Mungkin Bukan Aku
Chapter I
“Bahagia itu milik kita. Tak
ada hubungannya dengan mereka”
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area
sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X7 meter dengan tulisan “Welcome to
Don Boscho Senior hight International School” yang berada disudut atasnya
menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika
langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Marsha
Rafdelista Shafira. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak
kalah penting, pemilik nama belakang Syarif yang secara lugas menegaskan bahwa
dia merupakan bagian dari klan Syarif. Pemilik kerajaan bisnis ternama di
negeri ini.
Gadis paling dipuja se-Dobosh SHIS itu
melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju
kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.
“Pagi Sha!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika
dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.
“Pagi juga Vin!” Balasnya sembari mengulun senyuman termanisnya kepada pemuda
jakung berkulit putih yang sedang duduk manis dibangkunya. Alvino Dinata
Bastian. Putra mahkota ‘Bastian Corp’. Raksasa bisnis kedua setelah ‘Syarif
Corp’ yang merupakan mitra kerjanya. Wajah yang tampan, kapasitas otak yang
menujang, segudang prestasi didunia basket dan golf, nama belakang keluarga
yang sudah termasyur, dan ditunjang dengan sifat ramah yang selalu dipamerkan
kepada setiap orang membuat pemuda ini tampak begitu istimewa dan selalu
menduduki grade teratas dihati kaum hawa di Do-bosh SHIS. Pemuda yang
merupakan teman masa kecil Marsha, dan entah apa rencana Tuhan mempertemukan
mereka kembali di sekolah ini.
Marsha menyudahi perhatiannya kepada Vino. Dia melangkah menuju pojok ruangan
dimana sedang duduk seorang pemuda jakung berkulit sawo matang dengan kaca mata
tebal yang selalu menghiasi matanya. Jonathan … B. Seseorang yang mungkin bisa
dikatakan satu-satunya siswa yang berpenampilan paling sederhana di sekolah ini
mengingat status International School yang disandangnya. Sesosok pemuda
sederhana dengan kapasitas otak yang -mungkin bisa dikatakan -mirip dengan
Einstein. Seseorang yang selalu mampu membius Marsha dengan setiap rangkaian
kata yang diucapkannya. Seseorang yang selalu menjadi tempat pelarian Marsha
ketika mendapat masalah karena dia selalu berhasil mendamaikan hati Marsha.
“Pagi Jo!” Sapa Marsha kepada Jonathan. Lalu dengan santai dia duduk dibangku
tepat didepan Jo lantas kemudian dia menatap mata Jo lekat-lekat. Mencoba
menguak seluruh rahasia yang tersembunyi dibalik kacamata tebal dan rambut
klimis pemuda itu. Rahasia yang hingga detik ini mungkin hanya Jonathan dan orang-orang
yang berperan didalam hidupnya lah yang mengetahuinya. Marsha mengenal Jonathan
cukup dekat selama dua tahun terakhir ini. Namun rupanya Marsha belum mampu
menyibak identitas lengkapnya. Identitas yang menyembunyikan banyak rahasia
yang akan sangat mudah diketahui andai Marsha bisa mengetahui nama belakang
yang disandang pemuda itu. Nama belakang yang tidak pernah digembar-gemborkan
kepada siapapun. Karena Jonathan lebih suka memakai inisial ‘B’ untuk nama
belakangnya. Sebenarnya Marsha tak pernah memperdulikan siapa Jonathan maupun
orang-orang yang dia kenal. Namun sepertinya Jo telah menyimpan sebuah rahasia
besar didalam dirinya yang menarik untuk diketahui.
“Tumben pagi-pagi udah datang Sha,” Jonathan mulai mengangkat suara yang
seketika langsung membuyarkan lamunan gadis itu.
“Emang nggak boleh Marsha datang pagi?” jawabnya dengan nada sedikit gelagapan
namun dia segera berusaha menguasai dirinya dan bersikap seolah-olah tidak ada
yang terjadi.
“ya boleh lah bawel .. Justru itu lebih bagus,” respon Jonathan. Gadis itu hanya
tersenyum. Dia segera beranjak menuju ke bangkunya meninggalkan Jonathan yang
masih sibuk dengan kertas dan pena nya.
“Oh iya. Hampir aja gue lupa,” kata Marsha seraya menepuk jidat setelah dia
meletakkan tasnya ke dalam laci.
“Pagi nona Felish,” goda Marsha kepada teman sebangkunya yang sedari tadi hanya
memajukan bibirnya saja. Felishia Anindya Lukman. Sosok gadis manis yang selalu
menghias mata indahnya dengan kaca mata biru
yang merupakan sahabat Marsha sejak duduk di bangku kelas III sekolah dasar.
Seseorang yang mampu memberikan warna-warna indah pada hari-hari Marsha. Yang
selalu membuatnya tersenyum dan tegar menghadapi liku-liku kehidupannya. Namun
hari ini dia tampak berbeda. Tidak seperti Felish yang biasanya. Tampak kusut
dan lesu. Bukan hanya itu, bahkan kali ini dia tidak merespon Marsha
-sahabatnya- sama sekali. Justru dia menutupi wajah manisnya dengan buku tebal
yang sedang dibacanya. Raut heran tergurat jelas diwajah Marsha. Namun dia
tampak tidak mempermasalahkan sikap sahabatnya kali ini. Dia memilih untuk mengalah.
Lalu mengobrol dengan Vino untuk mengalihkan perhatiannya.
**********
Sejak sepuluh menit yang lalu Vino belum mengalihkan pandangannya dari Marsha.
Dia tampak sedang mengagumi karya sempurna Tuhan yang sedang berada didepannya.
Sementara Marsha mulai kehilangan pertahannya. Sudah puluhan coretan tip-x
tergores dibuku catatanya. Seperti biasa, Vino mulai membuatnya salah tingkah.
Namun sebisa mungkin dia berusaha menutupinya.
“Lo boleh kedip kok Vin! Gue jamin wajah Marsha nggak akan berubah!” cerocos
Darell teman sebangku Vino yang hanya dibalas sebuah senyuman datar oleh si
pemilik nama.
“Gue lagi natap seorang bidadari bro, gakan mungkin gue lepasin
pandangan gue biar sedetik pun” balas Vino yang tetap pada pendirian nya
menatap Marsha lekat lekat. Gadis itu menundukkan kepalanya semakin dalam.
Menyembunyikan rona merah yang tergurat dipipinya.
“Okay class, see you next week with a new lesson spirit! Bye,” kata
Ma’am Diazz diiringi bel istirahat yang menandakan berakhirnya jam ke-6 hari
itu. Marsha bernafas lega. Melepaskan ketegangannya.
“Do you mind to go to the canteen with me Queen?” tanya Vino kepada
Marsha sembari mengulurkan tangannya.
“emm.. Do you wanna go with us?” Marsha malah melemparkan pertanyaan
kepada Felish disusul dengan sebuah senyuman sempurna. Namun kali ini Felish
hanya menggeleng. Mengisyaratkan bahwa ia menolak.
“Really?” kata Marsha yang tidak
yakin dengan sikap sahabatnya.
“Gue lagi nggak mood sorry ya Sha!” balas Felishia yang sukses membuat
Marsha tercengang.
“Udahlah Sha, Felish-nya kan nggak mau. Jangan dipaksa dong,” kata Vino
mendamaikan kedua sahabat itu. Namun, terlihat lebih memihak Marsha –gadis yang
di cintainya semenjak masa kanak kanak silam–.
“Gue pergi dulu Lish,” kata Marsha yang sama sekali tidak direspon oleh Felish.
Ia hanya menyembunyikan kedongkolan hatinya saat dia melihat dua sejoli yang
rupa-rupanya sedang dimabuk cinta itu bergandengan tangan meninggalkan kelas
yang semakin lengang.
**********
“honey, tadi kamu di antar atau bawa mobil sendiri ?” tanya Vino sesaat setelah
bel pulang berbunyi.
“diantar Vin. Kenapa ya?” Marsha menjawab dengan seyum yang merekah dibibirnya.
“Do you mind if I take you home?” kata Vino membalas.
“No, I don’t. But...” Marsha melirik Felish beberapa saat mengingat
mereka selalu pulang bersama. Kemudian dia kembali menatap Vino dengan senyuman
ragu sembari mengangkat salah satu alis tebal nya.
“Kamu mau pulang bareng kita juga Lish?” tanya Vino yang sudah paham dengan apa
yang dimaksudkan Marsha. Felishia hanya menggeleng kuat. Lagi lagi dia menolak.
“Makasih. Tapi aku udah dijemput,” jawab
Felish dengan senyum kecil.
“Yah, kok lo gitu sih Lish!” gerutu Marsha.
“Nggak apa-apa kok. Lagian aku kan nggak mau
mengganggu kalian,” Felish tersenyum sinis lalu membuang pandangan nya jauh ke
sudut kelas.
“Udah, aku duluan,” katanya lagi kemudian
melenggang pergi. Vino hanya tersenyum manis melihat tingkah Felish, Sementara
Marsha tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa dan hanya menatap kosong kepergian
sahabatnya. Suasana hening sesaat menyelimuti Vino dan Marsha, hingga hanya
terdengar deru nafas mereka berdua di ruang kelas yang sudah kosong itu.
“Pulang sekarang Sha?” tanya Vino berusaha
mencairkan suasana.
“oh Iya iya,” jawab Marsha sedikit gelagapan
setelah kembali dari alam bawah sadarnya.
“Okay my princess. This is the way,”
kata Vino sembari menggandeng tangan Marsha dan menuntunnya meninggalkan kelas.
**********
Suara merdu para personil One Direction lewat
lagunya They Don’t Know About Us terdengar sayup-sayup melalui MP3 dimobil
Vino. Liriknya yang begitu menyayat hati berhasil membuat Marsha membisu.
Meresapi dan menghayati setiap untaian yang dialunkan penyanyi favoritnya.
“Sha,” kata Vino yang membawanya kembali ke
alam sadarnya.
“eh Iya Vin?”
“Do you know?”
“What?” tanya Marsha penasaran.
“You don’t have to wish I
was here. Because I will always be here. In your heart bbe. Trust me,” jawab Vino dengan tatapan seriusnya yang mengarah kepada
Marsha. Dan untuk yang kesekian kalinya Vino sukses membuat Marsha melayang
dengan segala kata-kata manisnya.
“Udah Vin, gak usah
gombal gitu, diajarin siapa sih? Pinter banget” cibir Marsha seakan tidak percaya
dengan apa yang dikatakan Vino. Namun, sungguh, dia hanya ingin menutupi
euforianya.
“I’m really sure dear,”
bisik Vino tepat ditelinga Marsha. Gadis manis itu hanya menunduk dalam.
Menyembunyikan rona merah pipinya dibalik rambut panjangnya yang terurai bebas.
“Kok dimatiin sih music
nya?” protes Marsha ketika Vino mematikan MP3. Pria tampan itu tak menjawab.
Diraihnya tangan kanan dari gadis yang sedang duduk disebelahnya. Digenggamnya
erat dengan tangan kirinya sementara yang lain tetap fokus memegang kemudi. Tak
ada kata yang terucap dari bibirnya. Namun, dia ingin meyakinkan gadis itu jika
telah terbentuk sebuah ikatan diantara mereka. Ikatan yang tak perlu diucapkan
dengan kata-kata. Cukup hati yang mengetahui dan merasakannya.
“You needn’t say it.
I’ve felt it,” lirih Marsha seakan mengerti untaian kata yang tersusun di
hati Vino.
“Thanks dear,”
Vino mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan gadis yang sedang
digenggamnya.
“Udah Vin. Fokus nyetir
dong!” kata Marsha seraya menarik tangannya dari genggaman Vino. Tak ingin
menambah guratan merah yang sudah terbentuk di pipinya akibat perlakuan Alvin
kepadanya. Alvin hanya tersenyum datar melihat reaksi gadisnya. Apa? Gadisnya?
Ya. Ikatan yang tak perlu diucapkan. Yang sudah tertaman subur dihati keduanya.
Tinggal menunggu ranum untuk memetiknya.
“Udah sampai Nona,” kata
Vino setelah sampai didepan istana klan Syarif.
“Thanks Vin. Kamu
nggak mampir?” tawar Marsha sebelum turun.
“Makasih Honey,” jawab Vino yang lebih mengarah ke penolakan.
“Aku turun dulu ya?” pamit Marsha seraya membuka pintu mobil sebelum Vino
melakukan itu untuknya yang akan membuatnya merona untuk keseribu kalinya.
“Okay. Eh kamu nggak lupa kan?” tanya Vino mengangkat sebelah alisnya
menahan yang Marsha untuk turun.
“Apa?” jawab Marsha linglung. Lagi-lagi Vino hanya tersenyum melihat tingkah
gadisnya itu.
“We will have dinner with our parents tonight dear,” jawab Vino
ditengah-tengah senyumannya.
“OMG, I nearly forget it!” seru Marsha seraya menepuk jidatnya.
“No matter dear. Yang penting sekarang udah ingat kan?” kata Vino merayu,
sembari melemparkan senyuman termanis yang bisa membuat semua kaum hawa tak
berkutik di depan nya termasuk Marsha.
“Iya iya. Udah aku turun dulu. Makasih,”
“Urwel. Titip salam ke om dan tante ya,” kata Vino sembari membelai
rambut Marsha, yang segera beranjak turun dari mobil Vino. Melepas Vino dengan
senyum manis yang merekah dibibirnya. Kemudian dia segera melangkah santai
memasuki istananya setelah mobil Vino menghilang.
“Wah, putri mama sudah pulang,” celetuk seorang perempuan paruh baya ketika
Marsha hendak meniti tangga menuju kamarnya.
“Siang ma. Mama dirumah?” tanya Ify heran melihat Bu Kristina Syarif -mamanya-
berada dirumah. Biasanya beliau masih berada di Resto nya.
“Iya sayang. Mama pulang lebih awal. Kamu diantar Vino?” tanya mamanya yang
sudah bisa membaca euforia yang tergurat diwajah putrinya.
“Iya ma. Hehehe,” jawab Marsha cengengesan sembari menyembumyikan sirat wajah
malunya kepada mama nya.
“Kok Vino nya nggak disuruh mampir dulu?”
“Dianya nggak mau ma, gak asik kan” jawab Marsha dengan wajah kecewa.
“Ya sudah. Sekarang kamu mandi dan istirahat. Biar nanti malam kamu fit
lagi,” nasihat mamanya.
“Oke ma,” jawab Marsha seraya mengacungkan kedua jempolnya dan segera berlari
menuju kamarnya.
**********
“Marsha, kamu sudah siap?” teriak Bu Syarif dari lantai dasar.
“Iya ma, lima menit lagi bentar bentar ya,” jawab Marsha yang tengah membenahi
tatanan rambutnya yang belum sesuai. Dia ingin terlihat sempurna malam ini.
Namun spertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya. Sudah berulang
kali Marsha menata rambut panjangnya namun belum ada yang sesuai.
“Argghhhh!!!” teriak gadis itu yang sudah tak bisa membendung emosinya.
“Tenang Sha. Tenang. Tenang. Tenang. Mari kita mulai dari awal,” kata Marsha
mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Masih belum sayang?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Ini ma,” kata Marsha dengan nada manja seperti biasanya seraya menunjuk
rambutnya yang masih semrawut. Bu Syarif, mamanya dengan tenang
memainkan jari-jarinya diatas mahkota putrinya. Tak sampai lima menit, tercipta
karya sempurna dari tangannya yang membuat Marsha tersenyum lega.
“Ayo cepat. Papa udah nunggu,” kata Bu Syarif sembari menggandeng tangan Marsha
meninggalkan kamarnya.
**********
Diamond Star Restaurant. Restoran termegah di kota ini menyambut Marsha beserta
kedua orang tuanya. Kerlip lampu dan gemericik air mancur menyambut Marhsa
dengan segala kemewahan yang ada didalamnya. Marsha berjalan santai dibelakang
papa-mamanya walau terselip persaan nervous di dalam hatinya.
Samar-samar Marsha mulai melihat tiga sosok yang sudah tak asing lagi baginya.
Dan sekarang dia sudah bisa melihat dengan jelas sosok-sosok tersebut. Seorang
pemuda yang begitu dikenalnya tampak lebih gagah dan berwibawa malam ini dengan
jas hitam dan kemeja biru yang membalutnya tubuhnya, yang menambah nilai plus
pemuda itu di mata manis Marsha. Marsha tak mampu menyembunyikan senyum kagum
nya.
“Selamat malam Bapak Bastian. Maaf membuat anda dan keluarga menunggu,” kata
Pak Syarif, papa Marsha sembari menyalami dan merangkul Pak Bastian, papa Alvino.
“Oh gak masalah Pak. Kami belum menunggu lama,” balas Pak Bastian berbasa-basi.
Kemudian kedua keluarga itu bersalam-salaman satu dengan yang lain. Dan segera
duduk sambil mengobrol usai mengakhiri basa-basinya.
“You look like an angel dear,” bisik Vino kepada Marsha yang duduk tepat
disampingnya. Marsha memang tampak begitu mempesona malam ini dengan gaun biru
muda minimalis, higheels, dan accessories yang senada. Membuat Vino
hampir tak mampu melepaskan pandangan darinya.
“Thanks,” jawab Marsha dengan guratan merah yang tak bisa
disembunyikannya lagi dari pipinya.
“Wah, ternyata kalian berdua memang cocok ya?” celetuk Bu Bastian, mama Vino
yang menambah rona merah di wajah Marsha.
“Makasih ma,” jawab Vino sembari melingkarkan tangan kanannya di pinggang
Marsha. Perlakuan spontan dari Vino yang membuat Marsha harus mengatur ulang
nafasnya yang kian memburu. Terselip rasa tidak nyaman dihati Marsha. Namun,
dia tak kuasa menolaknya karena hati kecilnya menginginkan hal itu. Tawa lepas
terdengar dari pasangan Bastian dan Syarif melihat polah tingkah putra-putrinya
yang mulai beranjak dewasa itu.
“Vino, Marsha, kalian tahu maksud makan malam hari ini?” kata Pak Bastiaan
membuka percakapan. Marsha menggeleng ragu. Sementara Vino hanya tersenyum.
“Kalian kan sudah sama-sama tahu kalau Syarif dan Bastian Corp sudah
bekerjasama lebih dari delapan tahun terakhir ini,” lanjut Pak Bastian.
“Dan untuk itu, Vino, Marsha, kami ingin kalian segera melangsungkan pertuangan
kalian, untuk mengokohkan kerjasama kami. Apalagi papa rasa, kalian adalah
teman masa kecil yang pernah menjalin cinta monyet. Dan rupanya cinta itu
sekarang sedang tumbuh kembali,” lanjut Pak Syarif langsung to the point
yang berhasil membuat Marsha tercekat.
‘Apa? Tunangan?’ teriak Marsha dalam hati. Benar-benar tak pernah terpikirkan
olehnya sebelumnya. Dia benar-benar terkejut dengan pernyataan papanya. Namun,
dia juga tak dapat menyembunyikan euforianya.
“Sure?” tanyanya ragu kepaada Vino.
“Kamu keberatan dear?” Vino balik bertanya. Marsha tak menjawab. Dia
memalingkan wajahnya dari Vino yang pasti sudah bisa melihat rona merah yang
merekah dipipinya. Memang siapa yang tidak ingin hidup berdampingan dengan
orang terkasihnya?
“Kalian tidak keberatan kan dengan rencana ini?” tanya Pak Bastian kepada Vino
dan Marsha.
“Nggak kan dear?” tanya Vino ke Marsha sembari membelai lembut rambut
gadisnya itu. Marsha hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Pak Bastian dan Pak Syarif bersamaan. Suasana
Bahagia menyelimuti kedua keluarga itu. Vino menggenggam erat tangan
Marsha. Membiarkan gadis itu meraskan ketulusan yang ada padanya.
**********
Tok........ tok....... tok.......
Seseorang mengetuk pintu kamar Vino dengan kasar setelah dia melepas jas yang
dipakainya. Segera dia membuka pintu kamarnya setelah berhasil menebak siapa
orang yang berada dibaliknya.
“Ikut gue sekarang!” seru seorang pemuda seumuran Vino setelah dia membuka
pintu kamarnya. Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, Vino segera
mengikuti pemuda itu menuruni tangga menuju lantai dasar rumahnya. Pemuda itu
membawa Vino menuju paviliun. Bagian rumahnya yang jarang sekali dia jamah.
BRAAKK!!
Pemuda itu menutup pintu paviliun dengan kasar setelah dirinya dan Vino berada
didalamnya.
“Apa mau lo?” tanya Vino yang tidak ingin berbasa-basi. Pemuda itu menatap
lekat kedua bola mata Vino. Mendekatinya selangkah demi selangkah. Kemudian
tanpa rasa belas kasihan dia mencengkram kuat kerah baju Vino. Vino tak
berontak sama sekali. Dia sudah mengetahui perangai lawan bicaranya itu dengan
baik.
“Jangan jadi pengecut lo! Cuma bisa main kasar! bilang apa mau lo!” hardik Vino
yang tak mengubah sikap si pemuda sama sekali.
“Lo terima tawaran papa?” tanya pemuda itu sinis sembari mendekatkan wajahnya
kepada Vino. Vino hanya mengerutkan kening. Profesor yang ada dikepalanya
sedang mencoba menganalisis arah pembicaraan pemuda itu.
“maksud lo Pertunangan gue sama Marsha?” kata Vino balik bertanya dengan senyum
lepas setelah berhasil menangkap maksud pemuda yang sedang mencengkrem kerah
bajunya itu.
“Lo terima?” tanya pemuda itu lagi. Kali ini dia mengepalkan tangan kanan nya.
“Iya,” jawab Vino datar.
BUUGHH!!
Sebuah
pukulan mentah bersarang dipipi kiri Vino. Menyisakan bekas membiru dan setetes
darah segar yang mengalir disudut bibir kirinya.
“Kenapa?” tanya Vino seakan baru menyadari jika lawan bicara yang sedang
berdiri didepannya itu juga menaruh hati kepada sang bidadari.
“Marsha bebas! Dia bukan milik lo! Dia mau sama gue dan dia juga menerima
tawaran itu. Bukan Cuma lo yang bisa jatuh hati sama bidadari secantik dia!”
kata Vino balas menggertak. Pemuda itu mendelik.
“Lo pengecut! Jangan Cuma bisa main kasar! Pakai otak lo! Jangan Cuma lo jadiin
pajangan aja!” kata Vino dengan senyum kemenangan. Pemuda itu kembali melekatkan
pendangannya kepada Vino.
“Keluar lo!” kata pemuda itu seraya mendorong tubuh Vino setelah dia membuka
pintu. Alvin tersungkur dibibir pintu. Namun dia memilih mengalah dan berdamai
dengan keadaan.
“Lo bawa gue kesini cuma buat nunjukin kekuatan fisik lo! Tapi nyali lo bahkan
nggak lebih bagus dari gue!” maki Vino kepada pemuda itu. Namun.... BRAAKK!!
Makian Vino hanya dibalas dengan bantingan pintu. Samar-samar terdengar pemuda
tadi juga memaki-maki Vino dari dalam paviliun. Vino hanya tersenyum datar. Dia
segera beranjak dari tempat itu sebelum orang tuanya mengetahui hal yang telah
terjadi antara dia dan pemuda itu, saudara tirinya.
**********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar