Rabu, 05 Juni 2013

Gerimis Dalam Senja ( LAST PART )

<< previous

Kringgggg......... hari ini aku bangun kesiangan, Mbak Inah lupa membangunkanku, sedang jam wekernya entah mengapa tak berbunyi. Aku bergegas ke kamar mandi, sedikit melirik jam, 06.30 “oh shiit” aku mendesis pelan.

Sampai di sekolah aku berlari menuju koridor sekolah dan sempat berhenti di mading lalu hendak pergi menuju toilet. Rasa sakit perut yang tiba-tiba datang begitu saja membuat ku sedikit menderita. Tapi langkah ku terhenti saat aku belum sampai di toilet, aku berpapasan degan Junior yang sedang menenteng beberapa buku.
“Lo kenapa?” Junior seakan terheran-heran melihat wajah ku yang mungkin sekarang terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Gue sakit perut.” aku memaksakan senyumannya dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju toilet.
Junior mengikuti langkah ku menuju toilet, tapi dia berhenti ketika aku mulai masuk ke dalam salah satu kamar toilet perempuan. Semua perempuan yang masuk ke dalam kamar mandi tak henti menatap wajah Junior yang sedang berdiri di depan pintu toliet. Junior tak peduli dengan semua itu,ia malah balas menatap tajam perempuan-perempuan yang cekikikan menertawakannya. Dasar Gila …

Setelah keluar dari toilet, akhirnya aku dan Junior duduk bersama di sebuah kursi taman. Banyak orang yang berlalu lalang di depan kami. Ada yang menatapku seperti tidak suka, ada yang tersenyum salah tingkah, dan ada pula yang terlihat biasa saja. aku memakluminya karena dia tahu Junior adalah salah satu cowok famoust di sekolah. Namun terkadang wajahnya yang flat, bahasa tubuhnya yang dingin, tatapan matanya yang serius membuat sekian banyak perempuan menyerah begitu saja. Banyak siswi-siswi perempuan yang menyimpan surat cinta mereka di loker Junior atau menyimpan bunga yang akhirnya di biarkan sampai kering di kolong meja Junior. Banyak yang mengatakan bahwa Junior sangat cocok dengan Felisha dikarenakan sama sama famoust, sama-sama cantik dan tampan. Dan tentunya sama sama pintar.
 Tapi sampai saat ini aku tak pernah tahu siapa perempuan yang Junior suka.
Apa Junior selalu menolak perempuan yang menyukainya? Entahlah aku tak pernah mengetahuinya. Aku merasa tak ada perempuan yang bisa membuat hatinya luluh. Dan di sisi lain aku juga masih berharap aku bisa masuk dalam hatinya dan memilikinya untuk selamanya. Yang pastinya itu semua Cuma sekedar harapan, takkan pernah terwujudkan.

**

Sudah satu tahun berlalu, aku kini duduk di kelas 2 bangku SMA. Aku masih bisa mengingat kembali ketika dia pertama kali menginjakan kakinya di sekolah ini. Rasanya baru kemarin aku mengikuti kegiatan masa orientasi siswa(MOS). Aku memejamkan mata dan sesekali endongak ke atas langit menatap langit biru. Mengapa hari ini tidak ada gerimis? Mengapa hari ini tidak ada pelangi?

“Gue udah nyimpen perasaan ini satu tahun. Entah kenapa banyak cowok yang gue tolak, rasanya gue belum bisa .. gue suka sama Junior.”Felisha menatapku
“emm gue ngerti.”
“Selama ini gue hanya tau dia dari cerita-cerita yang lo ceritain ke gue aja. Gue juga pengen milikin dia, lo bantuin gue yah Mel?”
Aku terdiam. Apa yang di katakan Felish barusan benar benar membuatku terdiam kaku. Aku berdiri meninggalkan Felisha yang masih terlentang di atas bukit. Aku pulang menuju rumahku. Ketika tiba di depan rumah aku berpapasan dengan Junior. Aku memalingkan wajahn dan bergegas membuka pagar lalu masuk ke dalam rumah. Aku membuka pintu kamar dan langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
 Kenapa hati ini begitu sakit? Kenapa Felisha harus mengatakan itu ...Junior..  gue takut kehilangan lo..
Aku melepaskan butir-butir air mata yang kian lama terus membasahi pipiku. Aku menangis terisak. Tak lama kemudian mata ku terpejam ringan.

**

Terik matahari membakar kulit kami disiang ini. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku hanya diam. aku sesekali melap keringat yang bercucuran di wajahnya dengan tanganku sendiri. Junior hanya diam melihat semua tingkahku, dari mulai menggigit bibir,meremas-remas tangan, menyapu keringat padahal sudah tak ada keringat yang menempel di kulitku, sepertinya ia tau, kalau sekarng aku berada dalam keadaan gugup atau nervous.

“Ju ada yang mau gue omongin.” Aku menatap lurus jalan yang ada di depanku.
“Apa?” Junior mngucapkannya seakan tidak ingin bertanya.
“emm Felisha suka sama lo.” Aku mencoba mengucapkan kalimat itu walaupun hati ku semakin terasa sakit.
“Terus?” Junior menatap mata ku seakan akan mencari tahu di balik dua bola mataku ini.
“Dia pengen jadi pacar lo?” aku mencoba terlihat senatural mungkin. Aku tak ingin Junior curiga kepadaku.
“Lo pengen gue jadi pacar Felisha ??” Junior berucap datar.
“Gue harap lo mau.” aku menarik napas dalam-dalam dan pergi meninggalkan Junior yang berdiri di depan rumahku. Aku masuk ke dalam rumahnya dan berlari menaiki tangga membuka pintu kamar dan duduk di balik pintu kamar ku. Aku memejamkan mata dan meremas-remas tangan. Rasanya sangat sulit untuk bernapas sekarang, sehingga seluruh anggota tubuhku terasa sakit, merasakan apa yang aku rasakan. Namun aku pun tak tahu kenapa aku harus menangis, kenapa air mata ini harus ada.. kaena toh sebenarnya aku tak berhak untuk menangis. Junior bukan siapasiapa ku, siapapun berhak untuk memiliki nya bukan ?? apalagi Felisha, sahabat ku. Yang selalu mengganggap aku sebagai adiknya sendiri.

**

Sudah dua minggu berlalu, semenjak peristiwa itu aku tak mengobrol ataupun bertegur sapa dengan Junior. aku tak lagi satu tempat duduk dengannya, karena tempat duduk kami selalu di rolling satu minggu sekali. Entah kenapa aku sangat malas melihat Junior apalagi Felisha yang setiap bertemu pasti bercerita tentang Junior. Aku selalu pura-pura tidak melihat atau membuang muka ketika berpapasan dengan Junior dan Felisha. Aku benar-benar ingin menjauhi Junior dan Felish. Rasanya begitu sakit harus melihat mereka berjalan berdua atau hanya sekedar terlihat mengobrol. Aku sangat benci pemandangan tersebut. Apalagi kalau aku harus melihat Junior yang membonceng Felish di saat pulang sekolah. Ya, aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa bagi Junior, yang tak berhak untuk bertindak seperti itu, tapi aku merasa hatiku begitu sakit ketika Felisha benar-benar memiliki Junior. Mengapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang di dapatkan  Felish? Felish nyaris sempurna sebagai seorang perempuan, dia cantik, pintar,kaya, famoust dan baik hati. Rasanya dunia tak adil bagiku, aku tak begitu cantik, aku lemot dalam hitungan, keluarga yang sederhana dan hubungannya tak harmonis, tak banyak orang yang mengenalku karena aku bukan siswi yang senang ikut berorganisasi seperti Felisha yang menjabat sebagai ketua OSIS sekarang. Bahkan dulu Junior pernah mengatakan aku ini “dodol” apakah aku sebodohitu dimatanya ?? entahlah …

Akhirnya aku pun harus mengalah terhadap waktu dan keadaan. Menerima semua yang terjadi meskipun aku tak pernah menginginkannya. Aku berhenti untuk mengharapkanmu, membiarkanmu berlalu seperti hembusan angin kencang dikala hujan datang. Tanpa rasa yang pasti aku melepaskanmu pergi. Seandainya aku boleh memilih untuk tidak ingin memilikimu, dan Tuhan membuatmu menjadi hal biasa saja untuku. Rasanya semuanya menyakitkan buat aku, membuat aku terjatuh, lunglai, lemas sampai akhirnya tak berdaya. Tak cukup aku berteriak, tak cukup aku menangis... Junior apakah kau mengerti perasaanku ....

*

Akhirnya aku tiba di tempat yang selama ini aku rindukan, yakni di Villa milik Omma. Tempat teduh yang sering aku gunakan untuk menenangkan pikiran ku sejenak. Hari ini adalah liburan akhir tahun yang di adakan oleh sekolah. Aku menyeret dua kopernya menuju Villa. Tiba-tiba Felish memelukku yang datangnya entah dari mana. Aku terkejut. Mengapa Felish tiba-tiba memelukku?
“Meline… gue kangen sama lo, gue pengen kita liburan bareng di sini, maafin gue kalo selama ini nyuekin lo.” Aku melepaskan pelukan Felish, lalu tersenyum seraya berkata “Maafin gue juga.”

Malam hari tiba saatnya untuk acara bakar ikan di halaman belakang Villa. Semua anak-anak menyalakan api unggun dan bergembira ria bernyanyi bersama-sama. Kecuali aku..  yang dari tadi hanya diam memeluk kedua lututku sambil menyaksikan mereka semua dari kejauhan. Aku duduk di atas rumput dan mendongak ke atas langit. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingku dan ikut mendongak ke atas langit.
“Lo tau kenapa hari ini gak ada bintang di langit.?”
Suara ini…..
“Ngapain lo di sini?”
“ya terserah gue. Kenapa lo harus jauhin gue?”
Aku terdiam dan mengarahkan pandangannya ke semua anak-anak yang sedang berkumpul di halaman belakang. Junior berdiri dan menatapku lekat-lekat.
“Maafin gue, gue pengen kita tetep temenan kaya dulu.” Aku hanya menunduk tak berani membalas tatapan mata Junior. Aku beranjak dari kesunyian ku tadi.
“lo mau kemana Mel”
“mau tidur Ju, sorry” aku pergi meninggalkan Junior dan akan kembali ke kamar. aku ingin istirahat, aku tak mau memikirkan Junior
Aku membuka pintu kamarku dan mendapati Felisha sedang duduk di jendela kamar. kami saling berpandangan lalu saling melempar senyum. Aku mulai mendekati Felish dan membelai rambut panjang nan indah itu.
Lo suka gak sih sama Junior?” Felish menatap wajah ku.
Aku hanya tersenyum “Banyak perempuan yang menyukainya.” Aku duduk di atas tempat tidur
“Gue cape Mel, selama ini gue gak pernah tau apa yang sedang gue pertahanin. Lo tau gak berapa kali kita kontekan dalam satu hari? Kita juga pernah nggak kontekan selama satu bulan. Gak ada yang istimewa dalam hubungan kami, tapi gue gak tau, gue sangat berat untuk ngelepasin Junior”
Aku terdiam setelah mendengarkan pengakuan Felish. Aku tak ingin berpikir banyak untuk saat ini. aku memilih untuk tidur meski sulit memejamkan mataku.

*
Pagi ini cerah, aku mulai berjalan jalan kecil mengitari sekitar Villa, aku merasakan udara segar menyapaku di pagi hari ini. Tiba-tiba kakiku terpeleset sehingga aku pun terjatuh ke tanah. aku meringis menahan rasa sakit akibat luka di kakiku, ada darah yang terpancar di lutut kananku. Lalu dari arah kejauhan tampak seorang laki-laki berlari menghampiriku. Laki-laki itu membantuku  berdiri dengan merangkul pundakku. “Thanks.” aku mengucapkannnya dengan ragu dan tak berani menatap wajah laki-laki itu.
Setelah tiba di Villa, aku berpapasan dengan Felish dan Darel. Namun aku tetap melanjutkan langkah kaki mereka menuju kamarku. Aku duduk di tempat tidur dan menatap laki-laki itu secara perlahan-lahan.
“Gue sayang sama lo.” Ucap laki-laki itu dengan mantap. Gue juga, aku membalas nya dalam hati. aku menatap laki-laki itu yang berjalan membelakangiku lalu terhenti tepat di pintu kamar. Di sana berdiri seorang perempuan yang menatapku tanpa henti. Aku menunduk tak berani mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar.
“Kita putus ya Lish.” Perempuan itu menarik napas dalam-dalam “Oke kalo itu yang lo mau.” Aku hanya terdiam memandangi mereka yang pergi meninggalkanku seorang diri di kamar. Aku kembali menatap kakinya yang masih mengeluarkan tetesan darah segar. Oh Tuhan apa yang telah terjadi?

*

Aku menatap Mama yang masih terdiam sedari tadi. Teh yang ada di hadapan mereka sudah berubah menjadi dingin. Lalu Mama memulai pembicaraannya dengan menatap mataku lekat-lekat.
“Mama minta maaf sebelumnya karena Mama harus mengatakan yang sebenarnya. Mama lelah harus terus menyembunyikannya, harus terus pura-pura seolah-olah tak terjadi apa. Mama sudah tak mampu mempertahankan keluarga ini. Mama rasa ini keputusan terbaik untuk Mama sama Papamu. Maafkan Mama.” Mama pun mulai menangis. aku memeluk Mama dengan erat, dan kami pun menangis bersama.
Satu kenyataan yang harus aku terima adalah bahwa keluargaku sudah tak utuh lagi dan kekosongan yang selama ini kurasakan memang berakhir pada titik puncak dimana kekosongan itu akan terjadi selamanya dalam hidupku. Aku akan tinggal di Jogja bersama Papa, sedangkan mama tetap disini, untuk tetap mengurus pekerjaannya. Aku sedih harus meninggalkan kota kelahiranku ini, kota yang menjadi bagian terpenting dalam hidup ku. aku duduk dan menatap sebuah danau kecil yang airnya hampir surut, kini telah tiba musim kemarau dimana aku tak akan dapat menemukan gerimis dan pelangi lagi.

Tuhan mengapa semuanya terjadi tanpa aku mau? Apakah aku tak berhak memiliki mereka, yakni orang-orang yang aku sayangi?

Junior duduk di sampingku menatap mataku dalam-dalam. Junior memeluk tubuhku erat dan membiarkan aku menangis di bahunya. Junior mengusap rambutku dengan lembut, sembari memancarkan senyum terindah yang berhasil menyihirku untuk tersenyum juga.
“Gue gak mau lo sedih, karena gue juga bakal sedih. Selama ini gue selalu mencoba untuk berdamai dengan kesedihan. Gue gak mau orang-orang yang sayang sama gue ikut sedih karena gue. Mereka adalah orang yang berbaik hati nan tulus yang menyayangi gue selama 12 tahun. Gue terkadang sedih ketika gue selalu merepotkan mereka. Dari kecil gue sering sakit-sakitan jadi gue berubah jadi anak rumahan yang nggak pinter bergaul, yang di bilang anak aneh sama semua orang” Junior mencium kepala ku
“Lo pasti menyimpan banyak kesedihan?”
“Kesedihan itu udah jadi kebahagiaan buat gue.” Junior menitihkan satu titik air matanya, tapi secepat kilat dia menghapus air mata itu.
Aku merasakan ada yang membasahi tubuh ku, mungkinkah air mata Junior tumpah ruah ?? ah tidak ! gerimis ini datang lagi, aku tersenyum, Junior memeluk ku di bawah rintikan hujan ini, gerimis terindah yang pernah aku rasakan .

Junior, kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu. Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan kita cuma memperbanyak ruang tertutup. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam- diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu- malu. Dengan perasaan takut akan kehilangan sosok bayangan terindah sepertimu.

***

Satu tahun berlalu, aku berjalan di sebuah kompleks perumahan yang sepi. aku tak pernah merasa asing dengan pemandangan di sekitar kompleks. Semuanya masih terasa sama, bahkan tak ada sedikit pun yang berubah. Aku menghampiri seorang wanita yang hendak menutup pagar.
“Maaf bu, apakah ini rumahnya Junior Liem?”
“ia benar, Silakan masuk dulu ke dalam.” Ibu itu membukakan pagarnya dan menyuruhku masuk ke dalam rumahnya. Lalu aku duduk di sebuah sofa kecil sambil menatap ke sudut-sudut rumah yang terlihat sepi.
“kamu pasti Meline kan ??”
“eemm , ia bu benar, saya Meline” aku menjawab dengan senyuman
“Meline, Junior sudah pergi tepat satu tahun yang lalu” aku tercekat, nafasku tiba-tiba berubah menjadi sesak.
“Pergi ?? kemana?” aku bertanya polos
Juno sudah mendahului kita sayang” Ibu Junior tersenyum.
“apa ?? Juno ?? jadi Junior itu ….. adalah Juno, sahabat kecil ku”  aku mendesis pelan.
Ia nak, Junior adalah Juno, Juno adalah nama panggilan dia sejak kecil, sekarang dia sudah mendahului kita” Ibu Junior mulai menangis. Apakah aku tak salah dengar? Apakah ibunya Junior sedang bergurau? Apakah aku sedang bermimpi sekarang?
“Junior pernah menitipkan benda ini untuk diberikan kepada seorang gadis yang bernama Meline. Dia mengatakan bahwa suatu saat nanti gadis itu akan datang mencarinya. Ibu rasa benda ini ditujukan untuk kamu karena selama ini ibu menunggu gadis yang akan datang ke rumah ini.”
Setelah menerima benda itu aku langsung berpamitan kepada sang Ibu untuk pulang. Aku berjalan menuju rumah yang sudah setahun terakhir ini aku tinggalkan , aku membuka pagar dan berdiri disana. kembali mengingat satu tahun ke belakang ketika Junior berdiri di sana untuk berangkat bersama ke sekolah. Aku tak percaya kini semuanya tinggal kenangan, kenangan yang paling berarti bersama Junior
Aku membuka pintu kamarku dan duduk menghadap ke jendela. aku perlahan membuka kotak yang di berikan ibu Junior tadi. Sebuah buku tergelatak di sana. aku meraih buku itu dan perlahan mencoba untuk membukanya.

*Gadis itu bernama Meline, aku menatapnya dengan tajam ketika dia berdiri di depan mading. Dia adalah teman sebangku ku untuk tahun ini, tahun pertama aku masuk SMA. Dia lumayan baik, setidaknya dia tak seperti kebanyakan orang sebelumnya yang malas berhadapan dengan aku yang sering di panggil anak aneh. Matanya yang bulat yang entah mengapa memberi sedikit kehangatan saat setiap kali aku menatap wajahnya. Hari ini aku mengembalikan bukunya yang tertinggal di kantin. Dia selalu menatapku malu-malu dan penuh ragu. Dia begitu canggung denganku, namun aku tak pernah menemukan rasa tidak suka di wajahnya kepadaku, setidaknya aku mempunyai seorang teman saat ini.
*Dia adalah gadis kecil yang pernah aku ejek namanya dahulu. Dia adalah teman terakhirku saat aku masih berumur 5 tahun. Sejak aku mengetahui bahwa aku mengidap sebuah penyakit yang sangat parah, aku tak pernah menatap wajah gadis kecil itu lagi. Tapi hari ini dia duduk  di sampingku di lapangan basket. Kami memang menjadi dekat entah kenapa. Kami sering pulang bersama, belajar bersama, berangkat sekolah bersama, ataupun bermain di depan danau sambil berayunan. Aku merasa sebagian jiwaku begitu hidup. Aku tak pernah menghirup udara luar, karena aku tak mau penyakit ini kambuh dan berubah menjadi lebih parah lagi. Namun akhir-akhir ini hidungku selalu mengeluarkan darah. Dia pernah menyeka darah yang mengalir dari hidungku dengan sapu tangan yang aku tau itu pasti benda kesayangan nya, ia aku tau, dari kecil dia selalu menyukai warna merah.  aku bahagia karena dia begitu baik padaku.
*Aku menyukainya dari pertama aku bertemu dengannya, meski aku tak pernah mengatakannya.Dia menyuruhku untuk menjadi pacar untuk Felisha, sahabatnya. Hari ini Felish nembak aku, dan aku tak menjawabnya. Sejak itu dunia kembali berubah seperti dulu, Meline menjauhiku. Penyakit ku kembali menyerang tubuhku, rasanya tubuhku terlalu lemah saat ini. Mungkiin Meline membenciku,  karena Felisha menjadi pacarku. Jujur, aku tak pernah ingin dia pergi dari hiudpku. Tak pernah ingin untuk itu
*Dia akan pergi meninggalkan kota ini, meninggalkan kesedihannya selama ini. Aku merangkul pundaknya untuk terakhir kali. Setidaknya dia telah menjadikan hidupku lebih berarti. Meline .... aku menyayangimu, selamanya. Terima kasih kau telah memberikan ku cahaya di sisa akhir hidupku ....
FOR YOU, FOR LOVE ..MY STAR, Meline Auliedra …

**

“Lo tau kenapa hari ini gak ada bintang di langit?” Karena telah ada bintang yang terindah yang kini ada di sampingku.”

“FOR YOU FOR LOVE MY SENSE, Junior Liem” aku meletakan seikat bunga mawar putih di atas makam Junior.
Thanks Juno, kamu udah jadi teman yang begitu berarti sampai saat ini.Aku tak akan pernah melupakanmu sedikit pun. Selamat tinggal Juno, aku mencintaimu. Aku hanya berani mengatakannya sekarang, setelah kau pergi selamanya. Biarkan aku hidup bersama cintamu di sini. Aku menyayangimu, bahkan semenjak kita kecil, aku baru sadar bahwa bocah ingusan yang ada di bingkai foto di diding kamar mu itu adalah aku, ketika aku menangis karena kau mengejekku. Maafkan kebodohan ku selama ini, aku mencintai mu..

 Ku rasakan ada setitik air yang membasahi kepala ku di senja ini,
“Gerimis ..”
“Ini hujan dodol !!” aku mendengar suara yang menyahutiku
“hah ? dodol ? ini pasti hanya ilusi” aku tersenyum.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan.Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu- abu. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan…

**

END ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


author by