-benar ngerasa
bersalah sama Edys !!", mama memelukku.
"Sella sayang, tapi apa benar
tadi kamu bicara sama Gladys?"
"benar ma.. Tadi dia ada di kamar
aku..." Isak tangisku kian menjadi-jadi..
"Itu pasti... Hmmm.. Sel, apa dia
menyampaikan pesan? Atau sesuatu??" Tanya mama, aku pun ingat.. Edys
memintaku untuk menemui Nathan.
"Ma, aku harus pergi
skrg...", aku melangkah mendekati pintu, tapi kepalaku semakin pusing..
Tak lama kemudian aku tak sadarkan diri....
****
Saat kubuka mata, aku sudah terbaring
di ranjang rumah sakit. Mama bilang aku tak sadarkan diri selama 2 hari. Aku
memperhatikan ruangan tempatku dirawat, dan kulihat sudah ada beberapa teman
kuliahku disini, tanpa Edys.
Tapi dimana Nathan?? Apa dia gak tau
kalau aku masuk rumah sakit? "Ma, Jonathan mana?", tanyaku pada
mama..
Mama menatapku sayu. Begitu juga
dengan teman-temanku. Mereka menatapku dengan tatapan tak tega. Ada apa lagi
ini??
"Sella sayang, kamu yang sabar
ya..." Mama memelukku.
"Ada apa ma? Ini kenapa sih??
Jonathan mana??!"
"Jonathan sudah menikah dengan
orang lain sayang.." Jawab mama. Dan aku lagsung, tertawa.
"Hahahaaa! Mama apaan sih gak
lucu".
Aku tertawa, tapi kenapa yang lain
tidak.. ?
"Ma, ini becandakan? Gak mungkin
Nathan nikah dengan orang lain. Pacarnya itu aku, Ma!"
Mama terdiam, kemudian aku menatap ke
arah teman-temanku. "Tolong jelasin ke gue!! Ini bohong kan?! Nathan itu pacar gue!!" Aku membentak
mereka.
Mama memelukku lagi.. "Gisella
sayang, Jonathan itu brengsek!! Dia sudah menghamili anak gadis orang!! Mama
bersyukur bukan kamu gadis yg dihamili itu…" aku terdiam heran.
"Di hari kamu bertemu dengan
Gladys kemarin, Gladys memnita kmu untuk menemui Nathan di rumahnya, kan? Itu
agar kamu bisa melihat lagsung pernikahannya...", lanjut mama. "Edys
mau tunjukkin ke kamu bahwa Nathan itu bukan cowok baik-baik sayang",, aku
menangis tak percarya.
"Mama ini bohongkan???"
Airmataku menetes.
Aku bener-benar merasa bodoh!!
Inilah akhir dari pengkhianatanku!!
Persahabatanku hancur, Edys pergi
untuk selamanya.. Dan Jonathan, lelaki yang aku banggakan menikah sama orang
lain? BODOH!!!!!!
‘Gladys maaffin aku………..’
~the end~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar