Jumat, 20 September 2013

Mungkin Bukan Aku..

Mungkin Bukan Aku
Chapter I
“Bahagia itu milik kita. Tak ada hubungannya dengan mereka”

Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X7 meter dengan tulisan “Welcome to Don Boscho Senior hight International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Marsha Rafdelista Shafira. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Syarif yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Syarif. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini.
Gadis paling dipuja se-Dobosh SHIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.
                “Pagi Sha!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.
                “Pagi juga Vin!” Balasnya sembari mengulun senyuman termanisnya kepada pemuda jakung berkulit putih yang sedang duduk manis dibangkunya. Alvino Dinata Bastian. Putra mahkota ‘Bastian Corp’. Raksasa bisnis kedua setelah ‘Syarif Corp’ yang merupakan mitra kerjanya. Wajah yang tampan, kapasitas otak yang menujang, segudang prestasi didunia basket dan golf, nama belakang keluarga yang sudah termasyur, dan ditunjang dengan sifat ramah yang selalu dipamerkan kepada setiap orang membuat pemuda ini tampak begitu istimewa dan selalu menduduki grade teratas dihati kaum hawa di Do-bosh SHIS. Pemuda yang merupakan teman masa kecil Marsha, dan entah apa rencana Tuhan mempertemukan mereka kembali di sekolah ini.
                Marsha menyudahi perhatiannya kepada Vino. Dia melangkah menuju pojok ruangan dimana sedang duduk seorang pemuda jakung berkulit sawo matang dengan kaca mata tebal yang selalu menghiasi matanya. Jonathan … B. Seseorang yang mungkin bisa dikatakan satu-satunya siswa yang berpenampilan paling sederhana di sekolah ini mengingat status International School yang disandangnya. Sesosok pemuda sederhana dengan kapasitas otak yang -mungkin bisa dikatakan -mirip dengan Einstein. Seseorang yang selalu mampu membius Marsha dengan setiap rangkaian kata yang diucapkannya. Seseorang yang selalu menjadi tempat pelarian Marsha ketika mendapat masalah karena dia selalu berhasil mendamaikan hati Marsha.
                “Pagi Jo!” Sapa Marsha kepada Jonathan. Lalu dengan santai dia duduk dibangku tepat didepan Jo lantas kemudian dia menatap mata Jo lekat-lekat. Mencoba menguak seluruh rahasia yang tersembunyi dibalik kacamata tebal dan rambut klimis pemuda itu. Rahasia yang hingga detik ini mungkin hanya Jonathan dan orang-orang yang berperan didalam hidupnya lah yang mengetahuinya. Marsha mengenal Jonathan cukup dekat selama dua tahun terakhir ini. Namun rupanya Marsha belum mampu menyibak identitas lengkapnya. Identitas yang menyembunyikan banyak rahasia yang akan sangat mudah diketahui andai Marsha bisa mengetahui nama belakang yang disandang pemuda itu. Nama belakang yang tidak pernah digembar-gemborkan kepada siapapun. Karena Jonathan lebih suka memakai inisial ‘B’ untuk nama belakangnya. Sebenarnya Marsha tak pernah memperdulikan siapa Jonathan maupun orang-orang yang dia kenal. Namun sepertinya Jo telah menyimpan sebuah rahasia besar didalam dirinya yang menarik untuk diketahui.
                “Tumben pagi-pagi udah datang Sha,” Jonathan mulai mengangkat suara yang seketika langsung membuyarkan lamunan gadis itu.
                “Emang nggak boleh Marsha datang pagi?” jawabnya dengan nada sedikit gelagapan namun dia segera berusaha menguasai dirinya dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
                “ya boleh lah bawel .. Justru itu lebih bagus,” respon Jonathan. Gadis itu hanya tersenyum. Dia segera beranjak menuju ke bangkunya meninggalkan Jonathan yang masih sibuk dengan kertas dan pena nya.
                “Oh iya. Hampir aja gue lupa,” kata Marsha seraya menepuk jidat setelah dia meletakkan tasnya ke dalam laci.
                “Pagi nona Felish,” goda Marsha kepada teman sebangkunya yang sedari tadi hanya memajukan bibirnya saja. Felishia Anindya Lukman. Sosok gadis manis yang selalu menghias mata indahnya dengan kaca mata biru yang merupakan sahabat Marsha sejak duduk di bangku kelas III sekolah dasar. Seseorang yang mampu memberikan warna-warna indah pada hari-hari Marsha. Yang selalu membuatnya tersenyum dan tegar menghadapi liku-liku kehidupannya. Namun hari ini dia tampak berbeda. Tidak seperti Felish yang biasanya. Tampak kusut dan lesu. Bukan hanya itu, bahkan kali ini dia tidak merespon Marsha  -sahabatnya- sama sekali. Justru dia menutupi wajah manisnya dengan buku tebal yang sedang dibacanya. Raut heran tergurat jelas diwajah Marsha. Namun dia tampak tidak mempermasalahkan sikap sahabatnya kali ini. Dia memilih untuk mengalah. Lalu mengobrol dengan Vino untuk mengalihkan perhatiannya.
**********
                Sejak sepuluh menit yang lalu Vino belum mengalihkan pandangannya dari Marsha. Dia tampak sedang mengagumi karya sempurna Tuhan yang sedang berada didepannya. Sementara Marsha mulai kehilangan pertahannya. Sudah puluhan coretan tip-x tergores dibuku catatanya. Seperti biasa, Vino mulai membuatnya salah tingkah. Namun sebisa mungkin dia berusaha menutupinya.
                “Lo boleh kedip kok Vin! Gue jamin wajah Marsha nggak akan berubah!” cerocos Darell teman sebangku Vino yang hanya dibalas sebuah senyuman datar oleh si pemilik nama.
                “Gue lagi natap seorang bidadari bro, gakan mungkin gue lepasin pandangan gue biar sedetik pun” balas Vino yang tetap pada pendirian nya menatap Marsha lekat lekat. Gadis itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Menyembunyikan  rona merah yang tergurat dipipinya.
                “Okay class, see you next week with a new lesson spirit! Bye,” kata Ma’am Diazz diiringi bel istirahat yang menandakan berakhirnya jam ke-6 hari itu. Marsha bernafas lega. Melepaskan ketegangannya.
                “Do you mind to go to the canteen with me Queen?” tanya Vino kepada Marsha sembari mengulurkan tangannya.
                “emm.. Do you wanna go with us?” Marsha malah melemparkan pertanyaan kepada Felish disusul dengan sebuah senyuman sempurna. Namun kali ini Felish hanya menggeleng. Mengisyaratkan bahwa ia  menolak.
                “Really?” kata Marsha  yang tidak yakin dengan sikap sahabatnya.
                “Gue lagi nggak mood sorry ya Sha!” balas Felishia yang sukses membuat Marsha tercengang.
                “Udahlah Sha, Felish-nya kan nggak mau. Jangan dipaksa dong,” kata Vino mendamaikan kedua sahabat itu. Namun, terlihat lebih memihak Marsha –gadis yang di cintainya semenjak masa kanak kanak silam–.
                “Gue pergi dulu Lish,” kata Marsha yang sama sekali tidak direspon oleh Felish. Ia hanya menyembunyikan kedongkolan hatinya saat dia melihat dua sejoli yang rupa-rupanya sedang dimabuk cinta itu bergandengan tangan meninggalkan kelas yang semakin lengang.
**********
                “honey, tadi kamu di antar atau bawa mobil sendiri ?” tanya Vino sesaat setelah bel pulang berbunyi.
                “diantar Vin. Kenapa ya?” Marsha menjawab dengan seyum yang merekah dibibirnya.
                “Do you mind if I take you home?” kata Vino membalas.
                “No, I don’t. But...” Marsha melirik Felish beberapa saat mengingat mereka selalu pulang bersama. Kemudian dia kembali menatap Vino dengan senyuman ragu sembari mengangkat salah satu alis tebal nya.
                “Kamu mau pulang bareng kita juga Lish?” tanya Vino yang sudah paham dengan apa yang dimaksudkan Marsha. Felishia hanya menggeleng kuat. Lagi lagi dia menolak.
“Makasih. Tapi aku udah dijemput,” jawab Felish dengan senyum kecil.
“Yah, kok lo gitu sih Lish!” gerutu Marsha.
“Nggak apa-apa kok. Lagian aku kan nggak mau mengganggu kalian,” Felish tersenyum sinis lalu membuang pandangan nya jauh ke sudut kelas.
“Udah, aku duluan,” katanya lagi kemudian melenggang pergi. Vino hanya tersenyum manis melihat tingkah Felish, Sementara Marsha tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa dan hanya menatap kosong kepergian sahabatnya. Suasana hening sesaat menyelimuti Vino dan Marsha, hingga hanya terdengar deru nafas mereka berdua di ruang kelas yang sudah kosong itu.
“Pulang sekarang Sha?” tanya Vino berusaha mencairkan suasana.
“oh Iya iya,” jawab Marsha sedikit gelagapan setelah kembali dari alam bawah sadarnya.
Okay my princess. This is the way,” kata Vino sembari menggandeng tangan Marsha dan menuntunnya meninggalkan kelas.
**********
Suara merdu para personil One Direction lewat lagunya They Don’t Know About Us terdengar sayup-sayup melalui MP3 dimobil Vino. Liriknya yang begitu menyayat hati berhasil membuat Marsha membisu. Meresapi dan menghayati setiap untaian yang dialunkan penyanyi favoritnya.
“Sha,” kata Vino yang membawanya kembali ke alam sadarnya.
“eh Iya Vin?”
Do you know?
What?” tanya Marsha penasaran.
You don’t have to wish I was here. Because I will always be here. In your heart bbe. Trust me,” jawab Vino dengan tatapan seriusnya yang mengarah kepada Marsha. Dan untuk yang kesekian kalinya Vino sukses membuat Marsha melayang dengan segala kata-kata manisnya.
“Udah Vin, gak usah gombal gitu, diajarin siapa sih? Pinter banget” cibir Marsha seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vino. Namun, sungguh, dia hanya ingin menutupi euforianya.
I’m really sure dear,” bisik Vino tepat ditelinga Marsha. Gadis manis itu hanya menunduk dalam. Menyembunyikan rona merah pipinya dibalik rambut panjangnya yang terurai bebas.
“Kok dimatiin sih music nya?” protes Marsha ketika Vino mematikan MP3. Pria tampan itu tak menjawab. Diraihnya tangan kanan dari gadis yang sedang duduk disebelahnya. Digenggamnya erat dengan tangan kirinya sementara yang lain tetap fokus memegang kemudi. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Namun, dia ingin meyakinkan gadis itu jika telah terbentuk sebuah ikatan diantara mereka. Ikatan yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata. Cukup hati yang mengetahui dan merasakannya.
You needn’t say it. I’ve felt it,” lirih Marsha seakan mengerti untaian kata yang tersusun di hati Vino.
Thanks dear,” Vino mendaratkan sebuah kecupan  di punggung tangan gadis yang sedang digenggamnya.
“Udah Vin. Fokus nyetir dong!” kata Marsha seraya menarik tangannya dari genggaman Vino. Tak ingin menambah guratan merah yang sudah terbentuk di pipinya akibat perlakuan Alvin kepadanya. Alvin hanya tersenyum datar melihat reaksi gadisnya. Apa? Gadisnya? Ya. Ikatan yang tak perlu diucapkan. Yang sudah tertaman subur dihati keduanya. Tinggal menunggu ranum untuk memetiknya.
“Udah sampai Nona,” kata Vino setelah sampai didepan istana klan Syarif.
Thanks Vin. Kamu nggak mampir?” tawar Marsha sebelum turun.
                “Makasih Honey,” jawab Vino yang lebih mengarah ke penolakan.
                “Aku turun dulu ya?” pamit Marsha seraya membuka pintu mobil sebelum Vino melakukan itu untuknya yang akan membuatnya merona untuk keseribu kalinya.
                “Okay. Eh kamu nggak lupa kan?” tanya Vino mengangkat sebelah alisnya menahan yang Marsha untuk turun.
                “Apa?” jawab Marsha linglung. Lagi-lagi Vino hanya tersenyum melihat tingkah gadisnya itu.
                “We will have dinner with our parents tonight dear,” jawab Vino ditengah-tengah senyumannya.
                “OMG, I nearly forget it!” seru Marsha seraya menepuk jidatnya.
                “No matter dear. Yang penting sekarang udah ingat kan?” kata Vino merayu, sembari melemparkan senyuman termanis yang bisa membuat semua kaum hawa tak berkutik di depan nya termasuk Marsha.
                “Iya iya. Udah aku turun dulu. Makasih,”
                “Urwel. Titip salam ke om dan tante ya,” kata Vino sembari membelai rambut Marsha, yang segera beranjak turun dari mobil Vino. Melepas Vino dengan senyum manis yang merekah dibibirnya. Kemudian dia segera melangkah santai memasuki istananya setelah mobil Vino menghilang.
                “Wah, putri mama sudah pulang,” celetuk seorang perempuan paruh baya ketika Marsha hendak meniti tangga menuju kamarnya.
                “Siang ma. Mama dirumah?” tanya Ify heran melihat Bu Kristina Syarif -mamanya- berada dirumah. Biasanya beliau masih berada di Resto nya.
                “Iya sayang. Mama pulang lebih awal. Kamu diantar Vino?” tanya mamanya yang sudah bisa membaca euforia yang tergurat diwajah putrinya.
                “Iya ma. Hehehe,” jawab Marsha cengengesan sembari menyembumyikan sirat wajah malunya kepada mama nya.
                “Kok Vino nya nggak disuruh mampir dulu?”
                “Dianya nggak mau ma, gak asik kan” jawab Marsha dengan wajah kecewa.
                “Ya sudah. Sekarang kamu mandi dan istirahat. Biar nanti malam kamu fit lagi,” nasihat mamanya.
                “Oke ma,” jawab Marsha seraya mengacungkan kedua jempolnya dan segera berlari menuju kamarnya.
**********
                “Marsha, kamu sudah siap?” teriak Bu Syarif dari lantai dasar.
                “Iya ma, lima menit lagi bentar bentar ya,” jawab Marsha yang tengah membenahi tatanan rambutnya yang belum sesuai. Dia ingin terlihat sempurna malam ini. Namun spertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya. Sudah berulang kali Marsha menata rambut panjangnya namun belum ada yang sesuai.
                “Argghhhh!!!” teriak gadis itu yang sudah tak bisa membendung emosinya.
                “Tenang Sha. Tenang. Tenang. Tenang. Mari kita mulai dari awal,” kata Marsha mencoba menenangkan dirinya sendiri.
                “Masih belum sayang?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
                “Ini ma,” kata Marsha dengan nada manja seperti biasanya seraya menunjuk rambutnya yang masih semrawut. Bu Syarif, mamanya dengan tenang memainkan jari-jarinya diatas mahkota putrinya. Tak sampai lima menit, tercipta karya sempurna dari tangannya yang membuat Marsha tersenyum lega.
                “Ayo cepat. Papa udah nunggu,” kata Bu Syarif sembari menggandeng tangan Marsha meninggalkan kamarnya.
**********
                Diamond Star Restaurant. Restoran termegah di kota ini menyambut Marsha beserta kedua orang tuanya. Kerlip lampu dan gemericik air mancur menyambut Marhsa dengan segala kemewahan yang ada didalamnya. Marsha berjalan santai dibelakang papa-mamanya walau terselip persaan nervous di dalam hatinya. Samar-samar Marsha mulai melihat tiga sosok yang sudah tak asing lagi baginya. Dan sekarang dia sudah bisa melihat dengan jelas sosok-sosok tersebut. Seorang pemuda yang begitu dikenalnya tampak lebih gagah dan berwibawa malam ini dengan jas hitam dan kemeja biru yang membalutnya tubuhnya, yang menambah nilai plus pemuda itu di mata manis Marsha. Marsha tak mampu menyembunyikan senyum kagum nya.
                “Selamat malam Bapak Bastian. Maaf membuat anda dan keluarga menunggu,” kata Pak Syarif, papa Marsha sembari menyalami dan merangkul Pak Bastian, papa Alvino.
                “Oh gak masalah Pak. Kami belum menunggu lama,” balas Pak Bastian berbasa-basi. Kemudian kedua keluarga itu bersalam-salaman satu dengan yang lain. Dan segera duduk sambil mengobrol usai mengakhiri basa-basinya.
                “You look like an angel dear,” bisik Vino kepada Marsha yang duduk tepat disampingnya. Marsha memang tampak begitu mempesona malam ini dengan gaun biru muda minimalis, higheels, dan accessories yang senada. Membuat Vino hampir tak mampu melepaskan pandangan darinya.
                “Thanks,” jawab Marsha dengan guratan merah yang tak bisa disembunyikannya lagi dari pipinya.
                “Wah, ternyata kalian berdua memang cocok ya?” celetuk Bu Bastian, mama Vino yang menambah rona merah di wajah Marsha.
                “Makasih ma,” jawab Vino sembari melingkarkan tangan kanannya di pinggang Marsha. Perlakuan spontan dari Vino yang membuat Marsha harus mengatur ulang nafasnya yang kian memburu. Terselip rasa tidak nyaman dihati Marsha. Namun, dia tak kuasa menolaknya karena hati kecilnya menginginkan hal itu. Tawa lepas terdengar dari pasangan Bastian dan Syarif melihat polah tingkah putra-putrinya yang mulai beranjak dewasa itu.
                “Vino, Marsha, kalian tahu maksud makan malam hari ini?” kata Pak Bastiaan membuka percakapan. Marsha menggeleng ragu. Sementara Vino hanya tersenyum.
                “Kalian kan sudah sama-sama tahu kalau Syarif dan Bastian Corp sudah bekerjasama lebih dari delapan tahun terakhir ini,” lanjut Pak Bastian.
                “Dan untuk itu, Vino, Marsha, kami ingin kalian segera melangsungkan pertuangan kalian, untuk mengokohkan kerjasama kami. Apalagi papa rasa, kalian adalah teman masa kecil yang pernah menjalin cinta monyet. Dan rupanya cinta itu sekarang sedang tumbuh kembali,” lanjut Pak Syarif langsung to the point yang berhasil membuat Marsha tercekat.
                ‘Apa? Tunangan?’ teriak Marsha dalam hati. Benar-benar tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Dia benar-benar terkejut dengan pernyataan papanya. Namun, dia juga tak dapat menyembunyikan euforianya.
                “Sure?” tanyanya ragu kepaada Vino.
                “Kamu keberatan dear?” Vino balik bertanya. Marsha tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya dari Vino yang pasti sudah bisa melihat rona merah yang merekah dipipinya. Memang siapa yang tidak ingin hidup berdampingan dengan orang terkasihnya?
                “Kalian tidak keberatan kan dengan rencana ini?” tanya Pak Bastian kepada Vino dan Marsha.
                “Nggak kan dear?” tanya Vino ke Marsha sembari membelai lembut rambut gadisnya itu. Marsha hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
                “Syukurlah kalau begitu,” kata Pak Bastian dan Pak Syarif bersamaan. Suasana Bahagia menyelimuti  kedua keluarga itu. Vino menggenggam erat tangan Marsha. Membiarkan gadis itu meraskan ketulusan yang ada padanya.

**********

                Tok........ tok....... tok.......
                Seseorang mengetuk pintu kamar Vino dengan kasar setelah dia melepas jas yang dipakainya. Segera dia membuka pintu kamarnya setelah berhasil menebak siapa orang yang berada dibaliknya.
                “Ikut gue sekarang!” seru seorang pemuda seumuran Vino setelah dia membuka pintu kamarnya. Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, Vino segera mengikuti pemuda itu menuruni tangga menuju lantai dasar rumahnya. Pemuda itu membawa Vino menuju paviliun. Bagian rumahnya yang jarang sekali dia jamah.
                BRAAKK!!
                Pemuda itu menutup pintu paviliun dengan kasar setelah dirinya dan Vino berada didalamnya.
                “Apa mau lo?” tanya Vino yang tidak ingin berbasa-basi. Pemuda itu menatap lekat kedua bola mata Vino. Mendekatinya selangkah demi selangkah. Kemudian tanpa rasa belas kasihan dia mencengkram kuat kerah baju Vino. Vino tak berontak sama sekali. Dia sudah mengetahui perangai lawan bicaranya itu dengan baik.
                “Jangan jadi pengecut lo! Cuma bisa main kasar! bilang apa mau lo!” hardik Vino yang tak mengubah sikap si pemuda sama sekali.
                “Lo terima tawaran papa?” tanya pemuda itu sinis sembari mendekatkan wajahnya kepada Vino. Vino hanya mengerutkan kening. Profesor yang ada dikepalanya sedang mencoba menganalisis arah pembicaraan pemuda itu.
                “maksud lo Pertunangan gue sama Marsha?” kata Vino balik bertanya dengan senyum lepas setelah berhasil menangkap maksud pemuda yang sedang mencengkrem kerah bajunya itu.
                “Lo terima?” tanya pemuda itu lagi. Kali ini dia mengepalkan tangan kanan nya.
                “Iya,” jawab Vino datar.
                BUUGHH!!
               Sebuah pukulan mentah bersarang dipipi kiri Vino. Menyisakan bekas membiru dan setetes darah segar yang mengalir disudut bibir kirinya.
                “Kenapa?” tanya Vino seakan baru menyadari jika lawan bicara yang sedang berdiri didepannya itu juga menaruh hati kepada sang bidadari.
                “Marsha bebas! Dia bukan milik lo! Dia mau sama gue dan dia juga menerima tawaran itu. Bukan Cuma lo yang bisa jatuh hati sama bidadari secantik dia!” kata Vino balas menggertak. Pemuda itu mendelik.
                “Lo pengecut! Jangan Cuma bisa main kasar! Pakai otak lo! Jangan Cuma lo jadiin pajangan aja!” kata Vino dengan senyum kemenangan. Pemuda itu kembali melekatkan pendangannya kepada Vino.
                “Keluar lo!” kata pemuda itu seraya mendorong tubuh Vino setelah dia membuka pintu. Alvin tersungkur dibibir pintu. Namun dia memilih mengalah dan berdamai dengan keadaan.
                “Lo bawa gue kesini cuma buat nunjukin kekuatan fisik lo! Tapi nyali lo bahkan nggak lebih bagus dari gue!” maki Vino kepada pemuda itu. Namun.... BRAAKK!! Makian Vino hanya dibalas dengan bantingan pintu. Samar-samar terdengar pemuda tadi juga memaki-maki Vino dari dalam paviliun. Vino hanya tersenyum datar. Dia segera beranjak dari tempat itu sebelum orang tuanya mengetahui hal yang telah terjadi antara dia dan pemuda itu, saudara tirinya.
**********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by