Jumat, 20 September 2013

Mungkin Bukan Aku.. (chapter II)

Mungkin Bukan Aku
Chapter II
“Mungkinkah cinta berpihak pada kita?”


“Gimana Sha?” tanya Felish kepada Marsha yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.
                “Gimana apanya?” kata Marsha balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Felish.
                “ya Dinner,” jawab Felish datar.
                “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Marsha dengan ekspresi linglungnya.
                “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Felish yang mulai gemas dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.
                “Oh iya gue lupa!” cengir Marsha.
                “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Marsha.
                “Ada berita bagus?” tanya Felish kembali mendatarkan ekspresinya. Marsha tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.
                “Sha!” seru Felish dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab.
“Gue...” Marsha menggantungkan kalimatnya.
“Iya? Lo kenapa?” tanya Felish penasaran.
“Gu... gue...ehmm.. gue... gue mau tunangan sama Vino Lish,” jawab Marsha dengan sekali tarikan nafas yang membuat Felish tercekat.
“Lo mau tunangan sama Vino?” kata Felish mengulang perkataan sahabatnya. Marsha hanya mengangguk.
“Serius lo?” tanyanya lagi.
“Iya. Tapi itu masih rencana orang tua kami,” jawab Marsha dengan senyumnya yang hambar. Felish tak mampu berkata lagi. Hatinya bak dihantam palu godam ribuan kilogram mendengar pengakuan tulus dari bibir Marsha. Sedikit perasaan bersalah tertoreh dihatinya. Penyesalan yang kini dirasakannya karena dia telah berani menaruh hati kepada kekasih sahabatnya.
“Selamat deh kalo gitu,” kata Felish berusaha tersenyum menyembunyikan luka yang terselip dihatinya. Marsha tersenyum mendengar ucapan sahabatnya yang mendukungnya walau dia tidak mengetahui bahwasanya sang sahabat kini sedang berusaha menepis luka yang tergores dihatinya.
Morning dear, kok udah datang?” kata seseorang tiba-tiba setelah memasuki kelas. Marsha dan Felish segera menatap arah datangnya suara.
“Vino?” seru Marsha dengan senyuman yang merekah dibibirnya. Vino mendekati Marsha dan membelai lembut rambutnya. Mengalirkan kasih sayang dari jemari tangannya. Dua sejoli ini larut dalam kemesraan tanpa mempedulikan Felish yang sejak tadi hanya mampu memendam kedongkolannya. Vino semakin frontal. Perlahan dia mendekatkan wajahnya kepada Marsha. Sebuah kecupan hampir mendarat dipipi kiri Marsha andai Felish tak mencegahnya.
“Ehm.. ehm.. kok gue jadi disuguhin adegan FTV gini?” celetuk Felish yang tidak ingin melihat adegan yang lebih frontal lagi didepannya. Yang akan semakin menghancurkan hatinya.
“Gue lupa ada lo disitu Lish !” kata Vino datar sembari mengedarkan pandangan kesekitarnya. Hanya ada dia, Marsha, dan Felishia diruangan itu.
“Ya udah deh kalo gitu. Gue mau cari angin dulu. Daripada disini jadi obat nyamuk,” kata Felish sembari melenggang pergi meninggalkan dua sejoli itu dalam kemesraan. Sebuah senyuman hambar dilayangkannya kepada Marsha sesaat sebelum dia melangkah pergi. Senyuman yang menandakan dukungannya kepada sahabatnya itu dan juga sebagai pelampiasan rasa sesal. Sesal yang begitu mendalam yang kini tengah dia rasakan.
**********
Sinar jingga matahari senja menghiasi danau buatan milik Bastian Corp. Seorang pemuda dengan manja menyandarkan kepalanya diatas pangkuan seorang gadis. Gadis itu mengacak-acak lembut rambut pemuda yang berada dipangkuannya. Binar kebahagiaan dan kedamaian terpancar dari wajah keduanya.
“Damai banget disini Vin,” kata sang gadis kepada sang pemuda.
“Jadi betah lama lama disini,” lanjutya kemudian. Pemuda itu hanya tersenyum lantas bengun dan duduk disamping gadisnya.
“Kamu tahu Sha? Bagiku berada dimana aja akan terasa damai asal bisa berada di sisi bidadari secantik kamu,” ujar pemuda yang tak lain adalah Vino sembari menggenggam dan mengecup mesra punggung tangan gadisnya, Marsha. Gadis itu hanya tersenyum melihat perlakuan istimewa Vino kepadanya. Dia merasa sangat beruntung bisa memiliki pengeran setampan dan seromantis Vino. Walaupun satu hal yang membuatnya heran hingga saat ini. Dia tidak pernah sekalipun merasakan degup jantungnya berdetak melebihi frekuensi normal ketika bersama Vino. Sama sekali tidak pernah.
“Udah sore Vin. Pulang yok?” kata Marsha memecahkan keheningan.
“Tadi katanya betah berlama-lama disini,” cibir Vino. Lagi-lagi Marsha hanya tersenyum.
“Ya udah kalau kamu nggak mau ngantar pulang! Aku pulang sendiri!” kata Marsha ketus seraya beranjak dari tempatnya dan melangkah meninggalkan Vino. Vino hanya tersenyum melihat polah gadisnya. Dia tahu jika Marsha tidak benar-benar marah.
“Tapi aku masih pengen berdua sama kamu disini Sha,” kata Vino yang masih berada diposisinya. Marsha menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Vino. Sebuah senyuman merekah dibibirnya.
But, first you must take me from my parents,” goda Marsha. Tawa Vino meledak saat mendengar ucapan gadisnya. Dia segera beranjak menuju tempat gadisnya sedang berdiri.
Of course I’ll do it princess. But, not now,” bisik Vino saat dia sudah berdiri dihadapan Marsha. Gadis itu hanya menjulurkan lidahnya kemudian berlari meninggalkan pangeran nya. Sementara Vino yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan segera mengejar Marsha dan merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.
I wanna you to be mine, girl,” bisiknya tepat ditelinga Marsha yang sedang berada dalam dekapannya. Kemudian meluncurkan kecupan lembut di daun telinga gadisnya itu.

**********
Seorang pemuda jakung berkulit sawo matang duduk termenung ditepi tempat tidurnya. Tatapan kosong di arahkannya ke lantai tempatnya berpijak sekarang. Suara derum mobil yang memasuki area rumahnya terdengar hingga kamarnya.
“Lo baru pulang Vin?” lirihnya yang sudah bisa menebak bahwa itu suara mobil Vino sembari tersenyum hambar. Pemuda itu menghela nafas. Mencoba merenungi kisahnya. Mencoba mencerna kata-kata Vino, saudara tirinya dua hari yang lalu.
“Lo boleh bilang gue pengecut Vin. Tapi rasa gue ke Marsha itu tulus, bahkan melebihi lo. Dan lo akan lihat itu,” katanya lagi seolah-olah Vino sedang bersamanya. Sebuah senyum kecut terbentuk dibibirnya saat dia kembali teringat hal-hal yang terjadi antara dia dan Vino sebulan terakhir ini. Pertengkaran, adu mulut, hingga perkelahian sudah akrab menyapa mereka berdua. Rasa sesal perlahan-lahan menyelimuti hati pemuda itu. Bukan sesal karena kenyataan yang mengatakan jika gadis yang dipujanya adalah milik saudara tirinya. Namun rasa sesal yang tercipta karena hubungannya yang semakin merenggang dengan Vino. Awalnya tak pernah seperti ini. Walaupun mereka saudara tiri, namun ikatan yang terbentuk diantara mereka cukup kuat. Dan kini ikatan itu seakan sirna karena dia dan Vino mencintai gadis yang sama.
                Pemuda itu meraih sebuah pigura dari atas meja kecil disudut kamarnya. Gambar seorang wanita paruh baya dan seorang gadis berparas manis tersimpan rapi didalamnya.
                “Mama, Febby, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya kepada gambar kedua kaum hawa yang sekarang berada dalam dekapannya. Air mata nya jatuh perlahan dan membuat matanya memerah.

**********
                Seorang gadis berkacamata berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang. Dia hampir tidak mempedulikan apa-apa yang dilaluinya. Pikirannya sedang terfokus pada satu hal. Sampai digerbang sekolah secepatnya sebelum dia tidak bisa menemukan taksi untuk mengantarnya pulang karena sopir pribadinya tidak dapat menjemputnya.
                “Aw...,” teriak gadis yang tak lain adalah Felishia ketika seseorang tanpa sengaja menabraknya.
                “Sorry Lish, gue nggak sengaja,” kata si penabrak sembari membatu Felish berdiri. Ia merasa ada sesuatu yang hilang darinya. Kacamatanya. Yang membuat pemandangan sekitarnya kini tampak suram olehnya. Namun tiba-tiba dia tercekat. Walau tanpa kacamata desiran darahnya telah memberitahu dirinya siapa orang yang sekarang sedang berdiri dihadapannya. Seorang pemuda yang dipujanya. Walau kini pemuda itu menjadi milik sahabatnya.
                “No matter Vin. Aku tadi jalannya juga nggak lihat-lihat,” kata Felish menahan tingkahnya yang mulai salah.
                “Iya Lish, tapi....,” Vino menggantungkan kalimatnya.
                “tapi apa Vin?” tanya Felish penasaran karena pandangannya kini benar-benar suram. Vino sedikit berlutut untuk mengambil sebuah frame kacamata yang ada dibawah kakinya dan menyodorkannya kepada Felish.
                “Kacamata lo pecah Lish,” jawab Vino dengan nada penuh sesal. Felish terkejut. Kacamata itu adalah kesayangannya. Ingin sekali rasanya dia marah dan memaki-maki Vino andai dia tidak ingat jika Vino adalah pangeran hatinya.
                “Ehm, ya udah Vin gak apa kok,” kata Felish dengan senyum yang dipaksakan. Dia menggerutu dalam hati. Memang sudah lama dia mengimpikan momen seperti ini. Bisa bercakap-cakap berdua saja dengan pangerannya. Namun kenapa ketika hal itu terwujud harus ada barang kesayangannya yang hilang darinya?
                ‘Ah sudahlah. Semua butuh pengorbanan,’ katanya dalam hati mendamaikan jiwanya.
                “Tapi ini kan salah satu barang kesayangan kamu ?” kata Vino lagi masih dengan nada menyesal. Felish kembali tercekat mendengar perkataan pujaan hatinya.
                “Eng... eng... kok kamu tahu?” tanya Felish yang sudah mulai sedikit salah tingkah. Pertahanan gadis ini memang tak lebih baik dari Marsha, sahabatnya.
                “Marsha banyak cerita tentang kamu. Oh ya, kacamata kamu gimana?” tanya Vino prihatin.
Deg….. Marsha? Mendengar nama itu disebut rona kecewa tampak tergurat diwajah Felish. Dia hampir melupakan satu hal. Bahwa lelaki yang sedang berada dihadapannya kini adalah kekasih Marsha. Bahkan calon tunangan sahabat nya itu
                “Nggak apa-apa Vin. Aku masih punya yang lain,” jawab Felish berusaha meyakinkan Vino agar tidak terus-menerus merasa bersalah.
                “Aku nggak enak sama kamu Lish. Ehm.. gimana kalo kita ke optik aja? Hari ini kamu diantar kan? Biar aku antar kamu pulang sekalian,” kata Vino yang hampir lupa penggunaan tanda baca saking senangnya karena profesor yang ada dikepalanya berhasil menemukan  ide yang brilian untuk mengobati rasa bersalahnya.
                “Ke optik? Mau ngapain?” tanya Felish linglung.
                “mau berenang! Ya beli kacamata lah Lish, Biar aku ganti kacamata kamu,” jelas Vino. Sembari di dasari dengan kata kata lelucon yang membuat Felish mengerutkan kening.
                “Tapi..,” belum sempat Felish menyelesaikan kalimatnya Vino sudah berhasil meraih tangannya dan menuntunnya menuju mobil. Felish hanya pasrah.
                “Tapi Vin, kamu nggak perlu….,”
                “Udah deh! Nggak ada tapi-tapian!” kata Vino memotong perkataan Felish sembari membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu. Felish hanya bisa pasrah dan mengikuti titah Vino. Vino lantas masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi setelah Felish berada didalam mobilnya juga. Segera dia menghidupkan mesin Honda jazz biru nya itu dan melenggang pergi meninggalkan area sekolah. Felish yang sekarang berada disamping pujaan hatinya (baca: dan hanya berdua) hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya. Tak bisa dipungkiri jika dia benar-benar merasa senang mendapat kesempatan seperti ini. Namun, satu hal yang tak bisa dia lupakan dan selalu menuntutnya untuk mengingat hal itu. Satu hal penting adalah: Vino milik Marsha dan…. calon tunangannya. Felish hanya mampu tersenyum hambar tanpa arti didalam hati mengetahui kenyataan yang ada padanya.
                Sementara disisi lain, sadar atau tidak, sejak meninggalkan area sekolah tadi Vino belum bisa mengalihkan pandangannya dari sosok gadis yang berada disampingnya, Felish. Walaupun hanya ekor matanya yang mengamati gadis itu karena dia harus tetap fokus dengan apa yang ada didepannya, namun dia menangkap sesuatu yang lain dari Felish. Gadis itu tampak lebih cantik dan anggun dari yang biasa Vino ketahui tanpa kacamata yang selalu melekat di matanya. Dan perlahan tapi pasti degup jantung Vino bertambah ditiap detiknya. Hampir saja tangannya yang sedang memegang kemudi ikut bergetar jika dia tidak berusaha mati-matian untuk mengendalikannya. Setetes keringat dingin mengalir dari pelipis kirinya. Tanda jika pemuda itu sedang nervous. Dan hal itu yang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dihati Vino. Mengapa dia tak pernah sekalipun merasakan hal ini saat bersama Marsha, gadisnya? Mengapa dia justru merasakannya saat bersama gadis lain?
                Baik Vino maupun Felish kini sedang terenyuh dipikirannya masing-masing. Sejak tiga puluh menit yag lalu tak sepatah katapun yang terdengar dari bibir keduanya. Keduannya sama-sama diam. Membisu. Sekali lagi Vino berusaha melirik Felish setelah dia sukses mengalihkan pandangannya sekitar lima belas detik yang lalu. Sebuah senyum yang nampak janggal terbentuk dibibirnya seiring dengan munculnya lampu yang bersinar terang di atas kepalanya.
                “Masih jauh Vin?” Felish memberanikan diri untuk memulai percakapan walau dia masih juga tidak berani menengok kearah lawan bicaranya. Vino menoleh lantas tersenyum. Dipandangnya wajah gadis itu lekat-lekat kemudian dia kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya.
                “Bentar lagi juga sampe kok ,” masih dengan senyum janggalnya. Felish hanya mendengus kesal. Bagaimana tidak? Pasalnya sejak dua puluh menit yang lalu Vino hanya mendiamkannya. Dan setelah dia memberanikan diri untuk memulai percakapan, pemuda itu hanya memberikan jawaban singkat yang menggemaskan pendengarnya. Felish kembali menggerutu dalam hati dan merutuki Vino.
                “Nah, udah sampae deh,” kata Vino girang seraya mematikan mesin mobilnya setelah mereka tiba disebuah optik ternama. Segera dia turun dan berlari mengitari mobilnya. Membukakan pintu untuk Felish. Felish berusaha mengendalikan diri agar wajahnya tidak merona.
                “Yuk turun,” kata Vino yang masih mempertahankan senyumannya. Felish hanya menurut lalu menguntit dibelakang Vino. Namun, tanpa di duga Vino justru menarik tangannya sehingga posisinya sekarang dengan pemuda itu. Beberapa optician menyambut mereka.
                “Tolong bantu teman saya ini untuk memilih softlens yang tepat untuknya,” kata Vino ringan kepada salah satu dari mereka sembari melirik Felish, Felish hanya tersentak.
                “Soft... softlens? ” tanya Felish heran.
                “Iya softlens. Kan kamu bilang tadi masih punya kacamata yang lain dirumah? Buat apa beli lagi?” jawab Vino setengah asal. Felish masih juga heran dengan sikap kekasih sahabatnya ini.
                “Ta.. tapi Vin?” Felish mencoba membantah. Dia belum pernah sekalipun memakai benda yang disebut softlens itu. Sebuah ‘kengerian’ hebat tergambar dibenaknya.
                “Udah lah Lish. Kamu coba dulu,” kata Vino sembari mendorong Felish agar segera mengikuti si optician. Senyum kemenangan terbentuk dibibirnya setelah Felish dan si optician menghilang dibalik pintu sebuah ruangan.
**********
                Alvin berdecak sembari membolak-balik sebuah katalog di ruang tunggu. Sesekali diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam lebih dan Felish belum juga menampakkan batang hidungnya. Dirogohnya sebuah BB torch dari sakunya kalau-kalau ada pesan masuk dari Marsha, kekasihnya. Namun, yang didapatinya hanya layar hitam kelam karena ternyata benda elektronik itu telah kehilangan nyawa. Vino menggerutu dalam hati.
                “Vin....,” kata seseorang dari belakang punggungnya. Dia segera berbalik. Sebuah senyum kepuasan terbentuk dibibirnya.
                “Tu kan, jadi tambah cantik!” cibir Vino. Felish hanya diam. Menutupi raut merah wajahnya. Cibiran Vino lebih terdengar sebagai pujian baginya mendengar kata cantik terucap diakhir kalimatnya.
                “Kamu nyebelin,” balas Felish yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
                “I’m really sure, Nona. You look  pretier without your glasses,” kata Vino berusaha meyakinkan gadis yang berada didepannya itu. Felish tak bereaksi apa-apa. Sudah tentu rona-rona merah sedang menghiasi wajahnya tatkala dia mendengar ucapan tulus dari pujaan hatinya itu.
                “Ya udah deh. Yuk!” kata Alvin lagi seraya menggandeng Via berjalan keluar meninggalkan optik itu.
                “Silakan naik Neng,” kata Vino sembari membukakan pintu mobil untuk Felish. Felish hanya menuruti apa yang dikatakan pria di depan nya. Vino segera masuk ke mobil dan mengendarainya meninggalkan area optik itu. Suasana kembali lengang seperti semula. Tak sepatah katapun terucap baik dari Vino maupun Felish. Felish masih menggerutu dalam hati akibat perbuatan Vino. Walau sebagian hatinya tersenyum karena pujian Vino namun rona kekesalan tetap tergambar jelas diwajahnya.
                “Kamu nggak percaya Vi?” kata Vino memecahkan keheningan tiba tiba.
                “Apa?” tanya Felish dengan nada ketus.
                “Kamu terlihat makin cantik Vi tanpa kacamata,” puji Vino –lagi- tulus pada gadis yang berada disebelahnya.
                “Udah deh nggak usah nggombal!” balas Felish seakan meragukan pujian tulus Vino.
                “Terserah kamu percaya atau enggak. Tapi yang jelas, aku nggak pernah main-main sama pujian. Jika aku memuji, maka itu tulus dari dasar hatiku,” kata Vino datar. Sinar ketulusan nampak jelas dimatanya. Perlahan Felish mulai menyesali sikap egoisnya melihat Vino yang nampak telah berputus asa membujuk dirinya.
                “Sorry Vin. I didn’t mean to hurt you,” kata Felish akhirnya dengan penuh rasa penyesalan. Vino hanya tersenyum datar. Dipandangnya gadis itu sekilas sebelum dia kembali memfokuskan pendangannya ke jalanan yang sedang dilaluinya.
                “No matter. You never hurt me,” balas Vino dengan senyuman kecil. Felish juga ikut tersenyum mendengar kebaikan hati dari sang pujaan hati. Sesaat dia memandang Vino sebelum dia kembali terenyuh ke alam bawah sadarnya.
                “Lish, kita mampir ke taman dulu ya?” celetuk Vino yang lagi-lagi sukses membawa Felish kembali lagi ke dunia nyata.
                “Ha? Ap.. apa Vin?” tanya Felish gelagapan dengan linglunganya. Vino hanya terkikik melihat tingkah gadis yang berada di samping nya itu.
                “Hobi banget ngelamun sih Lish?” Vino sedikit menahan tawa. Rona merah menyelimuti pipi Felish mendengar perkataan Vino.
                “Hahaha. Kita mampir ke taman dulu ya?” Vino mengulang kalimatnya diiringi dengan gelak tawanya.
                “Tapi Vin? Ini kan udah sore!” Felish mengutarakan keterkejutannya sembari menunjuk gelang jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
                “Aku udah terlambat pulang!” lanjutnya. Vino tampak kecewa mendengar jawaban yang diutarakan Felish.
                “Lima belas menit aja. Please..” pinta Vino sedikit memelas. Selayang tatapan memelas juga dilayangkan mata sipitnya. Perlahan, Felish mulai luluh dengan tatapan pangeran hatinya itu.
                “Ya udah. Lima belas menit! Gk lebih dan gak kurang” kata Felish akhirnya dengan penuh penekanan diakhir kalimatnya. Vino tersenyum senang.
                “Siplah,” katanya sembari mengacungkan ibu jari kirinya.
**********
                Vimo menggandeng Felish menuju bagian paling ujung taman. Ada sebuah bangku putih yang masih tersisa disalah satu sudutnya. Dia mendahului Felish duduk di bangku itu seraya melepaskan ketegangannya hari ini. Felish menyusul duduk disamping pemuda itu. Kali ini hampir tak ada jarak antara mereka. Sebuah pemandangan yang sudah tak asing lagi turut menyapa mereka. Anak-anak yang sedang asyik bermain dan para orang tua yang sedang mengawasi buah hati mereka dengan penuh kasih dan sayang. Pemandangan yang selalu mengingatkan Vino dengan masa kanak-kanaknya.
                “Kenapa kamu ajak aku kesini Vin?” tanya Felish memecahkan keheningan mereka ditengah-tengah keramaian taman kota. Lagi-lagi Vino hanya tersenyum datar.
                “Aku senang melihat anak-anak asyik bermain Lish. Mengingatkan aku pada masa kecilku, yang menurutku merupakan masa terindah. Penuh canda tawa tanpa duka. Tanpa pertikaian, tanpa konfik, dan tanpa kesalahpahaman,” tutur Vino bijak. Felish hanya mampu diam dan diam. Meresapi setiap kata yang diucapkan oleh pangeran hatinya.
                “Iya Vin. Kamu benar,” lirih Felish.
                “Tapi tetap saja Lish Tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya harus melewati tahapan-tahapan tertentu. Dan kita tidak bisa memilih satu tahapan saja dalam hidup kita,” kata Vino sembari memandang gadis di sampingnya.
                “Kamu sering ketempat ini Vin?” tanya Felish. Vino hanya tersenyum, namun kali ini nampak berbeda dari biasanya.
                “Semenjak aku dapet banyak masalah, aku jadi sering banget pergi kesini. Andai aku bisa jadi anak-anak lagi,” jawab Vino menerawang. Felish tercekat mendengar kata-kata ‘banyak masalah’ yang diucapkan Vino.
                “Masalah?” tanya Felish sedikit ragu. Vino tersenyum hambar seraya menatap nanar ke bumi tempatnya berpijak.
                “Iya Lish. Tapi udahalah, penyesalan gak akan bisa ngerubah segalanya,” Vino mencoba tersenyum walau masih tampak kehambaran didalamnya. Felish masih tampak terkejut mendengar kenyataan yang dialami pujaan hatinya.
                “Marsha tahu masalah kamu?” tanya Felish lagi. Vino nampak terkejut mendengar pertanyaan Felish barusan. Vino menggeleng
                “Aku nggak mau membebani orang lain dengan memaksa mereka untuk turut merasakan apa yang aku rasakan. Apalagi orang terkasihku. Tak mungkin aku bercerita kepadanya, kepada orang lain saja tak pernah,” jawab Vino lirih. Wajah sang kekasih tergambar jelas dibenaknya.
                “Kamu boleh cerita sama aku kok Vin. Siapa tahu aku bisa bantu,” kata Felish hati-hati takut membuat ksalahan dalam kalimatnya.
                “Makasih Lish, kamu baik banget,” kata Vino sembari mengacak-acak rambut Felish.
                “ih Vinooo!! Aku nggak bawa sisir tau!!” protes Felish karena perlakuan Vino. Dengan asal dia menata dan menyisir rambutnya dengan jemarinya.
                “Hahaha, dasar cewek!” cibir Vino diiringi gelak tawanya. Namun Felish masih menampakkan ekspresi kesalnya.
                “Udah cantik kok. Jangan marah ya?” rayu Vino kepada Felish seraya menata poni gadis itu. Felish memalingkan wajahnya dari Vino sebelum pemuda itu melihat guratan merah dipipinya.
                “Pantesan Marsha jatuh hati dan jadi lengket banget sama kamu. Kamu pintar banget nggombalnya,” kata Felish ditengah-tengah kekesalannya. Tawa Vino seketika meledak.
                “Enggak juga kok. Nggak pintar-pintar amat,” kata Vino tersipu. Felish hanya tersenyum datar.
                ‘Lo beruntung banget dicintai pengeran setampan dan sebaik dia Sha,” gumam Felish dalam hati.
                “Lish? Kok bengong gitu?” tanya Vino sedikit khawatir melihat ekspresi Felish.
                “Ehm.. nggak apa-apa kok. Eh, udah lima belas menit lebih nih!” kata Felish seraya menunjuk jam tangannya.
                “Yah, aku kan masih mau disini,” protes Vini. Felish menggembungkan pipinya dan menatap Vino dengan tatapan tak bersahabat.
                “Janji adalah hutang!” kata Felish dengan dengan senyum kemenangan yang sedikit menekan. Vino hanya mampu mendengus kesal karena mengetahui dirinya kalah telak membujuk sahabat gadisnya itu.
                “Ya udah yuk,” kata Vino akhirnya seraya bangkit dari tempat duduknya dan entah sadar atau tidak tangannya kini sedang menggenggam tangan gadis yang berjalan disampingnya. Felish yang menyadari hal itu segera menghentikan langkahnya.
                “Ngapain berhenti?” Vino mengerutkan kening.
                “Lepasin deh. Nggak enak dilihat orang,” kata Felish seraya menarik tangannya dari genggaman Vino. Vino sendiripun nampak terkejut melihat tangan Felish berada dalam genggamannya.
                “eh Sorry,” kata Vino sedikit gelagapan. Felish hanya tersenyum kecut. Andai pangeran yang sedang bersamanya kini bukan milik sahabatnya.
  *****
~ continue ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by