Mungkin Bukan Aku
Chapter II
“Mungkinkah cinta
berpihak pada kita?”
“Gimana Sha?” tanya Felish kepada Marsha yang baru saja
datang dan duduk disebelahnya.
“Gimana apanya?” kata Marsha balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu
dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Felish.
“ya Dinner,” jawab Felish datar.
“Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Marsha dengan ekspresi
linglungnya.
“Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Felish yang mulai gemas dengan
tingkah sahabatnya yang satu ini.
“Oh iya gue lupa!” cengir Marsha.
“Tapi apanya yang gimana?” lanjut Marsha.
“Ada berita bagus?” tanya Felish kembali mendatarkan ekspresinya. Marsha tak
menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya
tidak bisa disembunyikan lagi.
“Sha!” seru Felish dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum sendiri
tanpa sebab.
“Gue...” Marsha menggantungkan kalimatnya.
“Iya? Lo kenapa?” tanya Felish penasaran.
“Gu... gue...ehmm.. gue... gue mau tunangan sama Vino Lish,”
jawab Marsha dengan sekali tarikan nafas yang membuat Felish tercekat.
“Lo mau tunangan sama Vino?” kata Felish mengulang perkataan
sahabatnya. Marsha hanya mengangguk.
“Serius lo?” tanyanya lagi.
“Iya. Tapi itu masih rencana orang tua kami,” jawab Marsha dengan
senyumnya yang hambar. Felish tak mampu berkata lagi. Hatinya bak dihantam palu
godam ribuan kilogram mendengar pengakuan tulus dari bibir Marsha. Sedikit
perasaan bersalah tertoreh dihatinya. Penyesalan yang kini dirasakannya karena
dia telah berani menaruh hati kepada kekasih sahabatnya.
“Selamat deh kalo gitu,” kata Felish berusaha tersenyum
menyembunyikan luka yang terselip dihatinya. Marsha tersenyum mendengar ucapan
sahabatnya yang mendukungnya walau dia tidak mengetahui bahwasanya sang sahabat
kini sedang berusaha menepis luka yang tergores dihatinya.
“Morning dear, kok udah datang?” kata seseorang tiba-tiba
setelah memasuki kelas. Marsha dan Felish segera menatap arah datangnya suara.
“Vino?” seru Marsha dengan senyuman yang merekah dibibirnya.
Vino mendekati Marsha dan membelai lembut rambutnya. Mengalirkan kasih sayang
dari jemari tangannya. Dua sejoli ini larut dalam kemesraan tanpa mempedulikan
Felish yang sejak tadi hanya mampu memendam kedongkolannya. Vino semakin
frontal. Perlahan dia mendekatkan wajahnya kepada Marsha. Sebuah kecupan hampir
mendarat dipipi kiri Marsha andai Felish tak mencegahnya.
“Ehm.. ehm.. kok gue jadi disuguhin adegan FTV gini?”
celetuk Felish yang tidak ingin melihat adegan yang lebih frontal lagi
didepannya. Yang akan semakin menghancurkan hatinya.
“Gue lupa ada lo disitu Lish !” kata Vino datar sembari
mengedarkan pandangan kesekitarnya. Hanya ada dia, Marsha, dan Felishia
diruangan itu.
“Ya udah deh kalo gitu. Gue mau cari angin dulu. Daripada disini
jadi obat nyamuk,” kata Felish sembari melenggang pergi meninggalkan dua sejoli
itu dalam kemesraan. Sebuah senyuman hambar dilayangkannya kepada Marsha sesaat
sebelum dia melangkah pergi. Senyuman yang menandakan dukungannya kepada
sahabatnya itu dan juga sebagai pelampiasan rasa sesal. Sesal yang begitu
mendalam yang kini tengah dia rasakan.
**********
Sinar jingga matahari senja menghiasi danau buatan milik
Bastian Corp. Seorang pemuda dengan manja menyandarkan kepalanya diatas
pangkuan seorang gadis. Gadis itu mengacak-acak lembut rambut pemuda yang
berada dipangkuannya. Binar kebahagiaan dan kedamaian terpancar dari wajah
keduanya.
“Damai banget disini Vin,” kata sang gadis kepada sang
pemuda.
“Jadi betah lama lama disini,” lanjutya kemudian. Pemuda itu
hanya tersenyum lantas bengun dan duduk disamping gadisnya.
“Kamu tahu Sha? Bagiku berada dimana aja akan terasa damai
asal bisa berada di sisi bidadari secantik kamu,” ujar pemuda yang tak lain
adalah Vino sembari menggenggam dan mengecup mesra punggung tangan gadisnya,
Marsha. Gadis itu hanya tersenyum melihat perlakuan istimewa Vino kepadanya.
Dia merasa sangat beruntung bisa memiliki pengeran setampan dan seromantis Vino.
Walaupun satu hal yang membuatnya heran hingga saat ini. Dia tidak pernah
sekalipun merasakan degup jantungnya berdetak melebihi frekuensi normal ketika
bersama Vino. Sama sekali tidak pernah.
“Udah sore Vin. Pulang yok?” kata Marsha memecahkan
keheningan.
“Tadi katanya betah berlama-lama disini,” cibir Vino.
Lagi-lagi Marsha hanya tersenyum.
“Ya udah kalau kamu nggak mau ngantar pulang! Aku pulang
sendiri!” kata Marsha ketus seraya beranjak dari tempatnya dan melangkah
meninggalkan Vino. Vino hanya tersenyum melihat polah gadisnya. Dia tahu jika Marsha
tidak benar-benar marah.
“Tapi aku masih pengen berdua sama kamu disini Sha,” kata
Vino yang masih berada diposisinya. Marsha menghentikan langkahnya dan berbalik
memandang Vino. Sebuah senyuman merekah dibibirnya.
“But, first you must take me from my parents,” goda
Marsha. Tawa Vino meledak saat mendengar ucapan gadisnya. Dia segera beranjak
menuju tempat gadisnya sedang berdiri.
“Of course I’ll do it princess. But, not now,” bisik
Vino saat dia sudah berdiri dihadapan Marsha. Gadis itu hanya menjulurkan
lidahnya kemudian berlari meninggalkan pangeran nya. Sementara Vino yang tidak
ingin menyia-nyiakan kesempatan segera mengejar Marsha dan merengkuh gadis itu
kedalam pelukannya.
“I wanna you to be mine, girl,” bisiknya tepat
ditelinga Marsha yang sedang berada dalam dekapannya. Kemudian meluncurkan
kecupan lembut di daun telinga gadisnya itu.
**********
Seorang pemuda jakung berkulit sawo matang duduk termenung
ditepi tempat tidurnya. Tatapan kosong di arahkannya ke lantai tempatnya
berpijak sekarang. Suara derum mobil yang memasuki area rumahnya terdengar
hingga kamarnya.
“Lo baru pulang Vin?” lirihnya yang sudah bisa menebak bahwa
itu suara mobil Vino sembari tersenyum hambar. Pemuda itu menghela nafas.
Mencoba merenungi kisahnya. Mencoba mencerna kata-kata Vino, saudara tirinya
dua hari yang lalu.
“Lo boleh bilang gue pengecut Vin. Tapi rasa gue ke Marsha
itu tulus, bahkan melebihi lo. Dan lo akan lihat itu,” katanya lagi seolah-olah
Vino sedang bersamanya. Sebuah senyum kecut terbentuk dibibirnya saat dia
kembali teringat hal-hal yang terjadi antara dia dan Vino sebulan terakhir ini.
Pertengkaran, adu mulut, hingga perkelahian sudah akrab menyapa mereka berdua.
Rasa sesal perlahan-lahan menyelimuti hati pemuda itu. Bukan sesal karena
kenyataan yang mengatakan jika gadis yang dipujanya adalah milik saudara
tirinya. Namun rasa sesal yang tercipta karena hubungannya yang semakin
merenggang dengan Vino. Awalnya tak pernah seperti ini. Walaupun mereka saudara
tiri, namun ikatan yang terbentuk diantara mereka cukup kuat. Dan kini ikatan
itu seakan sirna karena dia dan Vino mencintai gadis yang sama.
Pemuda itu meraih sebuah pigura dari atas meja kecil disudut kamarnya. Gambar
seorang wanita paruh baya dan seorang gadis berparas manis tersimpan rapi
didalamnya.
“Mama, Febby, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya kepada gambar kedua
kaum hawa yang sekarang berada dalam dekapannya. Air mata nya jatuh perlahan
dan membuat matanya memerah.
**********
Seorang gadis berkacamata berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor sekolah yang
mulai lengang. Dia hampir tidak mempedulikan apa-apa yang dilaluinya.
Pikirannya sedang terfokus pada satu hal. Sampai digerbang sekolah secepatnya
sebelum dia tidak bisa menemukan taksi untuk mengantarnya pulang karena sopir
pribadinya tidak dapat menjemputnya.
“Aw...,” teriak gadis yang tak lain adalah Felishia ketika seseorang tanpa
sengaja menabraknya.
“Sorry Lish, gue nggak sengaja,” kata si penabrak sembari membatu Felish
berdiri. Ia merasa ada sesuatu yang hilang darinya. Kacamatanya. Yang membuat
pemandangan sekitarnya kini tampak suram olehnya. Namun tiba-tiba dia tercekat.
Walau tanpa kacamata desiran darahnya telah memberitahu dirinya siapa orang
yang sekarang sedang berdiri dihadapannya. Seorang pemuda yang dipujanya. Walau
kini pemuda itu menjadi milik sahabatnya.
“No matter Vin. Aku tadi jalannya juga nggak lihat-lihat,” kata Felish
menahan tingkahnya yang mulai salah.
“Iya Lish, tapi....,” Vino menggantungkan kalimatnya.
“tapi apa Vin?” tanya Felish penasaran karena pandangannya kini benar-benar
suram. Vino sedikit berlutut untuk mengambil sebuah frame kacamata yang
ada dibawah kakinya dan menyodorkannya kepada Felish.
“Kacamata lo pecah Lish,” jawab Vino dengan nada penuh sesal. Felish terkejut.
Kacamata itu adalah kesayangannya. Ingin sekali rasanya dia marah dan
memaki-maki Vino andai dia tidak ingat jika Vino adalah pangeran hatinya.
“Ehm, ya udah Vin gak apa kok,” kata Felish dengan senyum yang dipaksakan. Dia
menggerutu dalam hati. Memang sudah lama dia mengimpikan momen seperti ini.
Bisa bercakap-cakap berdua saja dengan pangerannya. Namun kenapa ketika hal itu
terwujud harus ada barang kesayangannya yang hilang darinya?
‘Ah sudahlah. Semua butuh pengorbanan,’ katanya dalam hati mendamaikan jiwanya.
“Tapi ini kan salah satu barang kesayangan kamu ?” kata Vino lagi masih dengan
nada menyesal. Felish kembali tercekat mendengar perkataan pujaan hatinya.
“Eng... eng... kok kamu tahu?” tanya Felish yang sudah mulai sedikit salah
tingkah. Pertahanan gadis ini memang tak lebih baik dari Marsha, sahabatnya.
“Marsha banyak cerita tentang kamu. Oh ya, kacamata kamu gimana?” tanya Vino
prihatin.
Deg…..
Marsha? Mendengar nama itu disebut rona kecewa tampak tergurat diwajah Felish.
Dia hampir melupakan satu hal. Bahwa lelaki yang sedang berada dihadapannya
kini adalah kekasih Marsha. Bahkan calon tunangan sahabat nya itu
“Nggak apa-apa Vin. Aku masih punya yang lain,” jawab Felish berusaha
meyakinkan Vino agar tidak terus-menerus merasa bersalah.
“Aku nggak enak sama kamu Lish. Ehm.. gimana kalo kita ke optik aja? Hari ini
kamu diantar kan? Biar aku antar kamu pulang sekalian,” kata Vino yang hampir
lupa penggunaan tanda baca saking senangnya karena profesor yang ada
dikepalanya berhasil menemukan ide yang brilian untuk mengobati rasa
bersalahnya.
“Ke optik? Mau ngapain?” tanya Felish linglung.
“mau berenang! Ya beli kacamata lah Lish, Biar aku ganti kacamata kamu,” jelas
Vino. Sembari di dasari dengan kata kata lelucon yang membuat Felish
mengerutkan kening.
“Tapi..,” belum sempat Felish menyelesaikan kalimatnya Vino sudah berhasil
meraih tangannya dan menuntunnya menuju mobil. Felish hanya pasrah.
“Tapi Vin, kamu nggak perlu….,”
“Udah deh! Nggak ada tapi-tapian!” kata Vino memotong perkataan Felish sembari
membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu. Felish hanya bisa pasrah dan
mengikuti titah Vino. Vino lantas masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang
kemudi setelah Felish berada didalam mobilnya juga. Segera dia menghidupkan
mesin Honda jazz biru nya itu dan melenggang pergi meninggalkan area
sekolah. Felish yang sekarang berada disamping pujaan hatinya (baca: dan hanya
berdua) hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Menyembunyikan rona merah
yang menghiasi pipinya. Tak bisa dipungkiri jika dia benar-benar merasa senang
mendapat kesempatan seperti ini. Namun, satu hal yang tak bisa dia lupakan dan
selalu menuntutnya untuk mengingat hal itu. Satu hal penting adalah: Vino milik
Marsha dan…. calon tunangannya. Felish hanya mampu tersenyum hambar tanpa arti
didalam hati mengetahui kenyataan yang ada padanya.
Sementara disisi lain, sadar atau tidak, sejak meninggalkan area sekolah tadi
Vino belum bisa mengalihkan pandangannya dari sosok gadis yang berada
disampingnya, Felish. Walaupun hanya ekor matanya yang mengamati gadis itu
karena dia harus tetap fokus dengan apa yang ada didepannya, namun dia menangkap
sesuatu yang lain dari Felish. Gadis itu tampak lebih cantik dan anggun dari yang
biasa Vino ketahui tanpa kacamata yang selalu melekat di matanya. Dan perlahan
tapi pasti degup jantung Vino bertambah ditiap detiknya. Hampir saja tangannya
yang sedang memegang kemudi ikut bergetar jika dia tidak berusaha mati-matian
untuk mengendalikannya. Setetes keringat dingin mengalir dari pelipis kirinya.
Tanda jika pemuda itu sedang nervous. Dan hal itu yang menimbulkan sebuah
pertanyaan besar dihati Vino. Mengapa dia tak pernah sekalipun merasakan hal
ini saat bersama Marsha, gadisnya? Mengapa dia justru merasakannya saat bersama
gadis lain?
Baik Vino maupun Felish kini sedang terenyuh dipikirannya masing-masing. Sejak
tiga puluh menit yag lalu tak sepatah katapun yang terdengar dari bibir
keduanya. Keduannya sama-sama diam. Membisu. Sekali lagi Vino berusaha melirik
Felish setelah dia sukses mengalihkan pandangannya sekitar lima belas detik
yang lalu. Sebuah senyum yang nampak janggal terbentuk dibibirnya seiring
dengan munculnya lampu yang bersinar terang di atas kepalanya.
“Masih jauh Vin?” Felish memberanikan diri untuk memulai percakapan walau dia
masih juga tidak berani menengok kearah lawan bicaranya. Vino menoleh lantas
tersenyum. Dipandangnya wajah gadis itu lekat-lekat kemudian dia kembali
memfokuskan pandangannya ke jalan raya.
“Bentar lagi juga sampe kok ,” masih dengan senyum janggalnya. Felish hanya
mendengus kesal. Bagaimana tidak? Pasalnya sejak dua puluh menit yang lalu Vino
hanya mendiamkannya. Dan setelah dia memberanikan diri untuk memulai
percakapan, pemuda itu hanya memberikan jawaban singkat yang menggemaskan
pendengarnya. Felish kembali menggerutu dalam hati dan merutuki Vino.
“Nah, udah sampae deh,” kata Vino girang seraya mematikan mesin mobilnya
setelah mereka tiba disebuah optik ternama. Segera dia turun dan berlari
mengitari mobilnya. Membukakan pintu untuk Felish. Felish berusaha
mengendalikan diri agar wajahnya tidak merona.
“Yuk turun,” kata Vino yang masih mempertahankan senyumannya. Felish hanya
menurut lalu menguntit dibelakang Vino. Namun, tanpa di duga Vino justru
menarik tangannya sehingga posisinya sekarang dengan pemuda itu. Beberapa
optician menyambut mereka.
“Tolong bantu teman saya ini untuk memilih softlens yang tepat untuknya,” kata
Vino ringan kepada salah satu dari mereka sembari melirik Felish, Felish hanya
tersentak.
“Soft... softlens? ” tanya Felish heran.
“Iya softlens. Kan kamu bilang tadi masih punya kacamata yang lain
dirumah? Buat apa beli lagi?” jawab Vino setengah asal. Felish masih juga heran
dengan sikap kekasih sahabatnya ini.
“Ta.. tapi Vin?” Felish mencoba membantah. Dia belum pernah sekalipun memakai
benda yang disebut softlens itu. Sebuah ‘kengerian’ hebat tergambar
dibenaknya.
“Udah lah Lish. Kamu coba dulu,” kata Vino sembari mendorong Felish agar segera
mengikuti si optician. Senyum kemenangan terbentuk dibibirnya setelah Felish
dan si optician menghilang dibalik pintu sebuah ruangan.
**********
Alvin berdecak sembari membolak-balik sebuah katalog di ruang tunggu. Sesekali
diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah hampir setengah
jam lebih dan Felish belum juga menampakkan batang hidungnya. Dirogohnya sebuah
BB torch dari sakunya kalau-kalau ada pesan masuk dari Marsha,
kekasihnya. Namun, yang didapatinya hanya layar hitam kelam karena ternyata
benda elektronik itu telah kehilangan nyawa. Vino menggerutu dalam hati.
“Vin....,” kata seseorang dari belakang punggungnya. Dia segera berbalik.
Sebuah senyum kepuasan terbentuk dibibirnya.
“Tu kan, jadi tambah cantik!” cibir Vino. Felish hanya diam. Menutupi raut
merah wajahnya. Cibiran Vino lebih terdengar sebagai pujian baginya mendengar
kata cantik terucap diakhir kalimatnya.
“Kamu nyebelin,” balas Felish yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
“I’m really sure, Nona. You look pretier without your glasses,”
kata Vino berusaha meyakinkan gadis yang berada didepannya itu. Felish tak
bereaksi apa-apa. Sudah tentu rona-rona merah sedang menghiasi wajahnya tatkala
dia mendengar ucapan tulus dari pujaan hatinya itu.
“Ya udah deh. Yuk!” kata Alvin lagi seraya menggandeng Via berjalan keluar
meninggalkan optik itu.
“Silakan naik Neng,” kata Vino sembari membukakan pintu mobil untuk Felish.
Felish hanya menuruti apa yang dikatakan pria di depan nya. Vino segera masuk
ke mobil dan mengendarainya meninggalkan area optik itu. Suasana kembali
lengang seperti semula. Tak sepatah katapun terucap baik dari Vino maupun
Felish. Felish masih menggerutu dalam hati akibat perbuatan Vino. Walau
sebagian hatinya tersenyum karena pujian Vino namun rona kekesalan tetap
tergambar jelas diwajahnya.
“Kamu nggak percaya Vi?” kata Vino memecahkan keheningan tiba tiba.
“Apa?” tanya Felish dengan nada ketus.
“Kamu terlihat makin cantik Vi tanpa kacamata,” puji Vino –lagi- tulus pada
gadis yang berada disebelahnya.
“Udah deh nggak usah nggombal!” balas Felish seakan meragukan pujian tulus Vino.
“Terserah kamu percaya atau enggak. Tapi yang jelas, aku nggak pernah main-main
sama pujian. Jika aku memuji, maka itu tulus dari dasar hatiku,” kata Vino
datar. Sinar ketulusan nampak jelas dimatanya. Perlahan Felish mulai menyesali
sikap egoisnya melihat Vino yang nampak telah berputus asa membujuk dirinya.
“Sorry Vin. I didn’t mean to hurt you,” kata Felish akhirnya dengan
penuh rasa penyesalan. Vino hanya tersenyum datar. Dipandangnya gadis itu
sekilas sebelum dia kembali memfokuskan pendangannya ke jalanan yang sedang
dilaluinya.
“No matter. You never hurt me,” balas Vino dengan senyuman kecil. Felish
juga ikut tersenyum mendengar kebaikan hati dari sang pujaan hati. Sesaat dia
memandang Vino sebelum dia kembali terenyuh ke alam bawah sadarnya.
“Lish, kita mampir ke taman dulu ya?” celetuk Vino yang lagi-lagi sukses
membawa Felish kembali lagi ke dunia nyata.
“Ha? Ap.. apa Vin?” tanya Felish gelagapan dengan linglunganya. Vino hanya
terkikik melihat tingkah gadis yang berada di samping nya itu.
“Hobi banget ngelamun sih Lish?” Vino sedikit menahan tawa. Rona merah
menyelimuti pipi Felish mendengar perkataan Vino.
“Hahaha. Kita mampir ke taman dulu ya?” Vino mengulang kalimatnya diiringi
dengan gelak tawanya.
“Tapi Vin? Ini kan udah sore!” Felish mengutarakan keterkejutannya sembari
menunjuk gelang jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
“Aku udah terlambat pulang!” lanjutnya. Vino tampak kecewa mendengar jawaban yang
diutarakan Felish.
“Lima belas menit aja. Please..” pinta Vino sedikit memelas. Selayang tatapan
memelas juga dilayangkan mata sipitnya. Perlahan, Felish mulai luluh dengan
tatapan pangeran hatinya itu.
“Ya udah. Lima belas menit! Gk lebih dan gak kurang” kata Felish akhirnya
dengan penuh penekanan diakhir kalimatnya. Vino tersenyum senang.
“Siplah,” katanya sembari mengacungkan ibu jari kirinya.
**********
Vimo menggandeng Felish menuju bagian paling ujung taman. Ada sebuah bangku
putih yang masih tersisa disalah satu sudutnya. Dia mendahului Felish duduk di
bangku itu seraya melepaskan ketegangannya hari ini. Felish menyusul duduk
disamping pemuda itu. Kali ini hampir tak ada jarak antara mereka. Sebuah
pemandangan yang sudah tak asing lagi turut menyapa mereka. Anak-anak yang
sedang asyik bermain dan para orang tua yang sedang mengawasi buah hati mereka
dengan penuh kasih dan sayang. Pemandangan yang selalu mengingatkan Vino dengan
masa kanak-kanaknya.
“Kenapa kamu ajak aku kesini Vin?” tanya Felish memecahkan keheningan mereka
ditengah-tengah keramaian taman kota. Lagi-lagi Vino hanya tersenyum datar.
“Aku senang melihat anak-anak asyik bermain Lish. Mengingatkan aku pada masa
kecilku, yang menurutku merupakan masa terindah. Penuh canda tawa tanpa duka.
Tanpa pertikaian, tanpa konfik, dan tanpa kesalahpahaman,” tutur Vino bijak.
Felish hanya mampu diam dan diam. Meresapi setiap kata yang diucapkan oleh
pangeran hatinya.
“Iya Vin. Kamu benar,” lirih Felish.
“Tapi tetap saja Lish Tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya harus melewati
tahapan-tahapan tertentu. Dan kita tidak bisa memilih satu tahapan saja dalam
hidup kita,” kata Vino sembari memandang gadis di sampingnya.
“Kamu sering ketempat ini Vin?” tanya Felish. Vino hanya tersenyum, namun kali
ini nampak berbeda dari biasanya.
“Semenjak aku dapet banyak masalah, aku jadi sering banget pergi kesini. Andai
aku bisa jadi anak-anak lagi,” jawab Vino menerawang. Felish tercekat mendengar
kata-kata ‘banyak masalah’ yang diucapkan Vino.
“Masalah?” tanya Felish sedikit ragu. Vino tersenyum hambar seraya menatap
nanar ke bumi tempatnya berpijak.
“Iya Lish. Tapi udahalah, penyesalan gak akan bisa ngerubah segalanya,” Vino
mencoba tersenyum walau masih tampak kehambaran didalamnya. Felish masih tampak
terkejut mendengar kenyataan yang dialami pujaan hatinya.
“Marsha tahu masalah kamu?” tanya Felish lagi. Vino nampak terkejut mendengar
pertanyaan Felish barusan. Vino menggeleng
“Aku nggak mau membebani orang lain dengan memaksa mereka untuk turut merasakan
apa yang aku rasakan. Apalagi orang terkasihku. Tak mungkin aku bercerita
kepadanya, kepada orang lain saja tak pernah,” jawab Vino lirih. Wajah sang
kekasih tergambar jelas dibenaknya.
“Kamu boleh cerita sama aku kok Vin. Siapa tahu aku bisa bantu,” kata Felish
hati-hati takut membuat ksalahan dalam kalimatnya.
“Makasih Lish, kamu baik banget,” kata Vino sembari mengacak-acak rambut Felish.
“ih Vinooo!! Aku nggak bawa sisir tau!!” protes Felish karena perlakuan Vino.
Dengan asal dia menata dan menyisir rambutnya dengan jemarinya.
“Hahaha, dasar cewek!” cibir Vino diiringi gelak tawanya. Namun Felish masih
menampakkan ekspresi kesalnya.
“Udah cantik kok. Jangan marah ya?” rayu Vino kepada Felish seraya menata poni
gadis itu. Felish memalingkan wajahnya dari Vino sebelum pemuda itu melihat
guratan merah dipipinya.
“Pantesan Marsha jatuh hati dan jadi lengket banget sama kamu. Kamu pintar
banget nggombalnya,” kata Felish ditengah-tengah kekesalannya. Tawa Vino
seketika meledak.
“Enggak juga kok. Nggak pintar-pintar amat,” kata Vino tersipu. Felish hanya
tersenyum datar.
‘Lo beruntung banget dicintai pengeran setampan dan sebaik dia Sha,” gumam
Felish dalam hati.
“Lish? Kok bengong gitu?” tanya Vino sedikit khawatir melihat ekspresi Felish.
“Ehm.. nggak apa-apa kok. Eh, udah lima belas menit lebih nih!” kata Felish
seraya menunjuk jam tangannya.
“Yah, aku kan masih mau disini,” protes Vini. Felish menggembungkan pipinya dan
menatap Vino dengan tatapan tak bersahabat.
“Janji adalah hutang!” kata Felish dengan dengan senyum kemenangan yang sedikit
menekan. Vino hanya mampu mendengus kesal karena mengetahui dirinya kalah telak
membujuk sahabat gadisnya itu.
“Ya udah yuk,” kata Vino akhirnya seraya bangkit dari tempat duduknya dan entah
sadar atau tidak tangannya kini sedang menggenggam tangan gadis yang berjalan
disampingnya. Felish yang menyadari hal itu segera menghentikan langkahnya.
“Ngapain berhenti?” Vino mengerutkan kening.
“Lepasin deh. Nggak enak dilihat orang,” kata Felish seraya menarik tangannya
dari genggaman Vino. Vino sendiripun nampak terkejut melihat tangan Felish
berada dalam genggamannya.
“eh Sorry,” kata Vino sedikit gelagapan. Felish hanya tersenyum kecut. Andai
pangeran yang sedang bersamanya kini bukan milik sahabatnya.
*****
~ continue ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar