Sabtu, 03 Agustus 2013

Secret Admirer



"Secret Admirer"

Empat puluh lima menit sudah, dan aku masih saja duduk terpaku di sini, kursi taman belakang Kampus. Seiring berhembusnya angin sore, sosok pemuda rupawan itu kembali hadir memenuhi seluruh rongga kepalaku. Menyisakan setetes kepedihan yang begitu kelam. Teramat menyesakkan. Dan mungkin membosankan untuk ku katakana lebih dalam.

“Mey!!" suara itu mengalun begitu saja. Membuyarkan anganku tentangnya. Tentang dia, pria berkacamata, dengan lesung di pipi kiri. Manis.

"Eh, kenapa Cil ?? Ada apa?" tanyaku datar.

Gadis manis yang memiliki tinggi cukup jauh di atas ku itu duduk tepat di sampingku.

"Harusnya gue yang nanya ngapain lo di sini? Senyam senyum sendirian laigi, kesambet ya lo!" katanya ketus.

Aku tersenyum tipis.

"Gak papa kok sih. Belom niat pulang aja, masih pengen disini"

"Hah? Lo gila Mey? Udah ampir jam 6 gini!!" serunya seraya menunjuk sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Aku tak berkata. Hanya menanggapi celoteh gadis itu dengan senyuman samar.

"pasti Lo mikirin dia lagi kan?"

"Dia siapa?" aku balik bertanya. Pertanyaan bodoh.

"Gak usah menafik Princess Horan! Gue bukan bayi yang bisa lo tipu dan lo kadal kadalin kayak gini!" katanya sedikit membentak.

Aku diam. Hatiku membenarkan ucapan gadis manis yang sudah menjadi sahabatku sejak lima tahun lalu itu.
“Princess Horan? Maksud lo?”

"Lo pengecut Mey!"

"Bukan urusan lo!"
aku balik membentak

" oh Jelas ini urusan gue! Lo pikir gue tahan ngelihat sahabat gue nahan rasa sakit gara-gara dia nggak mau ngugkapin apa yang ada di hatinya. Gara-gara dia cuma jadi pengagum rahasia di balik topeng dan nggak pernah mau menunjukkan wujud aslinya! Itu munafik !Cuma seorang pengecut yang tahan terus  terusan sembunyi di balik topeng begini" kata Gita panjang lebar.

Aku hanya diam. Tak menanggapi perkataannya.

"Meyline! Lo nggak bisa kayak gini terus," katanya memohon, sepertinya sahabat ku ini sudah menurunkan tinggi suara nya 1 oktaf lebih rendah dari sebelumnya.

Hanya kutundukkan kepalaku. Memandangi ujung sepatuku yang nampak kotor karna bekas hujan tadi siang.

"Dia harus tau Mey! Lo harus bilang ke dia!" ujar Pricilla menggebu-gebu.

"Gue gak bisa!" sergahku cepat.

"Kenapa?"

"ya gue kan cewek ! gak wajar dong!"

"Nggak Mey! Ini wajar!"

"Wajar buat lo, sangat gak buat gue!"

"Gue nggak mau kehilangan lo Mey! Kehilangan senyum lo yang selalu bisa bikin gue bahagia,"
ratap Pricilla.

Aku terenyuh.

"Maafin gue Cil," balasku singkat.

"Lo harus berani!"

"Itu kelemahan gue"

"Kalo gitu lo harus buang rasa itu!"

"Yang itu juga kelemahan gue,"
kataku seraya menatap mata sipitnya.

"Pricilla biarin gue mengikuti alur yang ditulis Tuhan. Gue percaya takdir Cil. Gue mohon. Ini yang gue pilih. Maaf kalo gue ngecewain lo. Gue balik duluan ya,"
kataku mendiamkannya seraya beranjak dari hadapan gadis itu.

Kutinggalkan dia begitu saja di tempatnya. Tiap langkahku terasa begitu berat. Aku terus berjalan dalam diam, mengikuti alur cerita Tuhan.

***
“Diam...
Tak berkata
Pasrah...
Mungkin
Menerima...
Tiap alur cerita yang dituliskan Tuhan
Untuk kebahagiian ku tentunya”

**

Rasa sesak mendiamkanku di sudut ruang pribadiku. Aku mendesah pelan. Selalu seperti ini tiap bayangan pemuda itu hadir. Tiga tahun, sejak kali pertama aku menatap mata birunya, hingga detik ini, aku masih menjadi pengagum rahasianya. Sungguh miris.

Aku membenarkan perkataan Pricilla kemarin sore. Aku memang pengecut. Aku memang hanya mampu mengaguminya di balik topeng. Mencuri tiap informasi tentangnya. Menyebut namanya dalam setiap doaku di pangkal nafasku, tanpa pernah sekalipun dia mengetahuinya. Namun biarlah. Aku bahagia melakukannya. Meski tak hanya setetes air mata yang kujatuhkan. Untuk nya ~


“cinta .. aku bukanlah seorang pujangga yang punya segudang kata bermakna indah, yang bisa memaksa mu untuk tetap selalu hadir disini, walau sebatas di ilusi


***END***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by