Kamis, 01 Agustus 2013

(MUNGKIN) Bahagia adalah ketika aku melupakan mu



We were as one babe
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine

Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart babe
Our love will never die
No!

You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my baby

Suara serak David Cook menggema memenuhi sudut-sudut ruanganku. Entah kenapa aku selalu stuck saat mendengar lagu ini. Aku semakin terisak lembar-lembar tissue berserakan disekelilingku. Sudah kucoba untuk tidak menangisi ini, membiarkannya menjadi angin lalu. Namun rupanya aku gagal. Cairan bening ini tetap menetes dari pelupuk mataku, bahkan semakin deras, tak kunjung mengering. Walau kusadar jika ini tak berguna. Tak akan mengubah segalanya. Air mata hanya mengisyaratkan betapa lemah dan rapuhnya aku.

Aku mmang lemah. Bukan hanya lemah, namun juga rapuh dan lapuk. Kau tahu apa penyebabnya? Satu kata, tiga huruf yang sekarang tak ada artinya lagi bagiku. KAU. Kau yang menjadikan aku begini. Aku baik-baik saja sebelum hadirmu! Sebelum kau bawa seberkas harapan itu. Harapan tak berujung yang telah membiusku dan sekarang sukses membunuhku. Menenggelamkanku dalam buaian rasa yang telah kau tinggal pergi.

Kadang aku berpikir, sebegitu keraskah hatimu? Hingga kau sama sekali tak merasa apa yang aku rasa? Hingga kau tak pernah sadar jika aku selalu ada untukmu? Hingga kau tak menyadari rona merah jambu sang sakura telah lama tumbuh dihatiku? Dan tahukah kamu jika aku menunggumu? Menunggumu untuk memetiknya dari hatiku. Haruskah aku berkata “AKU MENCINTAIMU” agar kau sadar rasa itu sungguh ada dihatiku? Haruskah aku meneriakkan “AKU INGIN KAU DISINI” agar kau sadar sungguh ku membutuhkanmu?

Tetes-tetes air mataku tak kunjung reda. Kubenamkan diriku diantara tumpukan bantal dan selimutku. Rambut panjangku terurai tak karuan. Tiba-tiba kurasakan getaran dicelah-celah tumpukan itu. Aku tersentak. Sebuah pesan kuterima dari dia yang tak ingin kusebut namanya. Hanya kubaca sekilas pesan itu, namun sukses membuat nyeri dan ngilu hatiku. Membuatku muak dan mual. Ku genggam erat handphoneku. Ku angkat tanganku hendak membantingnya. Namun segera kuurungkan niatku. Ku tundukkan kepalaku dalam. Hal yang paling kubnci terjadi, ketika kemarahanku berubah menjadi air mata. Cairan bening itu mengalir makin deras membasahi pipiku. Bagaimana tidak? Kau memang benar-benar tak punya hati. Kemanakah pikiranmu? Perlukah kau memberitahuku apa yang sedang kau lakukan dengan gadismu? Tidakkah kau tahu jika ini hanya menambah lukaku? Tidakkah kau tahu jika aku benci menjadi tempat pelarianmu? Aku bukan tempat sampah!! Aku manusia yang memiliki perasaan!! Bukan boneka yang bisa kau perlakukan semaumu.

Lalu ? apa itu bahagia ???
~ “(MUNGKIN) bahagia adalah ketika kamu bisa melupakan nya” ~
Rintikan hujan pun menjawabnya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by