We were as one babe
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart babe
Our love will never die
No!
You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my
baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my
baby
Suara
serak David Cook menggema memenuhi sudut-sudut ruanganku. Entah kenapa aku
selalu stuck saat mendengar lagu ini. Aku semakin terisak lembar-lembar tissue
berserakan disekelilingku. Sudah kucoba untuk tidak menangisi ini, membiarkannya
menjadi angin lalu. Namun rupanya aku gagal. Cairan bening ini tetap menetes
dari pelupuk mataku, bahkan semakin deras, tak kunjung mengering. Walau kusadar
jika ini tak berguna. Tak akan mengubah segalanya. Air mata hanya
mengisyaratkan betapa lemah dan rapuhnya aku.
Aku
mmang lemah. Bukan hanya lemah, namun juga rapuh dan lapuk. Kau tahu apa
penyebabnya? Satu kata, tiga huruf yang sekarang tak ada artinya lagi bagiku.
KAU. Kau yang menjadikan aku begini. Aku baik-baik saja sebelum hadirmu!
Sebelum kau bawa seberkas harapan itu. Harapan tak berujung yang telah
membiusku dan sekarang sukses membunuhku. Menenggelamkanku dalam buaian rasa
yang telah kau tinggal pergi.
Kadang
aku berpikir, sebegitu keraskah hatimu? Hingga kau sama sekali tak merasa apa
yang aku rasa? Hingga kau tak pernah sadar jika aku selalu ada untukmu? Hingga
kau tak menyadari rona merah jambu sang sakura telah lama tumbuh dihatiku? Dan
tahukah kamu jika aku menunggumu? Menunggumu untuk memetiknya dari hatiku.
Haruskah aku berkata “AKU MENCINTAIMU” agar kau sadar rasa itu sungguh ada
dihatiku? Haruskah aku meneriakkan “AKU INGIN KAU DISINI” agar kau sadar
sungguh ku membutuhkanmu?
Tetes-tetes
air mataku tak kunjung reda. Kubenamkan diriku diantara tumpukan bantal dan
selimutku. Rambut panjangku terurai tak karuan. Tiba-tiba kurasakan getaran
dicelah-celah tumpukan itu. Aku tersentak. Sebuah pesan kuterima dari dia yang
tak ingin kusebut namanya. Hanya kubaca sekilas pesan itu, namun sukses membuat
nyeri dan ngilu hatiku. Membuatku muak dan mual. Ku genggam erat handphoneku.
Ku angkat tanganku hendak membantingnya. Namun segera kuurungkan niatku. Ku
tundukkan kepalaku dalam. Hal yang paling kubnci terjadi, ketika kemarahanku
berubah menjadi air mata. Cairan bening itu mengalir makin deras membasahi
pipiku. Bagaimana tidak? Kau memang benar-benar tak punya hati. Kemanakah
pikiranmu? Perlukah kau memberitahuku apa yang sedang kau lakukan dengan gadismu?
Tidakkah kau tahu jika ini hanya menambah lukaku? Tidakkah kau tahu jika aku
benci menjadi tempat pelarianmu? Aku bukan tempat sampah!! Aku manusia yang
memiliki perasaan!! Bukan boneka yang bisa kau perlakukan semaumu.
Lalu ? apa itu
bahagia ???
~ “(MUNGKIN)
bahagia adalah ketika kamu bisa melupakan nya” ~
Rintikan hujan
pun menjawabnya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar