Mungkin Bukan Aku
Chapter III
“Apa kamu tahu? Memiliki ikatan tanpa cinta
lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan!”
“I will be here to be yours dear,”
katanya sembari merengkuh Marsha.
“Thank’s for all, you’re the best man I’ve
ever known,” lirih Marsha. Vino hanya tersenyum mendengar perkataan
gadisnya. Sementara setetes air mata jatuh bebas dari pelupuk mata Felish
tatkala melihat dan mendengarnya. Dengan lari kecil Felish meninggalkan
tempatnya berpijak. Tetes-tetes air matanya kini berubah menjadi aliran sungai
yang mengalir makin deras. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan
mengunci dirinya disana.
“Tuhan, kenapa hingga sekarang aku masih belum
bisa menerima kenyataan itu? Mengapa air mata ini harus ada? Mengapa tak Kau
sadarkan aku untuk tidak berharap lebih kepada Vino?” katanya ditengah
tangisnya yang pilu. Ditatapnya cermin yang berada dimukanya. Dia memainkan
jemarinya diatas cermin itu mengikuti lekuk-lekuk wajahnya.
“Karena Marsha jauh lebih sempurna daripada
aku,” lirihnya dengan senyuman kecut. Diambilnya selembar tissue dari tasnya
lantas diusapnya sisa-sisa air dipipinya.
“Biarkan mereka bahagia Lish,” katanya lagi
pada dirinya sendiri. Dia menghela nafas panjang dan setelah yakin dirinya
benar-benar tenang, dia melangkah meninggalkan tempat itu menuju kelasnya
seraya berharap agar dia mampu menerima kenyataan yang ada.
**********
“Permisi Non,” kata seorang wanita paruh baya sembari
mengetuk pintu kamar Felish. Dengan malas si empunya kamar membukakan pintu
untuknya.
“Ada apa bi?” tanyanya ketus karena mersa
tidur siangnya terganggu.
“Ada teman Non didepan. Nyariin Non,” jawab
wanita itu sambil sedikit membungkuk.
“Siapa? Laki-laki atau perempuan?” Felish
mengerutkan kening.
“Laki-laki Non. Tapi maaf, saya ndak tahu,”
kata perempuan itu dengan logat jawanya yang kental.
“Ya udah. Bibi suruh nunggu dulu. Felish mau
ganti baju,”
“Iya Non. Permisi,” katanya seraya beranjak
pergi. Dengan asal Felish mengganti baju tidurnya dan membenahi tatanan
rambutnya yang semrawut.
“Siapa sih? Mau kesini nggak ngomong dulu,”
gurutunya sembari menyisir rambutnya. Setelah dirasanya cukup rapi, dia segera
beranjak keluar menuju lantai dasar rumahnya dan alangkah terkejutnya dia
mendapati siapa yang bertamu kerumahnya. Seorang pemuda yang sangat dia kenal
yang membuat jantungnya berdegup melebihi frekuensi normal.
“Vino...” katanya sedikit ragu. Si pemilik
nama segera berbalik mendengar namanya disebut.
“Eh, Felish. Ehm.. aku ganggu kamu ya?” tanya
Vino melihat wajah Felish yang sedikit kusut.
“Enggak kok,” jawab Felish berusaha membentuk
senyuman dibibirnya. Vino mengerutkan kening. Nampak betul lingkar hitam
dibawah mata Felish.
“Kamu baru bangun tidur?” tanya Vino lagi
dengan nada sedikit ragu. Perasaan bersalah tiba-tiba menyelimuti hatinya.
“Engg... enggak kok Vin,” jawab Felish
berusaha menutupi fakta yang baru saja dikemukakan Vino.
“Aku pasti ganggu tidur siang kamu ya?” kata
Vino seakan tak menggubris kalimat Felish.
“Enggak kok Vin nggak papa. Oh ya, ada perlu
apa?” sergah Felish berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Yakin nggak apa-apa? Kamu boleh meneruskan
tidur kamu lho kalau kamu masih ingin,” celetuk Vino menanggapi sergahan Felish.
“Udah deh. Lagian kan kamu udah jauh-jauh
datang kesini. Percuma kalau maksud kamu nggak kesampaian,” kata Felish
berusaha meyakinkan pria yang kini tepat berada di hadapannya. Vino hanya mampu
tersenyum mendengar pernyataan Felish.
“Sebenarnya aku mau mengajak kamu keluar,”
kata Vino akhirnya langsung to the point. Felish sedikit tersentak
mendengar perkataan Vino lantas dia menengok ke arah jam dinding.
“Kemana?”
“Ke taman. Sebentar aja kok. Nggak lama. Ya
mau ya?” kata Vino dengan senyum menggoda. Felish akhirnya hanya mampu menghela
nafas panjang dan meng-iya-kan permintaan lawan bicaranya. Dengan senyum
kemenangan, Vino menuntun Felish menuju mobilnya.
**********
Vino menyandarkan tubuhnya di bangku taman
kota seraya menatap kagum singgasana megah Sang Maha Pencipta. Ekor matanya
dengan cermat memeperhatikan gadis yang sedang duduk disebelahnya. Gadis itu
terlihat jauh lebih cantik dari yang semula dia kenal. Bukan hanya fisiknya,
melainkan juga hatinya.
“Kamu berapa bersaudara Lish?” tanya Vino
memulai percakapan. Felish segera menoleh kearah datangnya suara.
“dua bersaudara Vin,” jawabnya dengan senyuman
hambar seakan merasa tidak senang dengan apa yang baru saja dia katakan. Hati
kecilnya memang menginginkan agar predikat itu segera hilang darinya.
“Kok kayaknya nggak senang gitu?” tanya Vino
heran melihat ekspresi muram Felish.
“aku memang anak ke dua, tapi beberapa tahun
ini aku merasa diriku menjadi anak tunggal, kakak ku nerusin study S2 nya di
Oxford University, adi sehari hari aku Cuma bisa duduk diam tanpa ada yang
ngajak ngobrol atau apapun” lirih Felish berusaha megeluarkan uneg-unegnya.
“Kenapa? Bukannya enak jadi anak tunggal?
Nggak perlu bersaing untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, ya
walaupuun kamu bukan anak tunggal beneran?” tanya Vino bertubi-tubi. Sekali
lagi Felish tersenyum, namun senyumannya kali ini terlihat lebih berarti.
“Karena jika kita memiliki saudara yang selalu
ada untuk kita, paling tidak kita mempunyai tempat untuk berbagi. Dan hidup
memang akan bermakna jika kita bisa berbagi. Kadang aku merasa heran kepada
mereka yang tidak bisa menghargai arti sebuah persaudaraan. Terlebih jika
berujung kesebuah pertikaian. Sangatlah bodoh menurutku mereka yang melakukan
itu,” tutur Felish lembut yang sukses membuat Vino terdiam. Dua kalimat
terakhirnya mengingakan dia kepada sosok saudara tirinya.
‘Bodohkah
aku yang telah merusak ikatan persaudaraanku dengan pengecut itu karena aku dan
dia mencintai sosok gadis yang sama?’ tanya Vino pada dirinya sendiri.
Felish sedikit heran melihat sikap Vino. Sangat jarang dia menemukan pangeran
hatinya ini tengah terenyuh kedalam pikirannya.
“Kenapa Vin?” tanya Felish membuyarkan lamunan
Vino.
“Oh... ehm.. nggak papa kok. Kamu mau ice
cream?” kata Vino sedikit gelagapan namun dia segera berusaha mengalihkan
perhatian Felish. Felish hanya menangguk kecil. Tanda mengiyakan saja.
“Tunggu ya?” kata Vino sembari beranjak dari
tempat duduknya menuju kedai ice cream di pojok taman yang tengah ramai
dikerumuni anak-anak.
“Kamu...... sempurna,” bisik Felish seraya
terus mengamati sosok pujaan hatinya dari kejauhan. Seperti apapun
penampilannya dia selalu terlihat menawan dimata Felish. Terlebih jika dia
sedang bercengkrama dengan bola di basket
“Pesonanya melebihi pemain basket
international,” gumam Felish suatu hari dipojok kamarnya usai meonton
pertandingan perdana Vino di Do-bosh SHIS.
Namun, bukan itu yang menyebabkan dia menaruh
hati pada kekasih sahabatnya itu. Bukan pula karena pemuda itu memiliki
perangai yang baik atau apa. Namun karena sebuah alasan yang hingga saat ini
Felish belum mampu menemukan apa ‘itu’.
“Nih Non,” kata Vino tiba-tiba seraya
menyodorkan sebuah cone ice cream kepada Felish. Felish hanya
menerimanya tanpa ekspresi karena merasa sedikit terkejut oleh kedatangan Vino
yang secara tiba-tiba ditengah lamunannya.
“Makasih,” katanya sesaat kemudian. Vino mengangguk
ringan. Ekor mata Felish smar-samar mengamati Vino. Tak ubahnya seperti Vino
yang biasanya dimata Felish, gayanya pun ketika makan ice cream tetap
terlihat begitu menawan dimata gadis itu.
“Felish … Felish..,” kata Vino tiba-tiba diiringi
dengan kikikannya yang khas.
“Ada apa?” tanya Felish heran melihat polah
tingkah pangerannya.
“Ternyata benar ya kata Marsha. Kamu kalau
makan ice cream nggak pernah bisa rapi,” kata Vino disela-sela tawanya.
Felish hanya melongo mendengar ucapan Vino barusan. Kemudian dengan sigap Vino
mengeluarkan selembar tissue dari saku kemejanya dan mengusap lembut bibir
Felish. Tentu gadis itu merasa terkejut dengan sikap pangerannya. Ini kali
pertamanya pemuda itu menyentuh dirinya. Perlahan namun pasti, jantung Felish mulai
berdegup melebihi frekuensi normalnya, membuat dia mati kata dan hanya mampu
menurut kepada sang pangeran hatinya.
“Dah, gini dong cantik,” kata Vino sembari
mengacak-acak rambut Felish. Felish hanya mampu memalingkan wajahnya untuk
menutupi rona merah yang tergurat jelas dipipinya.
“Udah cantik kok,” goda Vino. Felish lantas
menatap Vino dengan tatapan menggoda pula. Tawa renyah tercipta dari mereka
berdua. Dan tanpa mereka sadari, benih-benih merah jambu sang sakura tersemat
dihati mereka berdua.
**********
Perasaan heran masih menyelimuti hati Felish.
Bagaimana tidak? Pasalnya hari ini pangeran hatinya benar-benar bertingkah
diluar kebiasaan. Sejak kejadian di koridor sekolah sebulan yang lalu, sejak
itu pula Vino selalu mengajak Felish pergi ke taman kota baik untuk berbagi
cerita maupun hanya sedekar untuk tertawa bersama. Dan hari ini tiba-tiba saja
Vino menunjukkan sikap anehnya. Pertama, dia tidak pernah mengajak Felish pergi
dimalam hari seperti hari ini. Dan kedua, Vino selalu membawa mobil. Bukannya
membawa sepeda motor seperti hari ini.
“Mobil kamu mana Vin?” tanya Felish saat Vino
tiba dirumahnya.
“Aku Cuma bawa motor” jawab pemuda itu dengan
senyum khasnya. Felish hanya mampu menutupi mulutnya yang terbuka dengan
telapak tangannya.
“Kenapa? Kamu nggak takut naik motor kan?”
Vino mengangkat sebelah alisnya.
“Iya... iya.. enggak,” kata Felish yang masih
keheranan.
“Lish? Ada apa?” tanya Vino tiba-tiba yang
sukses membuyarkan lamunan Felishia.
“Eh, eng.. enggak kok. Nggak ada apa-apa. Cuma
heran aja hari ini nggak ada bintang yang tampak,” jawab Felish seraya memanang
langit yang memang tampak lebih gelap dari malam-malam biasanya itu.
“Iya Vi. Oh ya, aku boleh tanya sesuatu?”
tanya Vino lagi. Felish hanya mengangguk.
“Kamu pernah jatuh cinta?” tanya Vino sedikit
ragu.
“Ya pernahlah, aku kan masih normal” jawab
Felish spontan seraya menahan tawanya yang mulai pecah.
“Apakah kamu akan menyalahkan orang yang sedang
jatuh cinta?” tanya Vino lagi tak mempedulikan tawa Felish yang mulai lepas.
“Ya enggaklah Vin. Diundang-undang juga nggak
ada larangan jatuh cinta kan?” jawab Felish berusaha melucu untuk mencairkan
suasana malam ini
“Tapi.....” Vino menggantungkan kalimatnya dan
menatap Felish makin lekat.
“Apa?” tanya Felish yang telah berhasil
meredam tawanya.
“Bagaimana jika kamu jatuh cinta dengan ‘sahabat
dari kekasihmu’?” tanya Vino serius dengan penuh penekanan pada kata-kata
terakhirnya. Kali ini Felish benar-benar terdiam matanya ikut menatap mata
sipit lawan bicaranya. Tak ada tawa yang keluar dari bibirnya. Tak percaya
dengan apa yang diucapkan Vino barusan. Apapun itu, hati kecilnya sebagai
seorang perempuan tetap tak bisa menepis persaan bahwa orang yang dimaksud
Alvin adalah..... (baca: dia). Dan tiba-tiba perkataan sahabatnya terlintas
dipikirannya.
# “Felish, kamu tahu? Sepanjang perjalanan hidupku aku tak pernah
mencintai seorang laki-laki seperti aku mencintai Vino. Karena dialah
satu-satunya orang yang telah berhasil mengambil seluruh hati dan pikiranku,” # kata Marsha dengan sebuah senyuman tulus.
Felish juga ikut tersenyum mendengarnya, walau sebagian hatinya telah dibuatnya
menangis.
“Lish,” kata Vino sedikit bergumam seraya
meraih tangan Felish dan menggenggamnya erat.
“Vin... hujan!!” seru Felish saat merasakan
titik-titik air jatuh mengenainya. Tanpa bayak bicara Vino segera menuntun
Felish berlari menuju tempat yang teduh. Hujan kali ini datang disaat yang
tepat bagi Felish. Hati kecilnya tersenyum walaupun kegalauan masih
menyelimutinya.
“Seharusnya gue tadi bawa mobil!!” Vino merutuki
dirinya sendiri, namun Felish nampak tak mempedulikannya. Dia merasakan dingin
menyelimuti tubuhnya. Bibirnya mulai memutih.
“Lish... Felish?” kata Vino dengan nada
khawatir melihat gadis itu menggigil. Dia segera melepas jaketnya dan membalutkannya
ketubuh Felish.
“Kamu nggak papa?” tanya Vino masih khawatir.
Felish mengangguk lemah. Dan entah apa yang terlintas dipikiran Vino, dia
segera merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Tubuhnya lebih hangat
daripada tubuh Felish, mungkin itu akan sedikit membantu, pikirnya. Felish tak
mampu menolak pelukan Vino walau ada sebagian kecil dari hatinya yang
memberontak. Apapun itu, dia membutuhkannya. Samar-samar, Vino merasakan irama
jantungnya berubah. Tak seperti biasanya, begitu pula dengan gadis yang berada
didalam dekapannya.
“Tolong lepasin aku Vin,” kata Felish sembari
menarik tubuhnya dari rengkuhan Vino karena pemuda itu memeluknya terlalu erat
dan membuatnya sedikit kesulitan bernafas.
“Maaf,” kata Vino seraya melepaskan
pelukannya. Felish segera beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan
tangannya untuk memeriksa apakah hujan sudah reda.
“Vin, pulang yuk? Udah malam,” tanya Felish
samar-samar.
“Tapi masih hujan Lish?” protes Vino karena
hujan memang belum sepenuhnya reda.
“Please...” pinta Felish memelas.
Tatapan sayu dilayangkannya kepada Vino dengan harapan agar pemuda itu segera
menuruti permintaannya.
“Ya udah deh, kalau kamu maksa,” kata Vino
akhirnya dengan berat hati. Dia lalu menuntun Felish menuju tempat parkir
sepeda motornya.
“Pelan-pelan aja Vin,” pinta Felish yang hanya
dibalas dengan anggukan oleh Vino, namun tak dihiraukannya.
“Vi, tangan kamu,” kata Vino seraya
mengulurkan tangan kirinya dan meraih tangan kanan Felish lantas melingkarkan
tangan gadis itu dipinggangnya. Felish tak menolak, tahu apa yang akan
dilakukan Vino. Menambah kecepatan sepeda motonya tentu saja. Namun dia tak
berkomentar sama sekali. Perkataan kedua orang terdekatnya sedang berkecamuk
dipikarnnya. Menimbulkan konflik tersendiri dihati kecilnya.
Felish menghela nafas lega saat sepeda motor
Vino memasuki halaman rumahnya.
“Makasih Vin. Ini jaket kamu,” kata Felish
setelah memijakkan kakinya dibumi.
“Maaf ya, aku jadi buat kamu kehujanan,” kata
Vino merasa bersalah. Felish hanya tersenyum mendengar permintaan maaf pemuda
itu.
“Nggak papa kok Vin. Kamu nggak perlu minta
maaf,” kata Felish menyergah ucapan Vino.
“Ya udah. Aku pulang dulu ya?” kata Vino yang
sudah merasa bahwa gadis itu tidak akan mempersilakannya mampir kerumahnya.
Namun, andai dia tetap melakukannya, Vino juga pasti akan menolak. Dan benar
saja, Felish hanya mengangguk dan tersenyum melepas kepergian Vino bersama CBR150-nya.
Felish segera berlari menuju kamarnya setelah deru motor Vino tak terdengar
lagi dan mengunci dirinya di ruang pribadi miliknya itu. Konflik batin sedang
dialaminya. Seriuskah ucapan Vino tadi? Benarkah orang yang dimaksud adalah dirinya?
Lalu bagaimana dengan Marsha -sahabatnya- yang jelas-jelas sangat mencintai
pemuda itu?
**********
Vino dan Marsha berjalan bersama menuju music
room, tempat favorit mereka disekolah ini. Canda tawa terdengar dari
keduanya. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata sang gadis. Dia
bergelayut mesra dilengan kekasihnya seakan tak ingin pemuda itu lepas darinya.
“Vin, tunggu!!” kata Marsha tepat ketika
mereka hendak menjejakkan kaki dibibir pintu ruangan yang mereka tuju.
Sayup-sayup terdengar alunan tuts-tuts piano diruangan itu. Rupanya seseorang
telah terlebih dahulu memakainya sebelum mereka. Terdengar isakan-isakan kecil
disela-sela melodi yang dimainkannya, dan itulah yang membuat Vino dan Marsha
menghentikan langkahnya.
Kau
harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku
Seorang gadis bersenandung seraya memainkan
jemarinya diantara tuts-tuts piano dengan iringan air mata yang mulai luruh
dari pelupuk matanya. Terdengar begitu miris oleh dua orang audiencenya
yang berada diluar ruangan itu. Rasa sakit akibat penyakit gastritisnya yang
kambuh semenjak dua hari lalu perlahan mulai menguras tenaganya. Apalagi sejak
hari itu juga belum sesendok nasi ataupn seteguk air yang masuk kedalam
tubuhnya. Namun tampaknya hal itu tak mengurungkan niatnya untuk bermain piano
sedikitpun. Karena rupanya dia bukan hanya sekedar bermain, melainkan ingin
mengutarakan isi hatinya. Dia sedang mengalami konflik batin yang banyak
memberi dampak negatif baginya.
“Felish?” tanya Vino sedikit ragu. Marsha
hanya mengangguk tanpa arti. Gurat kecemasan nampak jelas diwajah mereka.
“Kapan Vin apa kamu uda sadar jika aku lebih ada
untuk kamu..... daripada Marsha?” kata Via terisak ditengah-tengah alunan
melodi yang dimainkannya. Dua audiencenya sukses dibuat terkejut oleh
perkataan sang pianis, terlebih Marsha. dia hanya mampu menatap Vino dengan
tatapan penuh tanya namun Vino hanya memandangnya sekilas lantas membuang muka
darinya.
“A... aku.. uhuk...uhuk...” lanjut gadis itu
tebata-bata. Tangan kirinya memegangi perutnya yang terasa sangat perih bagai
ditusuk ribuan jarum. BRUKKK!!!
“Lish.. Felish...” teriak Vino tiba-tiba
seraya berlari masuk keruangan itu. Marsha tak mampu berkata, dia hanya
mengikuti Vino dan lebih memilih menjadi tokoh pasif.
“Felish!!” jerit Vino histeris melihat gadis
itu tengah tersungkur dan tak sadarkan diri dikaki-kaki meja piano. Darah segar
mengalir dari bibirnya.
“Lish... kamu kenapa?” katanya lagi seraya
mengusap darah dibibir gadis itu dengan jemarinya.
“Kita bawa Felish ke rumah sakit ya Sha,” kata
Vino seraya mengagkat tubuh Felish. Marsha hanya mengangguk dan mengikuti
kekasihnya yang berlari didepannya.
“Kamu temenin Felish dibelakang,” titah Vino.
Lagi-lagi Marsha hanya mengangguk. Vino segera duduk dibelakang kemudi dan
menghidupka mesin mobilya. Pemuda itu mengemudikan mobilnya membelah jalan raya
diatas batas kecepatan yang diizinkan. Tak dihiraukannya makian dan umpatan
dari pengguna jalan lain. Misinya hanya satu: membawa Felish ke rumah sakit
tepat waktu sebelum hal yang lebih buruk terjadi pada gadis itu. Sementara
Marsha masih tak mampu berkata-kata. Apalagi melihat sikap sang kekasih.
Dilihatnya sesekali kekasihnya itu menoleh kebelakang. Namun, tak untuk melihat
dirinya, melainkan gadis yang kini ada dipangkuannya.
**********
Vino modar-mandir didepan UGD. Sesekali mata
sipitnya memandang pintu ruangan yang belum terbuka sejak satu setengah jam
yang lalu itu. Kegundahan yang amat sangat menyelimuti hatinya. Sementara
Marsha hanya duduk terpaku dikursi tunggu seraya mengamati polah pemuda itu.
Perkataan sahabatnya masih terngiang ditelinganya. Dan melihat tingkah Vino,
tentu dia tak dapat menepis dugaan bahwa.....
“Vin,” katanya lirih sembari mengerjapkan
matanya untuk menahan luruhnya kaca-kaca bening yang mulai terbentuk di bola
matanya. Vino menghentikan langkahnya lantas duduk disamping gadis itu dan
menatapnya.
“Iya Sha?” katanya kepada gadis itu. Terdengar
getaran disuaranya. Dan gurat kekhawatiran itu, bisa dipastikan semua orang
mampu melihatnya.
“Perkatan Felish tadi…...” Marsha
menggantungkan kalimatnya.
“Apa kamu juga?” lanjutnya dengan penuh
penekanan dikata terakhirnya. Dia memalingkan wajahnya dari Vino. Setetes air
mata tak kuasa dia tahan agar tetap berada ditempatnya semula. Vino tersentak
mendengar pertanyaan kekasihnya. Tenggorokannya terasa kering hingga dia tak
mampu menjawab pertanyaan sederhana penuh maksud yang dikemukakan gadisnya.
“Vin?” kata Marsha lagi karena Vino masih saja
diam.
“Please answer me!!” katanya seraya
menarik lengan sang kekasih.
“Sha.. ak… ak.. aku..”
“Answer it! Yes or no?” kata Marsha yang
sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Tetes-tetes air mata kini menghiasi pipinya.
Vino menundukkan kepalanya dalam. Marsha masih memandangnya dengan tatapan
penuh tanya.
“Maafin aku Sha,” bisik Vino.
“Maafin aku sayang,” katanya lagi seraya merengkuh
Marsha.
“Nggak perlu minta maaf Vin,” kata Marsha
menarik dirinya dari rengkuhan Vino. Tentu dia mengerti maksud ucapan pemuda
itu.
“Sha.., ak... aku..”
“Hustttt!!!” Marsha meletakkan telunjuknya
dibibir Vino.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Karena memang
rasa itu bisa datang kepada siapa saja,” kata Marsha berusaha membentuk senyum
dibibirnya walau dirasanya sakit yang teramat tatkala dia menarik kedua ujung
bibirnya.
“Dan aku juga gak akan pernah menyalahkan kamu
kalau ternyata kamu memiliki perasaan itu kepada Felish, atau sebaliknya,”
lanjut Marsha berusaha meredam getaran hebat dihatinya.
“Sha, aku nggak pernah bermaksud untuk itu,”
bisik Vino sembari merengkuh tubuh kecil Marsha. Cukup lama. Tatapan sinis dari
orang-orang disekitarnya tak mereka pedulikan. Memang apa yang mereka mengerti?
“Aku boleh minta sesuatu?” pinta Marsha lirih.
Vino melepas pelukannya.
“Apa Sha?” tanyanya lembut seraya mengangkat
wajah gadisnya.
“Vin, mungkin sebaiknya kita akhiri aja sketsa
tentang kita...... dengan sebuah senyuman,” lirih Marsha seraya meraih tangan
Alvin dan menggenggamnya. Walau samar, namun kesungguhan terdengar dari
kalimatnya.
“Sha, ta...tapi Apa maksud kamu?” tanya Vino
yang tentu saja terkejut mendengar perkataan gadisnya.
“Kamu tidak bisa memilih aku dan Felish. Tapi
kamu harus memilih aku atau Felish.” kata Marsha dengan senyum tanpa arti. Vino
masih tampak terkejut mendengar perkataan gadisnya. Mengakhiri sketsa antara
dirinya dan Marsha sama dengan mengakhiri hubungan keluarga mereka.
“Dan aku tidak akan memberikan kamu pilihan,
tetapi sebuah keputusan,” lanjut Marsha lirih.
“Sha, tapi..”
“Please!! Pahami keadaan kita Vin! Apa
kamu tahu? Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki
cinta tanpa ikatan!” hardik Marsha. Vino terdiam.
“Aku tahu apa yang ada dipikiran kamu. Orang
tua kita, rencana pertunangan kita, tapi persahabatan bisa jadi mengalahkan itu
semua!” Marsha menatap lekat bola mata Vino. Namun pemuda itu masih saja
terdiam.
“Aku yakin semua akan baik-baik saja jika kita
mampu menjelaskan pada mereka,” Marsha melanjutkan monolognya yang membuat Vino
semakin membeku.
“Vin,” katanya lagi seraya meraih kedua tangan
pemuda itu dan menggenggamnya.
“Tolong hargai keputusanku. Demi aku, kamu,
dan dia,” lanjutnya lirih.
“But, I still love you more than I love her!”
protes Vino.
“Jangan berbohong Vin. Mata kamu gak bisa menyembunyikan
segalanya,” tutur Marsha. Vino menekuk wajahnya. Dia tampak hendak mengutarakan
sesuatu.
“Berpisah bukan berarti berakhir. Kita masih
bisa menjadi sahabat,” lanjut Marsha mendahului Vino. Meskipun sebenarnya ia
terlalu berat untuk mengatakan itu
“Kamu kira aku berbohong?” kata Vino kemudian.
“Aku mengenal kamu sekian tahun Vin. Aku tahu
mana kamu yang bohong dan tidak. Jangan jadikan dirimu seorang pengecut karena
gak berani menceritakan sebuah kebenaran,” sergah Marsha. Vino kembali terdiam,
teringat kisah-kisah manisnya dengan gadis itu. Haruskah berakhir sesingkat
ini? Padahal ‘rasa’ untuk Marsha belum sepenuhnya kandas dari hatinya. Namun
dia juga tak bisa memungkiri jika ‘rasa’ itu mulai mengering saat hadirnya
sosok lain dihatinya. Sosok yang mampu menggetarkan hatinya. Dan perkataan
Marsha tadi,”Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki
cinta tanpa ikatan.” Itu berarti keduanya sama-sama sakit. Dan dia sungguh
sedang terperangkap dikeduanya. Lalu ucapan Marsha tentang,”Jangan jadikan
dirimu seorang pengecut,” tentu sulit untuk dia terima. Dia selalu menyematkan
predikat itu kepada saudara tirinya. Lalu apakah saat ini dia telah menjadi
seorang pengecut juga?
‘Tuhan, apa yang harus kulakukan dan mana yang
harus kupilih?’ rintihnya dalam hati.
“Vin,” kata Marsha seraya membelai wajah
pemuda itu. Vino menoleh.
“Terkadang cinta bisa mengubah seseorang. Tapi
aku mengenalmu. Kamu adalah pribadi yang tegas! Dan aku tak pernah ingin cinta
mengambilnya darimu,” tutur Marsha.
“Jadi tolong, terima keputusanku. Mari kita
akhiri semuanya dengan sebuah senyuman. Bukan berakhir seperti yang lain. Hanya
berganti skenario,” lanjut Marsha dengan senyum samar. Vino meraih tangan gadis
itu lantas mengecupnya.
“Kamu memberiku keputusan yang sulit,” lirih
Vino. Marsha berusaha tersenyum.
“Tapi benar. Dan aku tidak memberimu pilihan,”
sambung Marsha. Vino kembali dibuatnya diam.
“Jadi?” tanya Marsha. Vino tak menjawab. Dia
menghela nafas panjang. Dengan senyum yang sedikit dipaksa, Marsha menunggu
jawaban pemuda itu.
“Aku tak akan menjawab iya atau tidak. Namun
jika itu keputusanmu....” Vino berhenti sejenak.
“Akan kucoba untuk menerimanya dengan lapang dada,
meskipun aku gak pernah ingin melepasmu,” lanjut Vino. Getaran disuaranya tak
dapat dia sembunyikan. Marsha tersenyum lega.
“Thank’s. Udah mau mengerti aku,” lirih
Marsha. Vino meraih tubuh gadis itu. Memeluknya erat, untuk kali terakhir.
Sebuah kecupan mendarat dikening sang gadis. Yang kini sudah bukan gadisnya
lagi. Marsha tak menolak.
“Maaf dan terimakasih untuk segalanya,” bisik Vino,
Marsha tersenyum.
“Sama-sama Vin. Dan kamu tahu apa yag harus
kamu katakan kepada orang tua kita nanti malam,” balasnya seraya mengusap air
matanya. Keheningan lantas menyelimuti keduanya. Tak sepatah katapun terucap
sejak saat itu hingga sosok berjas putih menampakkan dirinya dari balik pintu
UGD. Sosok yang mereka nantikan. Vino dan Marsha beranjak menghampirinya.
“Bagaimana kondisi Felish dok?” tanya Vino
sedikit menggebu.
“Maaf, tapi anda siapanya pasien?” dokter itu
balik bertanya.
“Saya sahabatnya dan saya yang bertanggung
jawab atas dia,” jawab Vino.
“Baiklah. Ehm, kondisi pasien sebenarnya tidak
terlalu buruk. Hanya saja stress yang sedang dialaminya membuat daya tahan
tubuhnya menurun juga pola makan yang tidak teratur memicu penyakit maagnya
kambuh. Dan untuk saat ini kondisinya sudah mulai memulih,” jelas sang dokter.
“Kami boleh menemuinya?” tanya Marsha.
“Tentu, kebetulan dia juga sudah siuman,”
jawab dokter tersebut sembari mengulun senyum.
“Terimakasih dok,” kata Vino dan Marsha hampir
bersamaan.
“Sama-sama,” balas si dokter. Vino dan Marsha segera
beranjak menuju UGD. Marsha menahan jarak beberapa langkah dibelakang Vino.
“Vin, tunggu!!” seru Marsha seraya menarik
lengan Vino. Vino pun menghentikan langkahnya.
“Iya Sha?” tanya Vino. Marsha tersenyum.
“Apapun yag terjadi didalam nanti, jangan
pernah mengejarku. Jaga Felish untuk aku!” kata Marsha dengan tatapan sayunya.
Vino kembali terdiam.
“Janji?” kata Marsha mengikat Vino sebelum
pemuda itu memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Dia mengacungkan
kelingking kanannya.
“Jika itu mau kamu,” kata Vino pasrah seraya
melingkarkan kelingking kanannya dikelingking Marsha.
“Makasih,” Marsha tersenyum lembut. Vino
mendahuluinya memasuki ruangan bernuansa hijau tersebut.
“Felish!!” pekik Vino ketika memasuki ruangan
dan melihat gadis mungil itu terbaring tak berdaya disalah satu sisinya.
“Vino,” Felish balik berseru. Tentu dia merasa
terkejut melihat Vino yang tiba-tiba hadir dihadapannya. Dia mencoba untuk
bangkit, namun Vino telah lebih dulu menahannya.
“Husstt!! Kamu istirahat dulu,” kata Vino
setengah berbisik.
“Kamu... yang bawa aku kesini?” tanya Felish sedikit
ragu. Vino hanya mengangguk kecil.
“Jangan buat aku khawatir,” tutur Vino seraya
membelai rambut Felish. Felish hanya tersenyum dan membiarkan pujaan hatinya
itu memberinya belaian lembut.
“Iya Vin. Maaf,” katanya kemudian.
“Permisi,” kata sebuah suara yang tiba-tiba
muncul dari belakang pintu dan sukses membuat Felish tersentak.
“Marsha?” pekik Felish tak prcaya melihat
sosok gadis yang kini berada dihadapannya. Gadis itu tersenyum dan melangkah
gontai mendekati sahabatnya yang sedang terbaring lemah.
“Kamu pintar banget buat aku khawatir,” kata
Marshadengan sbuah senyum yang terkesan dipaksakan. Felish masih tak mampu
berkata.
“Harusnya kamu bilang dari dulu, jadi aku tahu
lebih awal,” katanya lagi seraya mengacak-acak poni sahabatnya. Kaca-kaca
bening terbentuk dimatanya.
“Aku keluar dulu,” kata Marsha tiba-tiba
sembari berlari meninggalkan dua sahabatnya. Bukan karena apa, hanya saja kini
air mata telah membasahi pipiya. Dan dia tak mungkin memperlihatkan itu kepada
mereka terlebih kepada Vino mengingat kalimat yang belum lama dia lontarkan.
Akhiri semua dengan senyuman. Bukan tangisan.
“Marsha!!” jerit Felish bermaksud menahan
sahabatnya, namun sia-sia. Marsha sama sekali tak menoleh kepadaya.
“Kenapa kamu nggak kejar Marsha Vin?” tanya
Felish yang sudah bangkit dari tidurnya seraya menarik-narik kemeja Vino karena
pemuda itu hanya diam melihat kekasihnya berlari keluar.
“Ini permintaannya Lish,” lirih Vino.
Lagi-lagi Felish dibuatnya tersentak.
“Apa maksud kamu?” tanya Felish.
“Semua udah berakhir Lish,” jawab Vino dengan
nada bersalahnya. Jelas jawabannya kali ini sukses membuat Felish terkejut
tingkat dewa.
“Tapi kenapa? Katakan kalau kamu bohong Vin!”
seru Felish yang tak percaya mendengar fakta yang baru saja dikemukakan oleh
pemuda yang ada dihadapannya. Dia tahu benar maksud kata ‘berakhir’
dikalimatnya.
“Ini semua salahku. Arrgghh!!!” erang Vino.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Felish. Dia masih tak percaya dengan
semua yang baru saja didengarnya.
“Kamu sungguh Vin?” tanyanya lagi berusaha
meyakinkan dirinya sendiri.
“Bisakah aku berbohong dalam keadaan seperti
ini?” Vino balik bertanya. Felish menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
Dia tak menampik tuduhan jika semua ini terjadi karena dirinya juga.
“Vin,” bisiknya seraya merobohkan dirinya
kepelukan pangerannya.
“Bukan salah kamu, tapi salah kita,” katanya
lagi meralat ucapan Vino. Vino mengelus pundak gadis itu. Kemeja depannya turut
basah oleh air mata sang gadis.
“Kita semua hanya ingin menuruti apa yag
diyakini oleh hati nurani kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ini semua
terjadi juga tak luput dari kesalahanku,” lanjutanya seraya terisak.
*****
Continue ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar