Jumat, 20 September 2013

Mungkin Bukan Aku (Chapter III)




Mungkin Bukan Aku
Chapter III
 “Apa kamu tahu? Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan!”

Felish berjalan sedikit tergesa-gesa menuju kelasnya. Dia tidak pernah datang sesiang ini sebelumnya. Namun langkahnya terhenti diambang pintu kelasnya ketika melihat dua sejoli sedang larut dalam kemesraan. Kaca-kaca bening samar-samar terbentuk dimatanya melihat adegan mesra yang diperankan oleh sahabatnya dan pengeran hatinya, Marsha dan Vino. Dia menyembunyikan dirinya dibalik pintu agar tak terlihat oleh mereka berdua. Mata indahnya manatap lekat pemandangan didepannya. Dengan mesra Vino membelai rambut Marsha lantas mengecup kening gadis itu.

I will be here to be yours dear,” katanya sembari merengkuh Marsha.
Thank’s for all, you’re the best man I’ve ever known,” lirih Marsha. Vino hanya tersenyum mendengar perkataan gadisnya. Sementara setetes air mata jatuh bebas dari pelupuk mata Felish tatkala melihat dan mendengarnya. Dengan lari kecil Felish meninggalkan tempatnya berpijak. Tetes-tetes air matanya kini berubah menjadi aliran sungai yang mengalir makin deras. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan mengunci dirinya disana.
“Tuhan, kenapa hingga sekarang aku masih belum bisa menerima kenyataan itu? Mengapa air mata ini harus ada? Mengapa tak Kau sadarkan aku untuk tidak berharap lebih kepada Vino?” katanya ditengah tangisnya yang pilu. Ditatapnya cermin yang berada dimukanya. Dia memainkan jemarinya diatas cermin itu mengikuti lekuk-lekuk wajahnya.
“Karena Marsha jauh lebih sempurna daripada aku,” lirihnya dengan senyuman kecut. Diambilnya selembar tissue dari tasnya lantas diusapnya sisa-sisa air dipipinya.
“Biarkan mereka bahagia Lish,” katanya lagi pada dirinya sendiri. Dia menghela nafas panjang dan setelah yakin dirinya benar-benar tenang, dia melangkah meninggalkan tempat itu menuju kelasnya seraya berharap agar dia mampu menerima kenyataan yang ada.

**********
“Permisi Non,” kata seorang wanita paruh baya sembari mengetuk pintu kamar Felish. Dengan malas si empunya kamar membukakan pintu untuknya.
“Ada apa bi?” tanyanya ketus karena mersa tidur siangnya terganggu.
“Ada teman Non didepan. Nyariin Non,” jawab wanita itu sambil sedikit membungkuk.
“Siapa? Laki-laki atau perempuan?” Felish mengerutkan kening.
“Laki-laki Non. Tapi maaf, saya ndak tahu,” kata perempuan itu dengan logat jawanya yang kental.
“Ya udah. Bibi suruh nunggu dulu. Felish mau ganti baju,”
“Iya Non. Permisi,” katanya seraya beranjak pergi. Dengan asal Felish mengganti baju tidurnya dan membenahi tatanan rambutnya yang semrawut.
“Siapa sih? Mau kesini nggak ngomong dulu,” gurutunya sembari menyisir rambutnya. Setelah dirasanya cukup rapi, dia segera beranjak keluar menuju lantai dasar rumahnya dan alangkah terkejutnya dia mendapati siapa yang bertamu kerumahnya. Seorang pemuda yang sangat dia kenal yang membuat jantungnya berdegup melebihi frekuensi normal.
“Vino...” katanya sedikit ragu. Si pemilik nama segera berbalik mendengar namanya disebut.
“Eh, Felish. Ehm.. aku ganggu kamu ya?” tanya Vino melihat wajah Felish yang sedikit kusut.
“Enggak kok,” jawab Felish berusaha membentuk senyuman dibibirnya. Vino mengerutkan kening. Nampak betul lingkar hitam dibawah mata Felish.
“Kamu baru bangun tidur?” tanya Vino lagi dengan nada sedikit ragu. Perasaan bersalah tiba-tiba menyelimuti hatinya.
“Engg... enggak kok Vin,” jawab Felish berusaha menutupi fakta yang baru saja dikemukakan Vino.
“Aku pasti ganggu tidur siang kamu ya?” kata Vino seakan tak menggubris kalimat Felish.
“Enggak kok Vin nggak papa. Oh ya, ada perlu apa?” sergah Felish berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Yakin nggak apa-apa? Kamu boleh meneruskan tidur kamu lho kalau kamu masih ingin,” celetuk Vino menanggapi sergahan Felish.
“Udah deh. Lagian kan kamu udah jauh-jauh datang kesini. Percuma kalau maksud kamu nggak kesampaian,” kata Felish berusaha meyakinkan pria yang kini tepat berada di hadapannya. Vino hanya mampu tersenyum mendengar pernyataan Felish.
“Sebenarnya aku mau mengajak kamu keluar,” kata Vino akhirnya langsung to the point. Felish sedikit tersentak mendengar perkataan Vino lantas dia menengok ke arah jam dinding.
“Kemana?”
“Ke taman. Sebentar aja kok. Nggak lama. Ya mau ya?” kata Vino dengan senyum menggoda. Felish akhirnya hanya mampu menghela nafas panjang dan meng-iya-kan permintaan  lawan bicaranya. Dengan senyum kemenangan, Vino menuntun Felish menuju mobilnya.

**********
Vino menyandarkan tubuhnya di bangku taman kota seraya menatap kagum singgasana megah Sang Maha Pencipta. Ekor matanya dengan cermat memeperhatikan gadis yang sedang duduk disebelahnya. Gadis itu terlihat jauh lebih cantik dari yang semula dia kenal. Bukan hanya fisiknya, melainkan juga hatinya.
“Kamu berapa bersaudara Lish?” tanya Vino memulai percakapan. Felish segera menoleh kearah datangnya suara.
“dua bersaudara Vin,” jawabnya dengan senyuman hambar seakan merasa tidak senang dengan apa yang baru saja dia katakan. Hati kecilnya memang menginginkan agar predikat itu segera hilang darinya.
“Kok kayaknya nggak senang gitu?” tanya Vino heran melihat ekspresi muram Felish.
“aku memang anak ke dua, tapi beberapa tahun ini aku merasa diriku menjadi anak tunggal, kakak ku nerusin study S2 nya di Oxford University, adi sehari hari aku Cuma bisa duduk diam tanpa ada yang ngajak ngobrol atau apapun” lirih Felish berusaha megeluarkan uneg-unegnya.
“Kenapa? Bukannya enak jadi anak tunggal? Nggak perlu bersaing untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, ya walaupuun kamu bukan anak tunggal beneran?” tanya Vino bertubi-tubi. Sekali lagi Felish tersenyum, namun senyumannya kali ini terlihat lebih berarti.
“Karena jika kita memiliki saudara yang selalu ada untuk kita, paling tidak kita mempunyai tempat untuk berbagi. Dan hidup memang akan bermakna jika kita bisa berbagi. Kadang aku merasa heran kepada mereka yang tidak bisa menghargai arti sebuah persaudaraan. Terlebih jika berujung kesebuah pertikaian. Sangatlah bodoh menurutku mereka yang melakukan itu,” tutur Felish lembut yang sukses membuat Vino terdiam. Dua kalimat terakhirnya mengingakan dia kepada sosok saudara tirinya.
Bodohkah aku yang telah merusak ikatan persaudaraanku dengan pengecut itu karena aku dan dia mencintai sosok gadis yang sama?’ tanya Vino pada dirinya sendiri. Felish sedikit heran melihat sikap Vino. Sangat jarang dia menemukan pangeran hatinya ini tengah terenyuh kedalam pikirannya.
“Kenapa Vin?” tanya Felish membuyarkan lamunan Vino.
“Oh... ehm.. nggak papa kok. Kamu mau ice cream?” kata Vino sedikit gelagapan namun dia segera berusaha mengalihkan perhatian Felish. Felish hanya menangguk kecil. Tanda mengiyakan saja.
“Tunggu ya?” kata Vino sembari beranjak dari tempat duduknya menuju kedai ice cream di pojok taman yang tengah ramai dikerumuni anak-anak.
“Kamu...... sempurna,” bisik Felish seraya terus mengamati sosok pujaan hatinya dari kejauhan. Seperti apapun penampilannya dia selalu terlihat menawan dimata Felish. Terlebih jika dia sedang bercengkrama dengan bola di basket
“Pesonanya melebihi pemain basket international,” gumam Felish suatu hari dipojok kamarnya usai meonton pertandingan perdana Vino di Do-bosh SHIS.
Namun, bukan itu yang menyebabkan dia menaruh hati pada kekasih sahabatnya itu. Bukan pula karena pemuda itu memiliki perangai yang baik atau apa. Namun karena sebuah alasan yang hingga saat ini Felish belum mampu menemukan apa ‘itu’.
“Nih Non,” kata Vino tiba-tiba seraya menyodorkan sebuah cone ice cream kepada Felish. Felish hanya menerimanya tanpa ekspresi karena merasa sedikit terkejut oleh kedatangan Vino yang secara tiba-tiba ditengah lamunannya.
“Makasih,” katanya sesaat kemudian. Vino mengangguk ringan. Ekor mata Felish smar-samar mengamati Vino. Tak ubahnya seperti Vino yang biasanya dimata Felish, gayanya pun ketika makan ice cream tetap terlihat begitu menawan dimata gadis itu.
“Felish … Felish..,” kata Vino tiba-tiba diiringi dengan kikikannya yang khas.
“Ada apa?” tanya Felish heran melihat polah tingkah pangerannya.
“Ternyata benar ya kata Marsha. Kamu kalau makan ice cream nggak pernah bisa rapi,” kata Vino disela-sela tawanya. Felish hanya melongo mendengar ucapan Vino barusan. Kemudian dengan sigap Vino mengeluarkan selembar tissue dari saku kemejanya dan mengusap lembut bibir Felish. Tentu gadis itu merasa terkejut dengan sikap pangerannya. Ini kali pertamanya pemuda itu menyentuh dirinya. Perlahan namun pasti, jantung Felish mulai berdegup melebihi frekuensi normalnya, membuat dia mati kata dan hanya mampu menurut kepada sang pangeran hatinya.
“Dah, gini dong cantik,” kata Vino sembari mengacak-acak rambut Felish. Felish hanya mampu memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah yang tergurat jelas dipipinya.
“Udah cantik kok,” goda Vino. Felish lantas menatap Vino dengan tatapan menggoda pula. Tawa renyah tercipta dari mereka berdua. Dan tanpa mereka sadari, benih-benih merah jambu sang sakura tersemat dihati mereka berdua.

**********

Perasaan heran masih menyelimuti hati Felish. Bagaimana tidak? Pasalnya hari ini pangeran hatinya benar-benar bertingkah diluar kebiasaan. Sejak kejadian di koridor sekolah sebulan yang lalu, sejak itu pula Vino selalu mengajak Felish pergi ke taman kota baik untuk berbagi cerita maupun hanya sedekar untuk tertawa bersama. Dan hari ini tiba-tiba saja Vino menunjukkan sikap anehnya. Pertama, dia tidak pernah mengajak Felish pergi dimalam hari seperti hari ini. Dan kedua, Vino selalu membawa mobil. Bukannya membawa sepeda motor seperti hari ini.
“Mobil kamu mana Vin?” tanya Felish saat Vino tiba dirumahnya.
“Aku Cuma bawa motor” jawab pemuda itu dengan senyum khasnya. Felish hanya mampu menutupi mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.
“Kenapa? Kamu nggak takut naik motor kan?” Vino mengangkat sebelah alisnya.
“Iya... iya.. enggak,” kata Felish yang masih keheranan.
“Lish? Ada apa?” tanya Vino tiba-tiba yang sukses membuyarkan lamunan Felishia.
“Eh, eng.. enggak kok. Nggak ada apa-apa. Cuma heran aja hari ini nggak ada bintang yang tampak,” jawab Felish seraya memanang langit yang memang tampak lebih gelap dari malam-malam biasanya itu.
“Iya Vi. Oh ya, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Vino lagi. Felish hanya mengangguk.
“Kamu pernah jatuh cinta?” tanya Vino sedikit ragu.
“Ya pernahlah, aku kan masih normal” jawab Felish spontan seraya menahan tawanya yang mulai pecah.
“Apakah kamu akan menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta?” tanya Vino lagi tak mempedulikan tawa Felish yang mulai lepas.
“Ya enggaklah Vin. Diundang-undang juga nggak ada larangan jatuh cinta kan?” jawab Felish berusaha melucu untuk mencairkan suasana malam ini
“Tapi.....” Vino menggantungkan kalimatnya dan menatap Felish makin lekat.
“Apa?” tanya Felish yang telah berhasil meredam tawanya.
“Bagaimana jika kamu jatuh cinta dengan ‘sahabat dari kekasihmu’?” tanya Vino serius dengan penuh penekanan pada kata-kata terakhirnya. Kali ini Felish benar-benar terdiam matanya ikut menatap mata sipit lawan bicaranya. Tak ada tawa yang keluar dari bibirnya. Tak percaya dengan apa yang diucapkan Vino barusan. Apapun itu, hati kecilnya sebagai seorang perempuan tetap tak bisa menepis persaan bahwa orang yang dimaksud Alvin adalah..... (baca: dia). Dan tiba-tiba perkataan sahabatnya terlintas dipikirannya.
# “Felish, kamu tahu? Sepanjang perjalanan hidupku aku tak pernah mencintai seorang laki-laki seperti aku mencintai Vino. Karena dialah satu-satunya orang yang telah berhasil mengambil seluruh hati dan pikiranku,” # kata Marsha dengan sebuah senyuman tulus. Felish juga ikut tersenyum mendengarnya, walau sebagian hatinya telah dibuatnya menangis.

“Lish,” kata Vino sedikit bergumam seraya meraih tangan Felish dan menggenggamnya erat.
“Vin... hujan!!” seru Felish saat merasakan titik-titik air jatuh mengenainya. Tanpa bayak bicara Vino segera menuntun Felish berlari menuju tempat yang teduh. Hujan kali ini datang disaat yang tepat bagi Felish. Hati kecilnya tersenyum walaupun kegalauan masih menyelimutinya.
“Seharusnya gue tadi bawa mobil!!” Vino merutuki dirinya sendiri, namun Felish nampak tak mempedulikannya. Dia merasakan dingin menyelimuti tubuhnya. Bibirnya mulai memutih.
“Lish... Felish?” kata Vino dengan nada khawatir melihat gadis itu menggigil. Dia segera melepas jaketnya dan membalutkannya ketubuh Felish.
“Kamu nggak papa?” tanya Vino masih khawatir. Felish mengangguk lemah. Dan entah apa yang terlintas dipikiran Vino, dia segera merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Tubuhnya lebih hangat daripada tubuh Felish, mungkin itu akan sedikit membantu, pikirnya. Felish tak mampu menolak pelukan Vino walau ada sebagian kecil dari hatinya yang memberontak. Apapun itu, dia membutuhkannya. Samar-samar, Vino merasakan irama jantungnya berubah. Tak seperti biasanya, begitu pula dengan gadis yang berada didalam dekapannya.
“Tolong lepasin aku Vin,” kata Felish sembari menarik tubuhnya dari rengkuhan Vino karena pemuda itu memeluknya terlalu erat dan membuatnya sedikit kesulitan bernafas.
“Maaf,” kata Vino seraya melepaskan pelukannya. Felish segera beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa apakah hujan sudah reda.
“Vin, pulang yuk? Udah malam,” tanya Felish samar-samar.
“Tapi masih hujan Lish?” protes Vino karena hujan memang belum sepenuhnya reda.
Please...” pinta Felish memelas. Tatapan sayu dilayangkannya kepada Vino dengan harapan agar pemuda itu segera menuruti permintaannya.
“Ya udah deh, kalau kamu maksa,” kata Vino akhirnya dengan berat hati. Dia lalu menuntun Felish menuju tempat parkir sepeda motornya.
“Pelan-pelan aja Vin,” pinta Felish yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Vino, namun tak dihiraukannya.
“Vi, tangan kamu,” kata Vino seraya mengulurkan tangan kirinya dan meraih tangan kanan Felish lantas melingkarkan tangan gadis itu dipinggangnya. Felish tak menolak, tahu apa yang akan dilakukan Vino. Menambah kecepatan sepeda motonya tentu saja. Namun dia tak berkomentar sama sekali. Perkataan kedua orang terdekatnya sedang berkecamuk dipikarnnya. Menimbulkan konflik tersendiri dihati kecilnya.
Felish menghela nafas lega saat sepeda motor Vino memasuki halaman rumahnya.
“Makasih Vin. Ini jaket kamu,” kata Felish setelah memijakkan kakinya dibumi.
“Maaf ya, aku jadi buat kamu kehujanan,” kata Vino merasa bersalah. Felish hanya tersenyum mendengar permintaan maaf pemuda itu.
“Nggak papa kok Vin. Kamu nggak perlu minta maaf,” kata Felish menyergah ucapan Vino.
“Ya udah. Aku pulang dulu ya?” kata Vino yang sudah merasa bahwa gadis itu tidak akan mempersilakannya mampir kerumahnya. Namun, andai dia tetap melakukannya, Vino juga pasti akan menolak. Dan benar saja, Felish hanya mengangguk dan tersenyum melepas kepergian Vino bersama CBR150-nya. Felish segera berlari menuju kamarnya setelah deru motor Vino tak terdengar lagi dan mengunci dirinya di ruang pribadi miliknya itu. Konflik batin sedang dialaminya. Seriuskah ucapan Vino tadi? Benarkah orang yang dimaksud adalah dirinya? Lalu bagaimana dengan Marsha -sahabatnya- yang jelas-jelas sangat mencintai pemuda itu?

**********
Vino dan Marsha berjalan bersama menuju music room, tempat favorit mereka disekolah ini. Canda tawa terdengar dari keduanya. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata sang gadis. Dia bergelayut mesra dilengan kekasihnya seakan tak ingin pemuda itu lepas darinya.
“Vin, tunggu!!”  kata Marsha tepat ketika mereka hendak menjejakkan kaki dibibir pintu ruangan yang mereka tuju. Sayup-sayup terdengar alunan tuts-tuts piano diruangan itu. Rupanya seseorang telah terlebih dahulu memakainya sebelum mereka. Terdengar isakan-isakan kecil disela-sela melodi yang dimainkannya, dan itulah yang membuat Vino dan Marsha menghentikan langkahnya.
Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku
Seorang gadis bersenandung seraya memainkan jemarinya diantara tuts-tuts piano dengan iringan air mata yang mulai luruh dari pelupuk matanya. Terdengar begitu miris oleh dua orang audiencenya yang berada diluar ruangan itu. Rasa sakit akibat penyakit gastritisnya yang kambuh semenjak dua hari lalu perlahan mulai menguras tenaganya. Apalagi sejak hari itu juga belum sesendok nasi ataupn seteguk air yang masuk kedalam tubuhnya. Namun tampaknya hal itu tak mengurungkan niatnya untuk bermain piano sedikitpun. Karena rupanya dia bukan hanya sekedar bermain, melainkan ingin mengutarakan isi hatinya. Dia sedang mengalami konflik batin yang banyak memberi dampak negatif baginya.
“Felish?” tanya Vino sedikit ragu. Marsha hanya mengangguk tanpa arti. Gurat kecemasan nampak jelas diwajah mereka.
“Kapan Vin apa kamu uda sadar jika aku lebih ada untuk kamu..... daripada Marsha?” kata Via terisak ditengah-tengah alunan melodi yang dimainkannya. Dua audiencenya sukses dibuat terkejut oleh perkataan sang pianis, terlebih Marsha. dia hanya mampu menatap Vino dengan tatapan penuh tanya namun Vino hanya memandangnya sekilas lantas membuang muka darinya.
“A... aku.. uhuk...uhuk...” lanjut gadis itu tebata-bata. Tangan kirinya memegangi perutnya yang terasa sangat perih bagai ditusuk ribuan jarum. BRUKKK!!!
“Lish.. Felish...” teriak Vino tiba-tiba seraya berlari masuk keruangan itu. Marsha tak mampu berkata, dia hanya mengikuti Vino dan lebih memilih menjadi tokoh pasif.
“Felish!!” jerit Vino histeris melihat gadis itu tengah tersungkur dan tak sadarkan diri dikaki-kaki meja piano. Darah segar mengalir dari bibirnya.
“Lish... kamu kenapa?” katanya lagi seraya mengusap darah dibibir gadis itu dengan jemarinya.
“Kita bawa Felish ke rumah sakit ya Sha,” kata Vino seraya mengagkat tubuh Felish. Marsha hanya mengangguk dan mengikuti kekasihnya yang berlari didepannya.
“Kamu temenin Felish dibelakang,” titah Vino. Lagi-lagi Marsha hanya mengangguk. Vino segera duduk dibelakang kemudi dan menghidupka mesin mobilya. Pemuda itu mengemudikan mobilnya membelah jalan raya diatas batas kecepatan yang diizinkan. Tak dihiraukannya makian dan umpatan dari pengguna jalan lain. Misinya hanya satu: membawa Felish ke rumah sakit tepat waktu sebelum hal yang lebih buruk terjadi pada gadis itu. Sementara Marsha masih tak mampu berkata-kata. Apalagi melihat sikap sang kekasih. Dilihatnya sesekali kekasihnya itu menoleh kebelakang. Namun, tak untuk melihat dirinya, melainkan gadis yang kini ada dipangkuannya.

**********


Vino modar-mandir didepan UGD. Sesekali mata sipitnya memandang pintu ruangan yang belum terbuka sejak satu setengah jam yang lalu itu. Kegundahan yang amat sangat menyelimuti hatinya. Sementara Marsha hanya duduk terpaku dikursi tunggu seraya mengamati polah pemuda itu. Perkataan sahabatnya masih terngiang ditelinganya. Dan melihat tingkah Vino, tentu dia tak dapat menepis dugaan bahwa.....
“Vin,” katanya lirih sembari mengerjapkan matanya untuk menahan luruhnya kaca-kaca bening yang mulai terbentuk di bola matanya. Vino menghentikan langkahnya lantas duduk disamping gadis itu dan menatapnya.
“Iya Sha?” katanya kepada gadis itu. Terdengar getaran disuaranya. Dan gurat kekhawatiran itu, bisa dipastikan semua orang mampu melihatnya.
“Perkatan Felish tadi…...” Marsha menggantungkan kalimatnya.
“Apa kamu juga?” lanjutnya dengan penuh penekanan dikata terakhirnya. Dia memalingkan wajahnya dari Vino. Setetes air mata tak kuasa dia tahan agar tetap berada ditempatnya semula. Vino tersentak mendengar pertanyaan kekasihnya. Tenggorokannya terasa kering hingga dia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana penuh maksud yang dikemukakan gadisnya.
“Vin?” kata Marsha lagi karena Vino masih saja diam.
Please answer me!!” katanya seraya menarik lengan sang kekasih.
“Sha.. ak… ak.. aku..”
Answer it! Yes or no?” kata Marsha yang sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Tetes-tetes air mata kini menghiasi pipinya. Vino menundukkan kepalanya dalam. Marsha masih memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
“Maafin aku Sha,” bisik Vino.
“Maafin aku sayang,” katanya lagi seraya merengkuh Marsha.
“Nggak perlu minta maaf Vin,” kata Marsha menarik dirinya dari rengkuhan Vino. Tentu dia mengerti maksud ucapan pemuda itu.
“Sha.., ak... aku..”
“Hustttt!!!” Marsha meletakkan telunjuknya dibibir Vino.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Karena memang rasa itu bisa datang kepada siapa saja,” kata Marsha berusaha membentuk senyum dibibirnya walau dirasanya sakit yang teramat tatkala dia menarik kedua ujung bibirnya.
“Dan aku juga gak akan pernah menyalahkan kamu kalau ternyata kamu memiliki perasaan itu kepada Felish, atau sebaliknya,” lanjut Marsha berusaha meredam getaran hebat dihatinya.
“Sha, aku nggak pernah bermaksud untuk itu,” bisik Vino sembari merengkuh tubuh kecil Marsha. Cukup lama. Tatapan sinis dari orang-orang disekitarnya tak mereka pedulikan. Memang apa yang mereka mengerti?
“Aku boleh minta sesuatu?” pinta Marsha lirih. Vino melepas pelukannya.
“Apa Sha?” tanyanya lembut seraya mengangkat wajah gadisnya.
“Vin, mungkin sebaiknya kita akhiri aja sketsa tentang kita...... dengan sebuah senyuman,” lirih Marsha seraya meraih tangan Alvin dan menggenggamnya. Walau samar, namun kesungguhan terdengar dari kalimatnya.
“Sha, ta...tapi Apa maksud kamu?” tanya Vino yang tentu saja terkejut mendengar perkataan gadisnya.
“Kamu tidak bisa memilih aku dan Felish. Tapi kamu harus memilih aku atau Felish.” kata Marsha dengan senyum tanpa arti. Vino masih tampak terkejut mendengar perkataan gadisnya. Mengakhiri sketsa antara dirinya dan Marsha sama dengan mengakhiri hubungan keluarga mereka.
“Dan aku tidak akan memberikan kamu pilihan, tetapi sebuah keputusan,” lanjut Marsha lirih.
“Sha, tapi..”
Please!! Pahami keadaan kita Vin! Apa kamu tahu? Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan!” hardik Marsha. Vino terdiam.
“Aku tahu apa yang ada dipikiran kamu. Orang tua kita, rencana pertunangan kita, tapi persahabatan bisa jadi mengalahkan itu semua!” Marsha menatap lekat bola mata Vino. Namun pemuda itu masih saja terdiam.
“Aku yakin semua akan baik-baik saja jika kita mampu menjelaskan pada mereka,” Marsha melanjutkan monolognya yang membuat Vino semakin membeku.
“Vin,” katanya lagi seraya meraih kedua tangan pemuda itu dan menggenggamnya.
“Tolong hargai keputusanku. Demi aku, kamu, dan dia,” lanjutnya lirih.
But, I still love you more than I love her!” protes Vino.
“Jangan berbohong Vin. Mata kamu gak bisa menyembunyikan segalanya,” tutur Marsha. Vino menekuk wajahnya. Dia tampak hendak mengutarakan sesuatu.
“Berpisah bukan berarti berakhir. Kita masih bisa menjadi sahabat,” lanjut Marsha mendahului Vino. Meskipun sebenarnya ia terlalu berat untuk mengatakan itu
“Kamu kira aku berbohong?” kata Vino kemudian.
“Aku mengenal kamu sekian tahun Vin. Aku tahu mana kamu yang bohong dan tidak. Jangan jadikan dirimu seorang pengecut karena gak berani menceritakan sebuah kebenaran,” sergah Marsha. Vino kembali terdiam, teringat kisah-kisah manisnya dengan gadis itu. Haruskah berakhir sesingkat ini? Padahal ‘rasa’ untuk Marsha belum sepenuhnya kandas dari hatinya. Namun dia juga tak bisa memungkiri jika ‘rasa’ itu mulai mengering saat hadirnya sosok lain dihatinya. Sosok yang mampu menggetarkan hatinya. Dan perkataan Marsha tadi,”Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan.” Itu berarti keduanya sama-sama sakit. Dan dia sungguh sedang terperangkap dikeduanya. Lalu ucapan Marsha tentang,”Jangan jadikan dirimu seorang pengecut,” tentu sulit untuk dia terima. Dia selalu menyematkan predikat itu kepada saudara tirinya. Lalu apakah saat ini dia telah menjadi seorang pengecut juga?
‘Tuhan, apa yang harus kulakukan dan mana yang harus kupilih?’ rintihnya dalam hati.
“Vin,” kata Marsha seraya membelai wajah pemuda itu. Vino menoleh.
“Terkadang cinta bisa mengubah seseorang. Tapi aku mengenalmu. Kamu adalah pribadi yang tegas! Dan aku tak pernah ingin cinta mengambilnya darimu,” tutur Marsha.
“Jadi tolong, terima keputusanku. Mari kita akhiri semuanya dengan sebuah senyuman. Bukan berakhir seperti yang lain. Hanya berganti skenario,” lanjut Marsha dengan senyum samar. Vino meraih tangan gadis itu lantas mengecupnya.
“Kamu memberiku keputusan yang sulit,” lirih Vino. Marsha berusaha tersenyum.
“Tapi benar. Dan aku tidak memberimu pilihan,” sambung Marsha. Vino kembali dibuatnya diam.
“Jadi?” tanya Marsha. Vino tak menjawab. Dia menghela nafas panjang. Dengan senyum yang sedikit dipaksa, Marsha menunggu jawaban pemuda itu.
“Aku tak akan menjawab iya atau tidak. Namun jika itu keputusanmu....” Vino berhenti sejenak.
“Akan kucoba untuk menerimanya dengan lapang dada, meskipun aku gak pernah ingin melepasmu,” lanjut Vino. Getaran disuaranya tak dapat dia sembunyikan. Marsha tersenyum lega.
Thank’s. Udah mau mengerti aku,” lirih Marsha. Vino meraih tubuh gadis itu. Memeluknya erat, untuk kali terakhir. Sebuah kecupan mendarat dikening sang gadis. Yang kini sudah bukan gadisnya lagi. Marsha tak menolak.
“Maaf dan terimakasih untuk segalanya,” bisik Vino, Marsha tersenyum.
“Sama-sama Vin. Dan kamu tahu apa yag harus kamu katakan kepada orang tua kita nanti malam,” balasnya seraya mengusap air matanya. Keheningan lantas menyelimuti keduanya. Tak sepatah katapun terucap sejak saat itu hingga sosok berjas putih menampakkan dirinya dari balik pintu UGD. Sosok yang mereka nantikan. Vino dan Marsha beranjak menghampirinya.
“Bagaimana kondisi Felish dok?” tanya Vino sedikit menggebu.
“Maaf, tapi anda siapanya pasien?” dokter itu balik bertanya.
“Saya sahabatnya dan saya yang bertanggung jawab atas dia,” jawab Vino.
“Baiklah. Ehm, kondisi pasien sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja stress yang sedang dialaminya membuat daya tahan tubuhnya menurun juga pola makan yang tidak teratur memicu penyakit maagnya kambuh. Dan untuk saat ini kondisinya sudah mulai memulih,” jelas sang dokter.
“Kami boleh menemuinya?” tanya Marsha.
“Tentu, kebetulan dia juga sudah siuman,” jawab dokter tersebut sembari mengulun senyum.
“Terimakasih dok,” kata Vino dan Marsha hampir bersamaan.
“Sama-sama,” balas si dokter. Vino dan Marsha segera beranjak menuju UGD. Marsha menahan jarak beberapa langkah dibelakang Vino.
“Vin, tunggu!!” seru Marsha seraya menarik lengan Vino. Vino pun menghentikan langkahnya.
“Iya Sha?” tanya Vino. Marsha tersenyum.
“Apapun yag terjadi didalam nanti, jangan pernah mengejarku. Jaga Felish untuk aku!” kata Marsha dengan tatapan sayunya. Vino kembali terdiam.
“Janji?” kata Marsha mengikat Vino sebelum pemuda itu memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Dia mengacungkan kelingking kanannya.
“Jika itu mau kamu,” kata Vino pasrah seraya melingkarkan kelingking kanannya dikelingking Marsha.
“Makasih,” Marsha tersenyum lembut. Vino mendahuluinya memasuki ruangan bernuansa hijau tersebut.
“Felish!!” pekik Vino ketika memasuki ruangan dan melihat gadis mungil itu terbaring tak berdaya disalah satu sisinya.
“Vino,” Felish balik berseru. Tentu dia merasa terkejut melihat Vino yang tiba-tiba hadir dihadapannya. Dia mencoba untuk bangkit, namun Vino telah lebih dulu menahannya.
“Husstt!! Kamu istirahat dulu,” kata Vino setengah berbisik.
“Kamu... yang bawa aku kesini?” tanya Felish sedikit ragu. Vino hanya mengangguk kecil.
“Jangan buat aku khawatir,” tutur Vino seraya membelai rambut Felish. Felish hanya tersenyum dan membiarkan pujaan hatinya itu memberinya belaian lembut.
“Iya Vin. Maaf,” katanya kemudian.
“Permisi,” kata sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu dan sukses membuat Felish tersentak.
“Marsha?” pekik Felish tak prcaya melihat sosok gadis yang kini berada dihadapannya. Gadis itu tersenyum dan melangkah gontai mendekati sahabatnya yang sedang terbaring lemah.
“Kamu pintar banget buat aku khawatir,” kata Marshadengan sbuah senyum yang terkesan dipaksakan. Felish masih tak mampu berkata.
“Harusnya kamu bilang dari dulu, jadi aku tahu lebih awal,” katanya lagi seraya mengacak-acak poni sahabatnya. Kaca-kaca bening terbentuk dimatanya.
“Aku keluar dulu,” kata Marsha tiba-tiba sembari berlari meninggalkan dua sahabatnya. Bukan karena apa, hanya saja kini air mata telah membasahi pipiya. Dan dia tak mungkin memperlihatkan itu kepada mereka terlebih kepada Vino mengingat kalimat yang belum lama dia lontarkan. Akhiri semua dengan senyuman. Bukan tangisan.
“Marsha!!” jerit Felish bermaksud menahan sahabatnya, namun sia-sia. Marsha sama sekali tak menoleh kepadaya.
“Kenapa kamu nggak kejar Marsha Vin?” tanya Felish yang sudah bangkit dari tidurnya seraya menarik-narik kemeja Vino karena pemuda itu hanya diam melihat kekasihnya berlari keluar.
“Ini permintaannya Lish,” lirih Vino. Lagi-lagi Felish dibuatnya tersentak.
“Apa maksud kamu?” tanya Felish.
“Semua udah berakhir Lish,” jawab Vino dengan nada bersalahnya. Jelas jawabannya kali ini sukses membuat Felish terkejut tingkat dewa.
“Tapi kenapa? Katakan kalau kamu bohong Vin!” seru Felish yang tak percaya mendengar fakta yang baru saja dikemukakan oleh pemuda yang ada dihadapannya. Dia tahu benar maksud kata ‘berakhir’ dikalimatnya.
“Ini semua salahku. Arrgghh!!!” erang Vino. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Felish. Dia masih tak percaya dengan semua yang baru saja didengarnya.
“Kamu sungguh Vin?” tanyanya lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Bisakah aku berbohong dalam keadaan seperti ini?” Vino balik bertanya. Felish menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tak menampik tuduhan jika semua ini terjadi karena dirinya juga.
“Vin,” bisiknya seraya merobohkan dirinya kepelukan pangerannya.
“Bukan salah kamu, tapi salah kita,” katanya lagi meralat ucapan Vino. Vino mengelus pundak gadis itu. Kemeja depannya turut basah oleh air mata sang gadis.
“Kita semua hanya ingin menuruti apa yag diyakini oleh hati nurani kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ini semua terjadi juga tak luput dari kesalahanku,” lanjutanya seraya terisak.
*****
Continue ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by