Kringgggg......... hari ini aku bangun kesiangan, Mbak Inah
lupa membangunkanku, sedang jam wekernya entah mengapa tak berbunyi. Aku
bergegas ke kamar mandi, sedikit melirik jam, 06.30 “oh shiit” aku mendesis pelan.
Sampai di sekolah aku berlari menuju koridor sekolah dan
sempat berhenti di mading lalu hendak pergi menuju toilet. Rasa sakit perut
yang tiba-tiba datang begitu saja membuat ku sedikit menderita. Tapi langkah ku
terhenti saat aku belum sampai di toilet, aku berpapasan degan Junior yang
sedang menenteng beberapa buku.
“Lo kenapa?” Junior seakan terheran-heran
melihat wajah ku yang mungkin sekarang terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Gue sakit perut.” aku memaksakan senyumannya dan
langsung melanjutkan perjalanannya menuju toilet.
Junior mengikuti langkah ku menuju toilet, tapi dia berhenti
ketika aku mulai masuk ke dalam salah satu kamar toilet perempuan. Semua
perempuan yang masuk ke dalam kamar mandi tak henti menatap wajah Junior yang
sedang berdiri di depan pintu toliet. Junior tak peduli dengan semua itu,ia
malah balas menatap tajam perempuan-perempuan yang cekikikan menertawakannya.
Dasar Gila …
Setelah keluar dari toilet, akhirnya aku dan Junior duduk
bersama di sebuah kursi taman. Banyak orang yang berlalu lalang di depan kami.
Ada yang menatapku seperti tidak suka, ada yang tersenyum salah tingkah, dan
ada pula yang terlihat biasa saja. aku memakluminya karena dia tahu Junior
adalah salah satu cowok famoust di sekolah. Namun terkadang wajahnya yang flat,
bahasa tubuhnya yang dingin, tatapan matanya yang serius membuat sekian banyak
perempuan menyerah begitu saja. Banyak siswi-siswi perempuan yang menyimpan surat
cinta mereka di loker Junior atau menyimpan bunga yang akhirnya di biarkan sampai
kering di kolong meja Junior. Banyak yang mengatakan bahwa Junior sangat cocok
dengan Felisha dikarenakan sama sama famoust, sama-sama cantik dan tampan. Dan
tentunya sama sama pintar.
Tapi sampai saat ini
aku tak pernah tahu siapa perempuan yang Junior suka.
Apa Junior selalu menolak perempuan yang menyukainya? Entahlah aku tak pernah
mengetahuinya. Aku merasa tak ada perempuan yang bisa membuat hatinya luluh.
Dan di sisi lain aku juga masih berharap aku bisa masuk dalam hatinya dan
memilikinya untuk selamanya. Yang pastinya itu semua Cuma sekedar harapan,
takkan pernah terwujudkan.
**
Sudah satu tahun berlalu, aku kini duduk di kelas 2 bangku
SMA. Aku masih bisa mengingat kembali ketika dia pertama kali menginjakan
kakinya di sekolah ini. Rasanya baru kemarin aku mengikuti kegiatan masa
orientasi siswa(MOS). Aku memejamkan mata dan sesekali endongak ke atas langit
menatap langit biru. Mengapa hari ini tidak ada gerimis? Mengapa hari ini tidak
ada pelangi?
“Gue udah nyimpen perasaan ini satu
tahun. Entah kenapa banyak cowok yang gue tolak, rasanya gue belum bisa .. gue
suka sama Junior.”Felisha
menatapku
“emm gue ngerti.”
“Selama ini gue hanya tau dia dari
cerita-cerita yang lo ceritain ke gue aja. Gue juga pengen milikin dia, lo bantuin
gue yah Mel?”
Aku terdiam. Apa yang di katakan Felish barusan benar benar
membuatku terdiam kaku. Aku berdiri meninggalkan Felisha yang masih terlentang
di atas bukit. Aku pulang menuju rumahku. Ketika tiba di depan rumah aku berpapasan
dengan Junior. Aku memalingkan wajahn dan bergegas membuka pagar lalu masuk ke
dalam rumah. Aku membuka pintu kamar dan langsung merebahkan tubuhku di atas tempat
tidur.
Kenapa hati ini
begitu sakit? Kenapa Felisha harus mengatakan itu ...Junior.. gue takut kehilangan lo..
Aku melepaskan butir-butir air mata yang kian lama terus
membasahi pipiku. Aku menangis terisak. Tak lama kemudian mata ku terpejam
ringan.
**
Terik matahari membakar kulit kami disiang ini. Sepanjang
perjalanan menuju rumah, aku hanya diam. aku sesekali melap keringat yang
bercucuran di wajahnya dengan tanganku sendiri. Junior hanya diam melihat semua
tingkahku, dari mulai menggigit bibir,meremas-remas tangan, menyapu keringat
padahal sudah tak ada keringat yang menempel di kulitku, sepertinya ia tau,
kalau sekarng aku berada dalam keadaan gugup atau nervous.
“Ju ada yang mau gue omongin.” Aku menatap lurus jalan yang ada
di depanku.
“Apa?” Junior mngucapkannya seakan tidak
ingin bertanya.
“emm Felisha suka sama lo.” Aku mencoba mengucapkan kalimat itu
walaupun hati ku semakin terasa sakit.
“Terus?” Junior menatap mata ku seakan akan
mencari tahu di balik dua bola mataku ini.
“Dia pengen jadi pacar lo?” aku mencoba terlihat senatural
mungkin. Aku tak ingin Junior curiga kepadaku.
“Lo pengen gue jadi pacar Felisha
??” Junior berucap datar.
“Gue harap lo mau.” aku menarik napas dalam-dalam dan
pergi meninggalkan Junior yang berdiri di depan rumahku. Aku masuk ke dalam
rumahnya dan berlari menaiki tangga membuka pintu kamar dan duduk di balik
pintu kamar ku. Aku memejamkan mata dan meremas-remas tangan. Rasanya sangat
sulit untuk bernapas sekarang, sehingga seluruh anggota tubuhku terasa sakit,
merasakan apa yang aku rasakan. Namun aku pun tak tahu kenapa aku harus
menangis, kenapa air mata ini harus ada.. kaena toh sebenarnya aku tak berhak
untuk menangis. Junior bukan siapasiapa ku, siapapun berhak untuk memiliki nya
bukan ?? apalagi Felisha, sahabat ku. Yang selalu mengganggap aku sebagai
adiknya sendiri.
**
Sudah dua minggu berlalu, semenjak peristiwa itu aku tak
mengobrol ataupun bertegur sapa dengan Junior. aku tak lagi satu tempat duduk
dengannya, karena tempat duduk kami selalu di rolling satu minggu sekali. Entah
kenapa aku sangat malas melihat Junior apalagi Felisha yang setiap bertemu
pasti bercerita tentang Junior. Aku selalu pura-pura tidak melihat atau
membuang muka ketika berpapasan dengan Junior dan Felisha. Aku benar-benar ingin
menjauhi Junior dan Felish. Rasanya begitu sakit harus melihat mereka berjalan
berdua atau hanya sekedar terlihat mengobrol. Aku sangat benci pemandangan
tersebut. Apalagi kalau aku harus melihat Junior yang membonceng Felish di saat
pulang sekolah. Ya, aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa bagi Junior, yang
tak berhak untuk bertindak seperti itu, tapi aku merasa hatiku begitu sakit
ketika Felisha benar-benar memiliki Junior. Mengapa aku tidak bisa mendapatkan
apa yang di dapatkan Felish? Felish nyaris
sempurna sebagai seorang perempuan, dia cantik, pintar,kaya, famoust dan baik
hati. Rasanya dunia tak adil bagiku, aku tak begitu cantik, aku lemot dalam
hitungan, keluarga yang sederhana dan hubungannya tak harmonis, tak banyak
orang yang mengenalku karena aku bukan siswi yang senang ikut berorganisasi
seperti Felisha yang menjabat sebagai ketua OSIS sekarang. Bahkan dulu Junior
pernah mengatakan aku ini “dodol” apakah aku sebodohitu dimatanya ?? entahlah …
Akhirnya aku pun harus mengalah
terhadap waktu dan keadaan. Menerima semua yang terjadi meskipun aku tak pernah
menginginkannya. Aku berhenti untuk mengharapkanmu, membiarkanmu berlalu
seperti hembusan angin kencang dikala hujan datang. Tanpa rasa yang pasti aku
melepaskanmu pergi. Seandainya aku boleh memilih untuk tidak ingin memilikimu,
dan Tuhan membuatmu menjadi hal biasa saja untuku. Rasanya semuanya menyakitkan
buat aku, membuat aku terjatuh, lunglai, lemas sampai akhirnya tak berdaya. Tak
cukup aku berteriak, tak cukup aku menangis... Junior apakah kau mengerti
perasaanku ....
*
Akhirnya aku tiba di tempat yang selama ini aku rindukan,
yakni di Villa milik Omma. Tempat teduh yang sering aku gunakan untuk menenangkan
pikiran ku sejenak. Hari ini adalah liburan akhir tahun yang di adakan oleh
sekolah. Aku menyeret dua kopernya menuju Villa. Tiba-tiba Felish memelukku
yang datangnya entah dari mana. Aku terkejut. Mengapa Felish tiba-tiba
memelukku?
“Meline… gue kangen sama lo, gue
pengen kita liburan bareng di sini, maafin gue kalo selama ini nyuekin lo.” Aku melepaskan pelukan Felish, lalu
tersenyum seraya berkata “Maafin gue
juga.”
Malam hari tiba saatnya untuk acara bakar ikan di halaman
belakang Villa. Semua anak-anak menyalakan api unggun dan bergembira ria
bernyanyi bersama-sama. Kecuali aku.. yang dari tadi hanya diam memeluk kedua
lututku sambil menyaksikan mereka semua dari kejauhan. Aku duduk di atas rumput
dan mendongak ke atas langit. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingku dan ikut
mendongak ke atas langit.
“Lo tau kenapa hari ini gak ada
bintang di langit.?”
Suara ini…..
“Ngapain lo di sini?”
“ya terserah gue. Kenapa lo harus
jauhin gue?”
Aku terdiam dan mengarahkan pandangannya ke semua anak-anak
yang sedang berkumpul di halaman belakang. Junior berdiri dan menatapku
lekat-lekat.
“Maafin gue, gue pengen kita tetep
temenan kaya dulu.”
Aku hanya menunduk tak berani membalas tatapan mata Junior. Aku beranjak dari
kesunyian ku tadi.
“lo mau kemana Mel”
“mau tidur Ju, sorry” aku pergi meninggalkan Junior dan
akan kembali ke kamar. aku ingin istirahat, aku tak mau memikirkan Junior
Aku membuka pintu kamarku dan mendapati Felisha sedang duduk
di jendela kamar. kami saling berpandangan lalu saling melempar senyum. Aku
mulai mendekati Felish dan membelai rambut panjang nan indah itu.
“Lo suka gak sih sama
Junior?” Felish menatap wajah ku.
Aku hanya tersenyum “Banyak
perempuan yang menyukainya.” Aku duduk di atas tempat tidur
“Gue cape Mel, selama ini gue gak
pernah tau apa yang sedang gue pertahanin. Lo tau gak berapa kali kita kontekan
dalam satu hari? Kita juga pernah nggak kontekan selama satu bulan. Gak ada
yang istimewa dalam hubungan kami, tapi gue gak tau, gue sangat berat untuk
ngelepasin Junior”
Aku terdiam setelah mendengarkan pengakuan Felish. Aku tak
ingin berpikir banyak untuk saat ini. aku memilih untuk tidur meski sulit
memejamkan mataku.
*
Pagi ini cerah, aku mulai berjalan jalan kecil mengitari
sekitar Villa, aku merasakan udara segar menyapaku di pagi hari ini. Tiba-tiba
kakiku terpeleset sehingga aku pun terjatuh ke tanah. aku meringis menahan rasa
sakit akibat luka di kakiku, ada darah yang terpancar di lutut kananku. Lalu
dari arah kejauhan tampak seorang laki-laki berlari menghampiriku. Laki-laki
itu membantuku berdiri dengan merangkul
pundakku. “Thanks.” aku
mengucapkannnya dengan ragu dan tak berani menatap wajah laki-laki itu.
Setelah tiba di Villa, aku berpapasan dengan Felish dan
Darel. Namun aku tetap melanjutkan langkah kaki mereka menuju kamarku. Aku
duduk di tempat tidur dan menatap laki-laki itu secara perlahan-lahan.
“Gue sayang sama lo.” Ucap laki-laki itu dengan
mantap. Gue juga, aku membalas nya dalam
hati. aku menatap laki-laki itu yang berjalan membelakangiku lalu terhenti
tepat di pintu kamar. Di sana berdiri seorang perempuan yang menatapku tanpa
henti. Aku menunduk tak berani mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar.
“Kita putus ya Lish.” Perempuan itu menarik napas
dalam-dalam “Oke kalo itu yang lo mau.”
Aku hanya terdiam memandangi mereka yang pergi meninggalkanku seorang diri di
kamar. Aku kembali menatap kakinya yang masih mengeluarkan tetesan darah segar.
Oh Tuhan apa yang telah terjadi?
*
Aku menatap Mama yang masih terdiam sedari tadi. Teh yang
ada di hadapan mereka sudah berubah menjadi dingin. Lalu Mama memulai
pembicaraannya dengan menatap mataku lekat-lekat.
“Mama minta maaf sebelumnya karena
Mama harus mengatakan yang sebenarnya. Mama lelah harus terus
menyembunyikannya, harus terus pura-pura seolah-olah tak terjadi apa. Mama
sudah tak mampu mempertahankan keluarga ini. Mama rasa ini keputusan terbaik
untuk Mama sama Papamu. Maafkan Mama.” Mama pun mulai menangis. aku memeluk Mama dengan erat, dan
kami pun menangis bersama.
Satu kenyataan yang harus aku terima adalah bahwa keluargaku
sudah tak utuh lagi dan kekosongan yang selama ini kurasakan memang berakhir
pada titik puncak dimana kekosongan itu akan terjadi selamanya dalam hidupku.
Aku akan tinggal di Jogja bersama Papa, sedangkan mama tetap disini, untuk
tetap mengurus pekerjaannya. Aku sedih harus meninggalkan kota kelahiranku ini,
kota yang menjadi bagian terpenting dalam hidup ku. aku duduk dan menatap
sebuah danau kecil yang airnya hampir surut, kini telah tiba musim kemarau
dimana aku tak akan dapat menemukan gerimis dan pelangi lagi.
Tuhan mengapa semuanya terjadi tanpa aku mau? Apakah aku tak
berhak memiliki mereka, yakni orang-orang yang aku sayangi?
Junior duduk di sampingku menatap mataku dalam-dalam. Junior
memeluk tubuhku erat dan membiarkan aku menangis di bahunya. Junior mengusap
rambutku dengan lembut, sembari memancarkan senyum terindah yang berhasil
menyihirku untuk tersenyum juga.
“Gue gak mau lo sedih, karena gue
juga bakal sedih. Selama ini gue selalu mencoba untuk berdamai dengan
kesedihan. Gue gak mau orang-orang yang sayang sama gue ikut sedih karena gue.
Mereka adalah orang yang berbaik hati nan tulus yang menyayangi gue selama 12
tahun. Gue terkadang sedih ketika gue selalu merepotkan mereka. Dari kecil gue
sering sakit-sakitan jadi gue berubah jadi anak rumahan yang nggak pinter
bergaul, yang di bilang anak aneh sama semua orang” Junior mencium kepala ku
“Lo pasti menyimpan banyak kesedihan?”
“Kesedihan itu udah jadi kebahagiaan
buat gue.” Junior
menitihkan satu titik air matanya, tapi secepat kilat dia menghapus air mata
itu.
Aku merasakan ada yang membasahi tubuh ku, mungkinkah air
mata Junior tumpah ruah ?? ah tidak ! gerimis ini datang lagi, aku tersenyum,
Junior memeluk ku di bawah rintikan hujan ini, gerimis terindah yang pernah aku
rasakan .
Junior, kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak
dipenuhi ragu. Terlalu banyak ruang
yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan kita cuma memperbanyak ruang
tertutup. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku.
Meski, diam- diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu- malu. Dengan
perasaan takut akan kehilangan sosok bayangan terindah sepertimu.
***
Satu tahun berlalu, aku berjalan di sebuah kompleks
perumahan yang sepi. aku tak pernah merasa asing dengan pemandangan di sekitar
kompleks. Semuanya masih terasa sama, bahkan tak ada sedikit pun yang berubah. Aku
menghampiri seorang wanita yang hendak menutup pagar.
“Maaf bu, apakah ini rumahnya Junior
Liem?”
“ia benar, Silakan masuk dulu ke
dalam.” Ibu itu
membukakan pagarnya dan menyuruhku masuk ke dalam rumahnya. Lalu aku duduk di
sebuah sofa kecil sambil menatap ke sudut-sudut rumah yang terlihat sepi.
“kamu pasti Meline kan ??”
“eemm , ia bu benar, saya Meline” aku menjawab dengan senyuman
“Meline, Junior sudah pergi tepat satu
tahun yang lalu”
aku tercekat, nafasku tiba-tiba berubah menjadi sesak.
“Pergi ?? kemana?” aku bertanya polos
“Juno sudah mendahului
kita sayang” Ibu Junior tersenyum.
“apa ?? Juno ?? jadi Junior itu …..
adalah Juno, sahabat kecil ku” aku mendesis pelan.
“Ia nak, Junior adalah
Juno, Juno adalah nama panggilan dia sejak kecil, sekarang dia sudah mendahului
kita” Ibu Junior mulai menangis. Apakah aku tak salah dengar? Apakah ibunya
Junior sedang bergurau? Apakah aku sedang bermimpi sekarang?
“Junior pernah menitipkan benda ini
untuk diberikan kepada seorang gadis yang bernama Meline. Dia mengatakan bahwa
suatu saat nanti gadis itu akan datang mencarinya. Ibu rasa benda ini ditujukan
untuk kamu karena selama ini ibu menunggu gadis yang akan datang ke rumah ini.”
Setelah menerima benda itu aku langsung berpamitan kepada
sang Ibu untuk pulang. Aku berjalan menuju rumah yang sudah setahun terakhir
ini aku tinggalkan , aku membuka pagar dan berdiri disana. kembali mengingat
satu tahun ke belakang ketika Junior berdiri di sana untuk berangkat bersama ke
sekolah. Aku tak percaya kini semuanya tinggal kenangan, kenangan yang paling
berarti bersama Junior
Aku membuka pintu kamarku dan duduk menghadap ke jendela.
aku perlahan membuka kotak yang di berikan ibu Junior tadi. Sebuah buku
tergelatak di sana. aku meraih buku itu dan perlahan mencoba untuk membukanya.
*Gadis itu bernama Meline, aku
menatapnya dengan tajam ketika dia berdiri di depan mading. Dia adalah teman
sebangku ku untuk tahun ini, tahun pertama aku masuk SMA. Dia lumayan baik,
setidaknya dia tak seperti kebanyakan orang sebelumnya yang malas berhadapan
dengan aku yang sering di panggil anak aneh. Matanya yang bulat yang entah
mengapa memberi sedikit kehangatan saat setiap kali aku menatap wajahnya. Hari
ini aku mengembalikan bukunya yang tertinggal di kantin. Dia selalu menatapku
malu-malu dan penuh ragu. Dia begitu canggung denganku, namun aku tak pernah
menemukan rasa tidak suka di wajahnya kepadaku, setidaknya aku mempunyai
seorang teman saat ini.
*Dia adalah gadis kecil yang pernah aku
ejek namanya dahulu. Dia adalah teman terakhirku saat aku masih berumur 5 tahun.
Sejak aku mengetahui bahwa aku mengidap sebuah penyakit yang sangat parah, aku
tak pernah menatap wajah gadis kecil itu lagi. Tapi hari ini dia duduk di
sampingku di lapangan basket. Kami memang menjadi dekat entah kenapa. Kami
sering pulang bersama, belajar bersama, berangkat sekolah bersama, ataupun
bermain di depan danau sambil berayunan. Aku merasa sebagian jiwaku begitu
hidup. Aku tak pernah menghirup udara luar, karena aku tak mau penyakit ini
kambuh dan berubah menjadi lebih parah lagi. Namun akhir-akhir ini hidungku
selalu mengeluarkan darah. Dia pernah menyeka darah yang mengalir dari hidungku
dengan sapu tangan yang aku tau itu pasti benda kesayangan nya, ia aku tau,
dari kecil dia selalu menyukai warna merah. aku bahagia karena dia begitu baik padaku.
*Aku menyukainya
dari pertama aku bertemu dengannya, meski aku tak pernah mengatakannya.Dia
menyuruhku untuk menjadi pacar untuk Felisha, sahabatnya. Hari ini Felish
nembak aku, dan aku tak menjawabnya. Sejak itu dunia kembali berubah seperti
dulu, Meline menjauhiku. Penyakit ku kembali menyerang tubuhku, rasanya tubuhku
terlalu lemah saat ini. Mungkiin Meline membenciku, karena Felisha
menjadi pacarku. Jujur, aku tak pernah ingin dia pergi dari hiudpku. Tak pernah
ingin untuk itu
*Dia akan pergi meninggalkan kota ini,
meninggalkan kesedihannya selama ini. Aku merangkul pundaknya untuk terakhir
kali. Setidaknya dia telah menjadikan hidupku lebih berarti. Meline .... aku
menyayangimu, selamanya. Terima kasih kau telah memberikan ku cahaya di sisa
akhir hidupku ....
FOR YOU, FOR LOVE ..MY STAR, Meline
Auliedra …
**
“Lo tau kenapa hari ini gak ada
bintang di langit?” Karena telah
ada bintang yang terindah yang kini ada di sampingku.”
“FOR YOU FOR LOVE MY SENSE, Junior Liem” aku meletakan
seikat bunga mawar putih di atas makam Junior.
Thanks Juno, kamu udah jadi teman yang begitu berarti sampai
saat ini.Aku tak akan pernah melupakanmu sedikit pun. Selamat tinggal Juno, aku
mencintaimu. Aku hanya berani mengatakannya sekarang, setelah kau pergi
selamanya. Biarkan aku hidup bersama cintamu di sini. Aku menyayangimu, bahkan
semenjak kita kecil, aku baru sadar bahwa bocah ingusan yang ada di bingkai
foto di diding kamar mu itu adalah aku, ketika aku menangis karena kau
mengejekku. Maafkan kebodohan ku selama ini, aku mencintai mu..
Ku rasakan ada setitik air yang membasahi
kepala ku di senja ini,
“Gerimis ..”
“Ini hujan dodol !!” aku mendengar suara yang
menyahutiku
“hah ? dodol ? ini pasti hanya ilusi” aku
tersenyum.
Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh.
Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu,
tetapi tidak bersama dalam perjalanan.Seperti itulah cinta kita. Seperti
menebak langit abu- abu. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan…
**
END ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar