Rabu, 05 Juni 2013

Gerimis Dalam Senja ( PART I )


 Sore  ini aku berdiri di atas bukit dengan sepedaku. aku meremas-remas tangan yang disertai keringat dingin. “Dooooorrr..... “Hayo lama banget ya gue ?”.  Felish tersenyum meminta maaf. Aku  merebahkan tubuh di pohon besar dan ku lihat Felish pun mengikutinya. Lalu kami sama-sama mendongak ke atas langit dan berbicara kepada diri kami masing masing.
 Akankah nanti mereka pergi dari dunia ini ?
“Lo lagi inget orang tua lo ya Mel”.
“Gue takut Lish, gue cuma takut.” Aku mulai melepaskan satu butir air mataku, ku akui aku sangat merindukan merea. orang tuaku.
“Gue sayang sama lo Mel, gue udah anggep lo sebagai ade gue sendiri. Kita ini saudara, sahabat, keluarga, lo inget itu. Lo gak pernah sendirian di bumi ini. masih ada gue Mel?” Felish menatap mata ku dalam.
“Makasih Lish.” Felish memeluk ku. Aku tak kuasa menahan air mata ini. air mata kerinduan akan sosok orang tua ku, akan sosok kesendirian ku, dan semua kekosongan yang selama ini aku  rasakan. Aku kesespian.

kami pulang menenteng sepeda masing-masing. Aku merasa lega karena sore ini aku telah menangis, menumpahkan segalanya.
“Mel lo cerita dong, lo udah janji loh sama gue bakal bilang siapa cowok yang lo suka saat ini.”
“Lo dulu aja Lish.” aku menyeringai, meminta dan memohon kepada Felish dengan tatapan sedikit manja.
“Lo dulu deh, kan gue yang duluan nanya.” Felish mengelak.
“Lo dulu Lish, entar abis lo baru gue, janji deh.” Aku terus berusaha meyakinkan Felish.
“Oke. Gue.. gue suka sama Junior, gue bener-bener suka sama dia. Perasaan gue, dulu gue pernah cerita sama lo deh Mel?”
aku terdiam, bukankah nama itu yang harus nya aku katakana sekarang? Kenapa harus Felish duluan yang mengatakan nya? Lalu bagaimana?
“Mel, lo denger gue kan?”
“eh.. I .. Iya Lish.”
“Gue suka sama Junior. Dia sering senyum ke gue, entah gue yang geer atau ngga tapi gue suka sama dia.”
“Oh gitu .”
“Kalo lo suka sama siapa?”
“Gue .. gue .. emm . gue gak tahu Lish.”
“Kok lo gitu sih, lo kan udah janji sama gue, lo ga boleh tertutup gitu dong.” Felisha mendesakku
“Gue suka sama ............’’
“Sama siapa?”
“Sama siapa ya ..... ’’
“Siapa namanya?”
“Gue gak tahu namanya.”
“Udah deh Mel, gue tau ko lo suka sama Darel kan?” Felish menatapku .
Aku mengangguk pelan dengan ragu dan menatap wajah sahabatku yang sedang gembira ini.
 Oh Tuhan ... kenapa harus Darel , kenapa harus dia yang terlibat? Aku terus mengumpat dalam hati.
“Lo mau janji ma gue gk Mel ?”
“apa Lish ?” aku menoleh padanya.
“Lo harus bantu gue biar dapetin dia.”
“Gue harus gimana?”
“Lo harus terus deketin dia, nyari informasi tentang Junior.”
“Hm ia Lish... ‘’’
“Lo lakuin buat gue yah ?”
“ia baweell, anything for you.” aku tersenyum datar
“Gue juga bakal lakuin hal yang sama, supaya Lo dan Darel bisa bersatu.”
“hahh ?? Apaaaaaaa?”
**

Aku masuk ke dalam rumah, meletakan sepeda dengan asal di halaman depan. Entah kenapa aku sangat enggan untuk mengembalikannya ke dalam garasi mobil. aku langsung menuju kamar tercintaku, meyalakan lampu dan duduk di depan jendela. Gerimis sudah mulai menyapa sore ini, meskipun aku tak merasakan rintik itu, tapi aku tetap menikmatinya di dalam kamarku. Di balik jendela ini. Akhir-akhir ini sering turun gerimis atau hujan sepanjang malam. Tapi entah kenapa aku lebih meyukai gerimis dan pelangi sehabis hujan. Aku melihat kesekitar kompleks perumahan yang berderet memanjang saling menghadap ke jalan. aku mengambil buku dan pensil kesayanganku. Jemari ku mulai aktif berdansa ria di atas kertas putih yang sedikit lusuh ini.

Tuhan, aku lelah dengan semuanya.Mereka selau bersandiwara di depanku. Apakah mereka tidak merasa bahagia? Lalu aku siapa bagi mereka? Tuhan, mengapa setiap aku menatap matanya aku merasakan kekosongan yang sama? Tapi hati ini sejuk setiap kali dia berada di sampingku. Semua orang tahu bahwa dia adalah cowok yang luar biasa.Dia tampan, pintar, dan populerTapi kadang tatapannya begitu kosong, bahasa tubuhnya begitu dingin dan kaku. Itulah yang kurasakan saat aku duduk bersamanya. Kami memang tak sering banyak bicara, hanya saja sering berbasa basi. Felisha bilang dia menyukainya, lalu kenapa aku juga harus menyukainya? Apa aku bisa masuk ke dalam dunianya? Apakah dia juga selalu merasakan kesenidirian yang selalu aku rasakan selama ini? Aku tidak tahu .. Aku tak ingin tahu...

Aku merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Menarik nafas dalam dan memeluk gulingku. Aku menoleh kesamping kanan, menatap foto orang tua ku yang terpampang manis di meja biru itu. Mama Papa, jangan tinggalin Mel. Felisha, Omma, Ka vicky, kalian orang-orang yang sayang sama aku, aku juga sayang kalian.

*
Prang........ Tiba-tiba suara itu menghantam telingaku. Aku terperanjat kaget dan bangun dari tidurku. Tak perlu waktu lama untuk memikirkan dari mana arah suara itu. Aku langsung keluar dari kamar menuruni tangga dan menuju ruang tamu. aku melebarkan mataku ketika masih berdiri di anak tangga.
Mama Papa? Kenapa mereka? Mengapa Mama menangis? Mengapa Mama mendorong Papa hingga terjatuh? Oh Tuhan .. Ada apa dengan semua ini?
aku kembali berlari menaiki tangga menuju kamar. aku langsung melompat ke atas tempat tidur dan memeluk elmo, boneka merah kesayangan ku. Air mata ku kembali tumpah saat ini.
Tuhan mengapa mereka harus bertengkar? Salah apa Papa sehingga Mama harus mendorongnya hingga terjatuh? Tuhan, kenapa Mama menangis? Tuhan .. kenapa Tuhan? Kenapa?
*
aku duduk seperti biasa di depan jendela menatap cahaya matahari sore. Aku sangat bosan dengan  kesendirian ini , tadi aku melihat papa pulang dengan wajah lelah dan langsung tidur. Aku keluar dari kamar, menjinjing jaket kulit dan berpamitan kepada Mbak Inah untuk pergi sebentar. Mama pergi ke luar kota selama satu minggu dan kembali memperkerjakannya Mbak Inah, meskipun Mbak Inah sudah nampak lebih tua dari 3 tahun lalu, tapi dia masih sangat cekatan mengerjakan pekerjaan rumah, mungkin ini alasan mama tetap mempercayai Mbak Inah .
aku berjalan di sekitar area kompleks yang sepi. Aku mulai duduk di sebuah ayunan yang di depannya terdapat sebuah danau kecil. Aku terus bergelayun layaknya saat aku masih menjadi anak TK. Tiba-tiba aku merasakan ayunan ini berhenti sendiri. Aku mulai menoleh ke samping dan Junior ada di sana.
“Junior lo ngapain di sini?”
“Lo pikir?”
“Nggak ngapa-ngapain, gk tau deh gue.”
Junior tersenyum tipis. aku memandanginya dengan teliti, dia selalu mendapat kesan kagum setiap kali memandang wajahnya. Tampan.
“Jalan-jalan yok?”
“Kemana? Menurut lo bakal hujan gak Ju?”
“Paling gerimis doang, kenapa lo takut kena air hujan ?.”
aku tersenyum bahagia. kami berjalan menyusuri jalanan kompleks yang sunyi.
“Junior lo punya adik, punya kakak, atau anak tunggal?”
“Gue anak tunggal, kenapa?” dia tersenyum santai sambil menoleh kearah ku
“Nggak, kalo gue anak kedua sih. Kalo orang tua lo gimana?”
“nyokap gue itu dokter mata, bokap gue punya usaha garment.”
“Oh pantesan mata lo indah.” Aku tertawa.
“haha, pinter banget lo ngegombal nya, ada bakat jadi koki deh kayak nya, haha” Junior ikut tertawa.
“ih kok kokii siii, pembalap tau yang benar” aku memajukan bibirku
“hahah ia ia, terus kalo orang tua lo gimana Mel?”
“Kalo nyokap gue punya restoran, dia emang seorang bisniswoman, bokap gue juga accounting manager di suatu perusahaan.”
Aku menghentikan cerietaku, sembari mendongak ke atas langit, menatap langit yang mulai mendung.
“terus apa yang lo suka Ju?” aku mulai bertanya lagi
“eemm, apa aja.” Junior menjawab singkat
“Pasti lo suka fisika, suka basket, suka musik. Suka gitar, suka nyanyi, Ia kan ?” aku tersenyum kearah nya.
“haha , dasar sok tau lo. Hemm , ia sih emang gue suka itu semua, kalo lo Mel?”
“Gue suka gerimis, gue suka pelangi, gue suka sastra, gue suka elmo, gue suka musik, gue suka es-krim, gue suka banyak.” Aku menjawab panjang lebar. Dan gue suka lo Ju,  aku melanjutkan nya dalam hati.
“Lo gak suka matematika atau sejarah gitu ? atau kimia fisika ??” aku melihat Junior menyeritkan alisnya.
“Haha gue gak suka tuh sama semua pelajaran yang ada di sekolah. Kecuali ……”
“kecuali apa ??” Junior memotong pembicaraan ku.
“jam kosong” aku menebarkan senyum terindahku di depan wajahnya, aku melihat dia tersenyum, lalu kemudian tertawa renyah. Lucu..
“Gue suka coklat. Kalo lo Mel ?.” kali ini Junior yang mulai bertanya
“Gue gak suka coklat, gigi gue udah bolong-bolong. Tapi kalo gratisan ya gue terima dengan gembira” aku mulai nyengir lagi.
Junior mengelus-ngelus kepala ku. Sama seperti apa yang sering aku lakukan kepada Leo, kucing peliharaan ku dirumah. Aku kaget dengan apa yang di lakukan Junior kepada ku. Sampai ketika Junior menghentikan langkahnya tepat di depan rumah ku.
“Ini rumah gue” Junior menunjuk rumah nya
“Hah ini rumah gue .. jadi rumah kita berhadapan?”
Junior tak menjawab, dia langsung membuka pagar rumahnya dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku ? aku masih terdiam disini dan menatap rumah Junior.
Jadi selama ini rumah ku sama Junior satu kompleks dan berhadapan? ya Tuhan...

*

Aku menuruni tangga lengkap dengan seragam dan tas merah kesayangan ku. Aku berjalan menuju meja makan dan langsung menyambar roti isi selai strawberry kesukaanku. Lalu bergegas berlari keluar rumah. Aku berdiri di pinggir jalan celingukan mencari cari sosok Junior. Kok selama ini gak pernah ketemu yah? Aku tetap berdiri selama setengah jam dan hasilnya nihil. Apa dia berangkat subuh kali ya? aku berjalan pergi meninggalkan rumah. aku tak mau terlambat seperti hari kemarin, dan harus ketinggalan pelajaran lagi lagi dan lagi. Fiuuhh

*
aku duduk di kursiku dan menatap soal-soal yang ada di depanku dengan bingung.
“Kok susah banget sih soalnya? Ini soal atau ajang pencarian jodoh sih, kok gue gk dapat dapat jawaban nya”aku terus menggerutu pelan, sembari menoleh ke belakang memandangi Felisha
ah dia pasti bisa, dia kan pintar.
“Lo gak nyatet materinya.” Junior berucap datar.
“ia si emang” aku hanya bisa pasrah dan menjawab singkat, lalu kembali menatap satu persatu angka-angka di depanku.
Rasanya aku mau muntah sekarang....

Kringg.......... bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang sekolah telah tiba. Semua anak berteriak lepas, rasanya seperti sedang merdeka 45.

“Mel” Junior memanggillku, aku membalikkan punggung ku dan membalas panggilan nya.
“ia Ju”
“Lo kalo mau nungguin gue jangan tunggu di pinggir jalan.”
“Hah apaaa ? Siapa juga yang nungguin lo, geer banget sih.” Aku kembali memajukan bibir ku, menggerutu pelan di dalam hati, malu banget sumpah !!
“Kalo lo mau nyalin Fisika tadi, dateng aja jam 4 sore ke rumah gue.” Junior berdiri lalu pergi keluar kelas dan memperlihatkan senyum tipis andalannya.
 Oh Tuhan, sumpah aku gak tahan liat senyumnya.
Tiba-tiba Felisha datang menghampiriku dan mengajak ku pergi ke Mall. Aku mengiyakan saja karena aku juga sudah merasa bosan berada di rumah asal sampai pukul 4 sore, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menerima tawaran Junior. Ya anggap aja ini sebagai first date kami. What ?? frist date ?? ah aku tak merasa bilang begitu tadi :p

aku pergi ke foodcourt di sebuah mall dikota ini. kami mulai menyetop taxi di sekitar sekolah. Biar keren turunnya, sebenarnya Felish menentang ajakan ku ini karena uang jajannya hanya pas-pasan. Tapi sepertinya malaikat baik sedang mengerogoti tubuh ku dan mengiyakan permintaan Felish untuk membayar ongkos taxi nya. haha gila !

“Oh iya, Junior gimana?” Felish mulai bertanya
“emm, Junior .. Dia baik-baik aja.” Aku menjawab sedikit gugup, entah lah
“Maksud gue lo uda tau apa aja tentang dia?”
“Dia suka Matematika, suka basket, suka musik,dan suka coklat.” Aku menjawab singkat
“Sama sama penggemar coklat dong kalo gitu” Felish tersenyum.
“Gue pernah ngobrol sama dia di acara festival music gitu deh Mel. Yah, cuman ngobrol basa basi aja siih tapi gue seneng.” Felish meraih tangan ku dan menaruhnya di bawah dagunya.
“hemm.. Gue juga” jawabku dalam hati.

Setelah asik mengitari mall akhirnya kami pulang naik angkutan umum yang berbeda. Felisha bertempat tinggal di area kompleks yang dipenuhi dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Dia adalah anak tunggal dari seorang pejabat dengan predikat orang terkaya ke-12 se-indonesia, tentu saja rumahnya mewah dan bertempat di kawasan elit. Sedangkan aku hanya bertempat tinggal di area kompleks yang sepi dan sederhana, yang kadang rumah-rumahnya tak berpenghuni semua. Sama seperti rumah ku, walaupun berpenghuni tapi setiap harinya terasa kosong lenyap tak bernyawa.

aku turun dari angkutan umum dan berjalan menuju area kompleks rumahku. aku berjalan sendirian dan sesekali menendang kaleng-kaleng bekas yang ada di bawah kakiku. Tit tit tit tit ... suara klakson sepeda motor mengagetkan santai sore ku saat ini.
“Cepet naik.” Junior menatapku dengan tatapan yang tajam. Aku menurut saja kepadanya, tak peduli dengan rasa malu yang ada dalam diriku karna masalah tadi pagi.
Kami berhenti di depan rumah Junior, lalu masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka begitu saja. Aku mengikuti kemana Junior melangkah. Dan tibalah di tempat tujuan, yakni kamar Junior.
Lo belum belajar yang mana aja?”
“Bab 5 gue gak ngerti, bab 6 bab 7 juga sama.” Aku duduk di kursi belajarnya
Lo ngapain aja di kelas?”
“nyimak sih, tapi tetep gue gak ngerti , hehe ... emm tidur juga, kadang kadang” aku meringis

Junior menyuruh ku duduk di atas lantai. Dia menerangkan satu persatu materi yang menurutku sangat sulit untuk ku pahami itu. Lalu dia menyuruhku untuk mengerjakan soal-soal yang ia tulis di bukuku. Ya Seperti layaknya murid yang baik dan pandai, aku mengangguk saja setiap apa yang di perintahkan Junior kepadaku. Setelah satu jam berkutat dengan rumus rumus fisika yang jelas membuat rambutku keriting ini, akhirnya aku bisa beristirahat juga. Aku merentangkan tangan ku seebar mungkin, dan mengenai wajah Junior
“au, aduh Meline, sakiit tau, lo cape ya, lo mau minum apa?”
“eeh sory Ju, gue kelepasan, hehe  hemm apa aja deh.”
“Air putih?” Junior bertanya
“Boleh.”
“sisa gerimis gimana??”
“ia boleh.. hah ?? lo mau ngasih gue air hujan??” aku terbelak
haha bercanda kali” Junior tertawa lebar

Junior melangkah keluar kamarnya menuju dapur mengambil makanan dan minuman, aku hanya asyik berpetualang dengan isi kamar Junior. Aku memandangi foto-foto kecil Junior bersama orang tuanya. Rasanya dia pernah bertemu dengan Junior kecil yang ada dalam foto ini. Dia menyentuh semua koleksi gitar milik Junior yang tergantung di dinding kamar tepat di samping bingkai foto yang berisikan foto sepasang anak lelaki dan perempuan sedang bermain di daerah taman. Aku seperti kenal foto ini, tapi ..entahlah aku lupa

Junior kembali ke kamar dengan membawa minuman dan snack. Kulihat dia membawa satu gelas air putih dan satu gelas orange juice serta keripik kentang.
“Ko gue minum air putih sih, lo nya minumnya jus?” aku merengut.
“Kenapa lo gak minta kalo mau?” Junior menoleh kepadaku
“Lo nawarinnya air putih.”
“ya kenapa lo gak nolak?”
“Yaudah deh,gue minum ini aja.” Aku meneguk air putihku dengan cepat. Hampir habis setengah gelas.
“lo hauas banget ya?” Junior memperhatikanku
“ya sapa tau aja kalo air putih gue abis, lo bakal ngasih gue orange juice juga” aku tersenyum
“heemm, modus lo gk kena tuh sama gue haha”

Aku menghabiskan minuman dan kerpik kentang satu toples penuh sehingga tak terasa waktu sudah menjelang malam. kulirik jam tangan merahku, lalu membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Aku menuruni tangga dan bergegas menuju pintu utama rumah untuk pulang. Lalu melambaikan tangan di depan pagar rumah Junior lalu masuk ke dalam rumahku yang terletak tepat di depan rumah Junior. Hanya berjarak kurang lebih 3 meter, selebar ruas jalan.
Ketiba tiba di rumah, aku mengintip lewat jendela yang ada di ruang tamu dan memandangi punggung Junior yang semakin menjauh dan menghilang dari pandanganku. Aku tersenyum gembira.  Aku tak menyangka aku bisa menghabiskan sore ku bersama dia. Aku langsung berlari menaiki tangga untuk mengganti pakaian karena sebentar lagi jam makan malam bersama papa telah tiba. Aku tak memikirkan untuk mandi terlebih dahulu, aku pikir itu tidak terlalu penting untuk di lakukan sekarang.
**
Aku mulai menyantap makan malamku, dan bertanya pada Papa ku. “Pah, papah kenal gak sih sama penghuni rumah di depan kita?”  Aku menatap mata Papa menunggu jawaban yang pasti. Jawaban yang ku inginkan.
“Pak Liem maksud kamu?” Papa masih mengaduk-ngaduk sisa kuah sotonya.
“em Papa tahu?” aku mengernyitkan dahiku, aku pun tidak mengetahui siapa pak Liem itu. “Bukankah dia sudah 16 tahun tinggal di sini? Papah rasa anaknya juga seumuran dengan kamu, bahkan mungkin teman kecilmu juga.”
Aku terdiam kaku mendengar pernyataan Papa, 16 tahun tinggal berhadapan tapi aku tak pernah mengetahui keberadaan Junior, ternyata aku sangat dekat dengan nya. aku menelan ludah .

**

Sore ini aku duduk di lantai lapangan basket tepat di samping Junior. Lalu, aku membuka ranselku dan mengeluarkan satu botol air mineral dari dalamnya.
“Lo pasti haus kan.” Aku tersenyum seraya memberikan botol minuman itu kepada Junior.
“Thanks.” Junior menerima minuman tersebut dan tersenyum tipis.
Hari sudah semakin sore, kami pun pulang meninggalkan lapangan basket dan berjalan menuju daerah rumah kami. Setiap hari Rabu dan Kamis kami akan selalu berangkat sekolah bersama dan tentunya pulang sekolah pun bersama-sama. Kami sama-sama mengikuti ekskul pada hari tersebut. Hari ini seperti biasa aku menunggu Junior sampai selesai latihan.

“Ju, hidung lo ko berdarah, jatuh dimana?” aku sentak kaget melihat ada darah yang menetes dari ujung hidung Junior.
“Tadi kelempar bola. Kayak nya sih” Junior menjawab singkat
Sini gue bersihin darahnya” aku mulai mencari cari sapu tangan yang selalu ku bawa setiap hari di ranselku
“Terserah.”
Mendengar kata kata itu, aku langsung mengelap darah di ujung hidung junior, dengan sapu tangan warna merah kesayanganku, ku lihat Junior tersenyum.
“Thanks Mel” Junior menatapku dalam dalam, seakan akan ingin masuk ke dalam dua bola mataku yang coklat pekat ini, dua bola mata yang sinarnya redup sehingga terlihat sayu. Aku tak mampu berkata kata lagi sekarng, tangan ku terasa lemas, tak mampu mengelap sisa darah di hidung Junior.
“sini biar gue aja Mel” Junior meraih sapu tangan ku, tangan kami bersentuhan, cukup lama. Kami tertawa.
Setelah selesai mengobati Junior, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Ku rasakan ada setitik air yang jatuh mengenai kepala ku. Hujan mengguyur kota Ini, mengguyur kami berdua.
“Gerimis..” aku menyeletuk
“Ini namanya hujan dodol” Junior membalasnya
“kok dodol sih” aku mengerutkan keningku.
ia emang lo dodol, udah terima aja” Junior tertawa tipis
“hemm.. gue bawa payung.” aku mengeluarkan payung dari ransel.
“Tas lo serba ada, lo titisan Doraemon ya” Junior tertawa, aku pun mengikutinya.
kami pun tertawa bersama di bawah payung merah ini. Hujan semakin deras dan kami masih setengah perjalanan menuju rumah. Ku lihat Junior melepaskan jaket yang di kenakannya dan mengenakannya di punggungku.
“Lo pasti kedinginan.” Junior megucapkannya dengan datar.
“emm thanks.” Aku menebarkan senyum termanisku kepada Junior.
Kami bercerita banyak hal selama perjalanan, sampai kami tak menyadari, kami telah sampai di depan rumah masing masing. Aku mengantarkan Junior sampai depan rumahnya.
“Ini jaket lo.” Aku mencoba melepaskan jaket yang ku kenakan sejak tadi
“Buat lo aja.” Junior berlari masuk ke dalam rumahnya dan aku masih berdiri di sana.

“Gerimis.. emm maksud ku hujan, hari ini kau memberikan rasa kebahagiaan, yang aku pun tak tau mengapa. Apakah ini yang namanya…… ah sudahlah lupakan saja”
**




Kringgggg......... hari ini aku bangun kesiangan, Mbak Inah lupa membangunkanku, sedang jam wekernya entah mengapa tak berbunyi. Aku bergegas ke kamar mandi, sedikit melirik jam, 06.30 “oh shiit” aku mendesis pelan.
 

be a continue --------> klik disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by