Sore ini aku berdiri di atas bukit dengan sepedaku. aku meremas-remas tangan yang disertai keringat dingin. “Dooooorrr..... “Hayo lama banget ya gue ?”. Felish tersenyum meminta maaf. Aku merebahkan tubuh di pohon besar dan ku lihat Felish pun mengikutinya. Lalu kami sama-sama mendongak ke atas langit dan berbicara kepada diri kami masing masing.
Akankah nanti
mereka pergi dari dunia ini ?
“Lo lagi inget orang tua lo ya Mel”.
“Gue takut Lish, gue cuma takut.” Aku mulai melepaskan satu butir air
mataku, ku akui aku sangat merindukan merea. orang tuaku.
“Gue sayang sama lo Mel, gue udah
anggep lo sebagai ade gue sendiri. Kita ini saudara, sahabat, keluarga, lo
inget itu. Lo gak pernah sendirian di bumi ini. masih ada gue Mel?” Felish menatap mata ku dalam.
“Makasih Lish.” Felish memeluk ku. Aku tak kuasa
menahan air mata ini. air mata kerinduan akan sosok orang tua ku, akan sosok
kesendirian ku, dan semua kekosongan yang selama ini aku rasakan. Aku kesespian.
kami pulang menenteng sepeda masing-masing. Aku merasa lega
karena sore ini aku telah menangis, menumpahkan segalanya.
“Mel lo cerita dong, lo udah janji loh
sama gue bakal bilang siapa cowok yang lo suka saat ini.”
“Lo dulu aja Lish.” aku menyeringai, meminta dan
memohon kepada Felish dengan tatapan sedikit manja.
“Lo dulu deh, kan gue yang duluan
nanya.” Felish
mengelak.
“Lo dulu Lish, entar abis lo baru
gue, janji deh.”
Aku terus berusaha meyakinkan Felish.
“Oke. Gue.. gue suka sama Junior,
gue bener-bener suka sama dia. Perasaan gue, dulu gue pernah cerita sama lo deh
Mel?”
aku terdiam, bukankah nama itu yang harus nya aku katakana
sekarang? Kenapa harus Felish duluan yang mengatakan nya? Lalu bagaimana?
“Mel, lo denger gue kan?”
“eh.. I .. Iya Lish.”
“Gue suka sama Junior. Dia sering
senyum ke gue, entah gue yang geer atau ngga tapi gue suka sama dia.”
“Oh gitu .”
“Kalo lo suka sama siapa?”
“Gue .. gue .. emm . gue gak tahu
Lish.”
“Kok lo gitu sih, lo kan udah janji
sama gue, lo ga boleh tertutup gitu dong.” Felisha mendesakku
“Gue suka sama ............’’
“Sama siapa?”
“Sama siapa ya ..... ’’
“Siapa namanya?”
“Gue gak tahu namanya.”
“Udah deh Mel, gue tau ko lo suka
sama Darel kan?”
Felish menatapku .
Aku mengangguk pelan dengan ragu dan menatap wajah sahabatku
yang sedang gembira ini.
Oh Tuhan ...
kenapa harus Darel , kenapa harus dia yang terlibat? Aku terus mengumpat dalam hati.
“Lo mau janji ma gue gk Mel ?”
“apa Lish ?” aku menoleh padanya.
“Lo harus bantu gue biar dapetin
dia.”
“Gue harus gimana?”
“Lo harus terus deketin dia, nyari
informasi tentang Junior.”
“Hm ia Lish... ‘’’
“Lo lakuin buat gue yah ?”
“ia baweell, anything for you.” aku tersenyum datar
“Gue juga bakal lakuin hal yang sama,
supaya Lo dan Darel bisa bersatu.”
“hahh ?? Apaaaaaaa?”
**
Aku masuk ke dalam rumah, meletakan sepeda dengan asal di
halaman depan. Entah kenapa aku sangat enggan untuk mengembalikannya ke dalam
garasi mobil. aku langsung menuju kamar tercintaku, meyalakan lampu dan duduk
di depan jendela. Gerimis sudah mulai menyapa sore ini, meskipun aku tak
merasakan rintik itu, tapi aku tetap menikmatinya di dalam kamarku. Di balik
jendela ini. Akhir-akhir ini sering turun gerimis atau hujan sepanjang malam.
Tapi entah kenapa aku lebih meyukai gerimis dan pelangi sehabis hujan. Aku
melihat kesekitar kompleks perumahan yang berderet memanjang saling menghadap
ke jalan. aku mengambil buku dan pensil kesayanganku. Jemari ku mulai aktif
berdansa ria di atas kertas putih yang sedikit lusuh ini.
Tuhan, aku lelah dengan semuanya.Mereka selau
bersandiwara di depanku. Apakah mereka tidak merasa bahagia? Lalu aku siapa
bagi mereka? Tuhan, mengapa setiap aku menatap matanya aku merasakan kekosongan
yang sama? Tapi hati ini sejuk setiap kali dia berada di sampingku. Semua orang
tahu bahwa dia adalah cowok yang luar biasa.Dia tampan, pintar, dan populerTapi
kadang tatapannya begitu kosong, bahasa tubuhnya begitu dingin dan kaku. Itulah
yang kurasakan saat aku duduk bersamanya. Kami memang tak sering banyak bicara,
hanya saja sering berbasa basi. Felisha bilang dia menyukainya, lalu kenapa aku
juga harus menyukainya? Apa aku bisa masuk ke dalam dunianya? Apakah dia juga
selalu merasakan kesenidirian yang selalu aku rasakan selama ini? Aku tidak
tahu .. Aku tak ingin tahu...
Aku merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Menarik nafas
dalam dan memeluk gulingku. Aku menoleh kesamping kanan, menatap foto orang tua
ku yang terpampang manis di meja biru itu. Mama Papa, jangan tinggalin Mel.
Felisha, Omma, Ka vicky, kalian orang-orang yang sayang sama aku, aku juga
sayang kalian.
*
Prang........ Tiba-tiba suara itu menghantam telingaku. Aku
terperanjat kaget dan bangun dari tidurku. Tak perlu waktu lama untuk
memikirkan dari mana arah suara itu. Aku langsung keluar dari kamar menuruni
tangga dan menuju ruang tamu. aku melebarkan mataku ketika masih berdiri di
anak tangga.
Mama Papa? Kenapa mereka? Mengapa Mama menangis? Mengapa
Mama mendorong Papa hingga terjatuh? Oh Tuhan .. Ada apa dengan semua ini?
aku kembali berlari menaiki tangga menuju kamar. aku langsung
melompat ke atas tempat tidur dan memeluk elmo, boneka merah kesayangan ku. Air
mata ku kembali tumpah saat ini.
Tuhan mengapa mereka harus bertengkar? Salah apa Papa
sehingga Mama harus mendorongnya hingga terjatuh? Tuhan, kenapa Mama menangis?
Tuhan .. kenapa Tuhan? Kenapa?
*
aku duduk seperti biasa di depan jendela menatap cahaya
matahari sore. Aku sangat bosan dengan kesendirian
ini , tadi aku melihat papa pulang dengan wajah lelah dan langsung tidur. Aku
keluar dari kamar, menjinjing jaket kulit dan berpamitan kepada Mbak Inah untuk
pergi sebentar. Mama pergi ke luar kota selama satu minggu dan kembali
memperkerjakannya Mbak Inah, meskipun Mbak Inah sudah nampak lebih tua dari 3
tahun lalu, tapi dia masih sangat cekatan mengerjakan pekerjaan rumah, mungkin
ini alasan mama tetap mempercayai Mbak Inah .
aku berjalan di sekitar area kompleks yang sepi. Aku mulai
duduk di sebuah ayunan yang di depannya terdapat sebuah danau kecil. Aku terus
bergelayun layaknya saat aku masih menjadi anak TK. Tiba-tiba aku merasakan
ayunan ini berhenti sendiri. Aku mulai menoleh ke samping dan Junior ada di
sana.
“Junior lo ngapain di sini?”
“Lo pikir?”
“Nggak ngapa-ngapain, gk tau deh gue.”
Junior tersenyum tipis. aku memandanginya dengan teliti, dia
selalu mendapat kesan kagum setiap kali memandang wajahnya. Tampan.
“Jalan-jalan yok?”
“Kemana? Menurut lo bakal hujan gak
Ju?”
“Paling gerimis doang, kenapa lo
takut kena air hujan ?.”
aku tersenyum bahagia. kami berjalan menyusuri jalanan
kompleks yang sunyi.
“Junior lo punya adik, punya kakak,
atau anak tunggal?”
“Gue anak tunggal, kenapa?” dia tersenyum santai sambil menoleh
kearah ku
“Nggak, kalo gue anak kedua sih.
Kalo orang tua lo gimana?”
“nyokap gue itu dokter mata, bokap
gue punya usaha garment.”
“Oh pantesan mata lo indah.” Aku tertawa.
“haha, pinter banget lo ngegombal
nya, ada bakat jadi koki deh kayak nya, haha” Junior ikut tertawa.
“ih kok kokii siii, pembalap tau
yang benar”
aku memajukan bibirku
“hahah ia ia, terus kalo orang tua
lo gimana Mel?”
“Kalo nyokap gue punya restoran, dia
emang seorang bisniswoman, bokap gue juga accounting manager di suatu
perusahaan.”
Aku menghentikan cerietaku, sembari mendongak ke atas
langit, menatap langit yang mulai mendung.
“terus apa yang lo suka Ju?” aku mulai bertanya lagi
“eemm, apa aja.” Junior menjawab singkat
“Pasti lo suka fisika, suka basket,
suka musik. Suka gitar, suka nyanyi, Ia kan ?” aku tersenyum kearah nya.
“haha , dasar sok tau lo. Hemm , ia
sih emang gue suka itu semua, kalo lo Mel?”
“Gue suka gerimis, gue suka pelangi,
gue suka sastra, gue suka elmo, gue suka musik, gue suka es-krim, gue suka
banyak.” Aku
menjawab panjang lebar. Dan gue suka lo
Ju, aku melanjutkan nya dalam hati.
“Lo gak suka matematika atau sejarah
gitu ? atau kimia fisika ??” aku melihat Junior menyeritkan alisnya.
“Haha gue gak suka tuh sama semua
pelajaran yang ada di sekolah. Kecuali ……”
“kecuali apa ??” Junior memotong pembicaraan ku.
“jam kosong” aku menebarkan senyum terindahku di
depan wajahnya, aku melihat dia tersenyum, lalu kemudian tertawa renyah. Lucu..
“Gue suka coklat. Kalo lo Mel ?.” kali ini Junior yang mulai bertanya
“Gue gak suka coklat, gigi gue udah
bolong-bolong. Tapi kalo gratisan ya gue terima dengan gembira” aku mulai nyengir lagi.
Junior mengelus-ngelus kepala ku. Sama seperti apa yang
sering aku lakukan kepada Leo, kucing peliharaan ku dirumah. Aku kaget dengan
apa yang di lakukan Junior kepada ku. Sampai ketika Junior menghentikan
langkahnya tepat di depan rumah ku.
“Ini rumah gue” Junior menunjuk rumah nya
“Hah ini rumah gue .. jadi rumah
kita berhadapan?”
Junior tak menjawab, dia langsung membuka pagar rumahnya dan
masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku ? aku masih terdiam disini dan menatap
rumah Junior.
Jadi selama ini rumah ku sama Junior satu kompleks dan
berhadapan? ya Tuhan...
*
Aku menuruni tangga lengkap dengan seragam dan tas merah
kesayangan ku. Aku berjalan menuju meja makan dan langsung menyambar roti isi
selai strawberry kesukaanku. Lalu bergegas berlari keluar rumah. Aku berdiri di
pinggir jalan celingukan mencari cari sosok Junior. Kok selama ini gak
pernah ketemu yah? Aku tetap berdiri selama setengah jam dan hasilnya
nihil. Apa dia berangkat subuh kali ya? aku berjalan pergi meninggalkan
rumah. aku tak mau terlambat seperti hari kemarin, dan harus ketinggalan
pelajaran lagi lagi dan lagi. Fiuuhh
*
aku duduk di kursiku dan menatap soal-soal yang ada di
depanku dengan bingung.
“Kok susah banget sih soalnya? Ini soal atau ajang pencarian
jodoh sih, kok gue gk dapat dapat jawaban nya”aku terus
menggerutu pelan, sembari menoleh
ke belakang memandangi Felisha
ah dia pasti bisa, dia kan pintar.
“Lo gak nyatet materinya.” Junior berucap datar.
“ia si emang” aku hanya bisa pasrah dan menjawab
singkat, lalu kembali menatap satu persatu angka-angka di depanku.
Rasanya aku mau muntah sekarang....
Kringg.......... bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang
sekolah telah tiba. Semua anak berteriak lepas, rasanya seperti sedang merdeka
45.
“Mel” Junior memanggillku, aku
membalikkan punggung ku dan membalas panggilan nya.
“ia Ju”
“Lo kalo mau nungguin gue jangan tunggu
di pinggir jalan.”
“Hah apaaa ? Siapa juga yang
nungguin lo, geer banget sih.” Aku kembali memajukan bibir ku, menggerutu pelan di dalam
hati, malu banget sumpah !!
“Kalo lo mau nyalin Fisika tadi,
dateng aja jam 4 sore ke rumah gue.” Junior berdiri lalu pergi keluar kelas dan memperlihatkan
senyum tipis andalannya.
Oh Tuhan, sumpah
aku gak tahan liat senyumnya.
Tiba-tiba Felisha datang menghampiriku dan mengajak ku pergi
ke Mall. Aku mengiyakan saja karena aku juga sudah merasa bosan berada di rumah
asal sampai pukul 4 sore, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menerima
tawaran Junior. Ya anggap aja ini sebagai first date kami. What ?? frist date
?? ah aku tak merasa bilang begitu tadi :p
aku pergi ke foodcourt di sebuah mall dikota ini. kami mulai
menyetop taxi di sekitar sekolah. Biar keren turunnya, sebenarnya Felish
menentang ajakan ku ini karena uang jajannya hanya pas-pasan. Tapi sepertinya
malaikat baik sedang mengerogoti tubuh ku dan mengiyakan permintaan Felish
untuk membayar ongkos taxi nya. haha gila !
“Oh iya, Junior gimana?” Felish mulai bertanya
“emm, Junior .. Dia baik-baik aja.” Aku menjawab sedikit gugup, entah
lah
“Maksud gue lo uda tau apa aja
tentang dia?”
“Dia suka Matematika, suka basket,
suka musik,dan suka coklat.” Aku menjawab singkat
“Sama sama penggemar coklat dong
kalo gitu” Felish
tersenyum.
“Gue pernah ngobrol sama dia di
acara festival music gitu deh Mel. Yah, cuman ngobrol basa basi aja siih tapi
gue seneng.”
Felish meraih tangan ku dan menaruhnya di bawah dagunya.
“hemm.. Gue juga” jawabku dalam hati.
Setelah asik mengitari mall akhirnya kami pulang naik angkutan
umum yang berbeda. Felisha bertempat tinggal di area kompleks yang dipenuhi
dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Dia adalah anak tunggal dari seorang
pejabat dengan predikat orang terkaya ke-12 se-indonesia, tentu saja rumahnya
mewah dan bertempat di kawasan elit. Sedangkan aku hanya bertempat tinggal di
area kompleks yang sepi dan sederhana, yang kadang rumah-rumahnya tak
berpenghuni semua. Sama seperti rumah ku, walaupun berpenghuni tapi setiap
harinya terasa kosong lenyap tak bernyawa.
aku turun dari angkutan umum dan berjalan menuju area
kompleks rumahku. aku berjalan sendirian dan sesekali menendang kaleng-kaleng
bekas yang ada di bawah kakiku. Tit tit tit tit ... suara klakson sepeda motor
mengagetkan santai sore ku saat ini.
“Cepet naik.” Junior menatapku dengan tatapan
yang tajam. Aku menurut saja kepadanya, tak peduli dengan rasa malu yang ada
dalam diriku karna masalah tadi pagi.
Kami berhenti di depan rumah Junior, lalu masuk ke dalam
rumah yang pintunya terbuka begitu saja. Aku mengikuti kemana Junior melangkah.
Dan tibalah di tempat tujuan, yakni kamar Junior.
“Lo belum belajar yang
mana aja?”
“Bab 5 gue gak ngerti, bab 6 bab 7
juga sama.”
Aku duduk di kursi belajarnya
“Lo ngapain aja di
kelas?”
“nyimak sih, tapi tetep gue gak
ngerti , hehe ... emm tidur juga, kadang kadang” aku meringis
Junior menyuruh ku duduk di atas lantai. Dia menerangkan
satu persatu materi yang menurutku sangat sulit untuk ku pahami itu. Lalu dia
menyuruhku untuk mengerjakan soal-soal yang ia tulis di bukuku. Ya Seperti
layaknya murid yang baik dan pandai, aku mengangguk saja setiap apa yang di
perintahkan Junior kepadaku. Setelah satu jam berkutat dengan rumus rumus
fisika yang jelas membuat rambutku keriting ini, akhirnya aku bisa beristirahat
juga. Aku merentangkan tangan ku seebar mungkin, dan mengenai wajah Junior
“au, aduh Meline, sakiit tau, lo
cape ya, lo mau minum apa?”
“eeh sory Ju, gue kelepasan,
hehe hemm apa aja deh.”
“Air putih?” Junior bertanya
“Boleh.”
“sisa gerimis gimana??”
“ia boleh.. hah ?? lo mau ngasih gue
air hujan??”
aku terbelak
“haha bercanda kali”
Junior tertawa lebar
Junior melangkah keluar kamarnya menuju dapur mengambil makanan
dan minuman, aku hanya asyik berpetualang dengan isi kamar Junior. Aku memandangi
foto-foto kecil Junior bersama orang tuanya. Rasanya dia pernah bertemu dengan
Junior kecil yang ada dalam foto ini. Dia menyentuh semua koleksi gitar milik
Junior yang tergantung di dinding kamar tepat di samping bingkai foto yang
berisikan foto sepasang anak lelaki dan perempuan sedang bermain di daerah
taman. Aku seperti kenal foto ini, tapi ..entahlah aku lupa
Junior kembali ke kamar dengan membawa minuman dan snack.
Kulihat dia membawa satu gelas air putih dan satu gelas orange juice serta
keripik kentang.
“Ko gue minum air putih sih, lo nya
minumnya jus?”
aku merengut.
“Kenapa lo gak minta kalo mau?” Junior menoleh kepadaku
“Lo nawarinnya air putih.”
“ya kenapa lo gak nolak?”
“Yaudah deh,gue minum ini aja.” Aku meneguk air putihku dengan
cepat. Hampir habis setengah gelas.
“lo hauas banget ya?” Junior memperhatikanku
“ya sapa tau aja kalo air putih gue
abis, lo bakal ngasih gue orange juice juga” aku tersenyum
“heemm, modus lo gk kena tuh sama
gue haha”
Aku menghabiskan minuman dan kerpik kentang satu toples
penuh sehingga tak terasa waktu sudah menjelang malam. kulirik jam tangan
merahku, lalu membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Aku menuruni
tangga dan bergegas menuju pintu utama rumah untuk pulang. Lalu melambaikan
tangan di depan pagar rumah Junior lalu masuk ke dalam rumahku yang terletak
tepat di depan rumah Junior. Hanya berjarak kurang lebih 3 meter, selebar ruas
jalan.
Ketiba tiba di rumah, aku mengintip lewat jendela yang ada
di ruang tamu dan memandangi punggung Junior yang semakin menjauh dan
menghilang dari pandanganku. Aku tersenyum gembira. Aku tak menyangka aku bisa menghabiskan sore
ku bersama dia. Aku langsung berlari menaiki tangga untuk mengganti pakaian
karena sebentar lagi jam makan malam bersama papa telah tiba. Aku tak
memikirkan untuk mandi terlebih dahulu, aku pikir itu tidak terlalu penting
untuk di lakukan sekarang.
**
Aku mulai menyantap makan malamku, dan bertanya pada Papa
ku. “Pah, papah kenal gak sih sama penghuni
rumah di depan kita?” Aku menatap
mata Papa menunggu jawaban yang pasti. Jawaban yang ku inginkan.
“Pak Liem maksud kamu?” Papa masih mengaduk-ngaduk
sisa kuah sotonya.
“em Papa tahu?” aku mengernyitkan dahiku, aku pun
tidak mengetahui siapa pak Liem itu. “Bukankah
dia sudah 16 tahun tinggal di sini? Papah rasa anaknya juga seumuran dengan
kamu, bahkan mungkin teman kecilmu juga.”
Aku terdiam kaku mendengar pernyataan Papa, 16 tahun tinggal
berhadapan tapi aku tak pernah mengetahui keberadaan Junior, ternyata aku
sangat dekat dengan nya. aku menelan ludah .
**
Sore ini aku duduk di lantai lapangan basket tepat di
samping Junior. Lalu, aku membuka ranselku dan mengeluarkan satu botol air
mineral dari dalamnya.
“Lo pasti haus kan.” Aku tersenyum seraya memberikan
botol minuman itu kepada Junior.
“Thanks.” Junior menerima minuman tersebut dan tersenyum
tipis.
Hari sudah semakin sore, kami pun pulang meninggalkan
lapangan basket dan berjalan menuju daerah rumah kami. Setiap hari Rabu dan
Kamis kami akan selalu berangkat sekolah bersama dan tentunya pulang sekolah
pun bersama-sama. Kami sama-sama mengikuti ekskul pada hari tersebut. Hari ini
seperti biasa aku menunggu Junior sampai selesai latihan.
“Ju, hidung lo ko berdarah, jatuh
dimana?” aku sentak
kaget melihat ada darah yang menetes dari ujung hidung Junior.
“Tadi kelempar bola. Kayak nya sih” Junior menjawab singkat
“Sini gue bersihin
darahnya” aku mulai mencari cari sapu tangan yang selalu ku bawa setiap
hari di ranselku
“Terserah.”
Mendengar kata kata itu, aku langsung mengelap darah di
ujung hidung junior, dengan sapu tangan warna merah kesayanganku, ku lihat
Junior tersenyum.
“Thanks Mel” Junior menatapku dalam dalam,
seakan akan ingin masuk ke dalam dua bola mataku yang coklat pekat ini, dua
bola mata yang sinarnya redup sehingga terlihat sayu. Aku tak mampu berkata
kata lagi sekarng, tangan ku terasa lemas, tak mampu mengelap sisa darah di
hidung Junior.
“sini biar gue aja Mel” Junior meraih sapu tangan ku,
tangan kami bersentuhan, cukup lama. Kami tertawa.
Setelah selesai mengobati Junior, akhirnya kami melanjutkan
perjalanan. Ku rasakan ada setitik air yang jatuh mengenai kepala ku. Hujan
mengguyur kota Ini, mengguyur kami berdua.
“Gerimis..” aku menyeletuk
“Ini namanya hujan dodol” Junior membalasnya
“kok dodol sih” aku mengerutkan keningku.
“ia emang lo dodol,
udah terima aja” Junior tertawa tipis
“hemm.. gue bawa payung.” aku mengeluarkan payung dari ransel.
“Tas lo serba ada, lo titisan
Doraemon ya”
Junior tertawa, aku pun mengikutinya.
kami pun tertawa bersama di bawah payung merah ini. Hujan
semakin deras dan kami masih setengah perjalanan menuju rumah. Ku lihat Junior
melepaskan jaket yang di kenakannya dan mengenakannya di punggungku.
“Lo pasti kedinginan.” Junior megucapkannya dengan datar.
“emm thanks.” Aku menebarkan senyum termanisku
kepada Junior.
Kami bercerita banyak hal selama perjalanan, sampai kami tak
menyadari, kami telah sampai di depan rumah masing masing. Aku mengantarkan
Junior sampai depan rumahnya.
“Ini jaket lo.” Aku mencoba melepaskan jaket yang
ku kenakan sejak tadi
“Buat lo aja.” Junior berlari masuk ke dalam
rumahnya dan aku masih berdiri di sana.
“Gerimis.. emm maksud ku hujan, hari ini kau memberikan rasa
kebahagiaan, yang aku pun tak tau mengapa. Apakah ini yang namanya…… ah
sudahlah lupakan saja”
**
Kringgggg......... hari ini aku bangun kesiangan, Mbak Inah
lupa membangunkanku, sedang jam wekernya entah mengapa tak berbunyi. Aku
bergegas ke kamar mandi, sedikit melirik jam, 06.30 “oh shiit” aku mendesis pelan.
be a continue --------> klik disini


Tidak ada komentar:
Posting Komentar