Wanita itu lalu
beranjak dari tempat duduk nya. sembari berkata “jika diam ku adalah bahagiamu , maka kesedihan ku
akan berpura pura tak terluka” namun tak di sangka,
sang pria masih terdiam tunduk di kursi nya. entah apa yang di pikirkan sang
pria , dia hanya memeperhatikan wanita itu, kemudia sang wanita mulai menjauh
pergi , berjalan pelan meninggalkan sang pria yang masih terdiam di kursi
taman. Sesekali wanita itu melirik singkat ke belakang, mungkin wanita
mengharapkan sang pria nya datang menghampirinya. Tapii.. semua Cuma bayangan
sang wanita. Pria itu masih duduk diam di sana, tak di sangka ada sesuatu yang
mengalir di pipi wanita itu. Yah , dia menangis sejadi nya. lalu wanita itu
menghapus air mata nya perlahan, mungkin dia sadar, bahwa menangis tak akan
membuatnya merasa tenang. Tampak dari kejauhan sang pria hanya memperhatikan
gerak gerik nya. lalu diam menetap di kursi taman sambil berkata “air mata mu takkan pernah bisa
merubah keadaan, PERCUMA !” dengan sangat pelan
nya.
Wanita berkata “Tuhaaan , salahkah bila aku
membohongi hatiku, krna alasan tak terbalaskan oleh nya. jika itu salah tolong
ajarkan aku bagaimana kebenarannya” wanita itu lalu duduk
di suatu tempat. Sang pria hanya bisa melihat biasan bayangan punggung sang
wanita nya. terdengar suara hentakan kaki nan pelan dari belakang. Pria itu
mulai mendekat, dia merangkul mesra sang wanita, sembari berkata “ingatkah ?? kita pernah bersama
dengan sebab tak di sengaja yang berpura pura buta. di antara dosa kita sebut
itu bahagia” sang wanita hanya tersenyum kecil
mendengarnya. Wanita kemudian menepis “Aku hanya sebuah luka. Kenangan yang pasti telah kau lupa,
sedang di hati ku kau masih menjadi cinta yang bertahta” sang wanita melepaskan rangkulan mesra pria itu. Dia mulai
menepis lengan sang pria nya. namun sang pria tetap berusaha untuk merangkul
nya lagi, hingga lengan pun menjadi rumah paling nyaman. Pelukan lembut itu..
sangat hangat di tengah dingin nya malam. Sang wanita lalu berkata pelan “aku selalu ingin seperti ini,
menari dalam pelukanmu, lembut..” tampak ada serpihan
kaca di dalam mata sang pria. Dia menangis ?? tapi segera di hapus air mata
yang tak sempat jatuh ke pipi itu. “
Mereka lalu duduk di
bawah ribuan bintang, masih di tempat yang sama. Sebuah taman yang istimewa. Wanita
kemudian berkata lagi “jika
memang ini akana jadi yang terakhir, tolong izinkan aku untuk melepaskan, aku
sudah terlalu lelah berpura pura bahagia dalam tangisan” lalu sang pria menjawab “tolong biarkan aku berada dalam pelukan terhangat
walau hanya sementara, sebelum semua benar benar hilang” sang pria mengusap lembut kepala wanita itu. Tangan nya
seolah sangat erat merangkul lengan wanita. “ku mohon jangan lepaskan ini, aku bahagia bersama
mu, karna sampai kapan pun rasa ini akan tetap sama, meskipun cuek mu sudah
terlalu dalam mematikan cinta” pelukan itu semakin erat,
seakan sang pria juga tak ingin semua ini hilang. Mereka memang saling
mencintaa tapi sayang, takdir tak selama nya sependapat dengan perasaan. Sang pria
mengecup kening wanita nya dengan lembut. “aku mencintai kamu, mungkin lebih dari sekedar kata yang dulu
sempat aku ucapkan di belakang mu” sang pria terus memeluk
wanita nya. mereka tertidur sejadinya. Mengisahkan betapa nyaman nya menggapai
setiap lengan untuk menjadikan nya bantal peristirahatan ternyaman.
Malam berlalu begitu
singkat, mereka masih saling memeluk nyaman. Pria kemudian tersadar. “aku minta maaf, bukan maksud ku
untuk melepaskan. Ku rasa kisah kita akan terasa lebih perih jika di lanjutkan” pria itu kemudian berdiri sedikit menjauh. Hari masih terasa gelap ku
rasa. Tapi mereka sudah melebur dalam ara. “Jika kau hanya hujan yang lewat sekejap, jangan
janjikan aku pelangi untuk menghiasi langitku” wanita itu
memeluk kedua lutut nya. tampak sang pria seperti mengeluarkan air mata. “semalam aku dilayangkan
pengharapan, kini pagi ku member kejutan, hati ku di hempaskan sia sia atas
penantian.aku tersadar” wanita itu menyambung
ucapan nya lagi. Dia menarik nafas dalam, hingga terdengar desisan nya. “entah di nadimu atau di nadiku,
bila sajak ku telah menemukan titik terkhirnya kita akan saling melupakan ~
mungkin” wanita kemudian menoleh kepada sang pria , pria itu
hanya diam mengekspresikan kebingungan. Pria itu kemudian bersua “sekarang ingin melakukan apa? Kau
yang menentukan aku selalu ada di tempat semula” sang pria
kini membuang pandangan nya jauh ke sudut taman. Entah apa yang dia perhatikan.
Wanita kini beranjak dari
tempat duduk nya. berjalan pelan mendekati sang pria sembari berkata “jika suatu saat nanti tak ada
kabar dari ku, jangan kau tanya mengapa. Tanyakan saja pada hati mu, penting
kah aku bagimu??” kemudian wanita itu tersenyum dan
menjauh pergi dari sang pria. Tampak terlihat jelas, ada wajah penyesalan di
sana. Pria itu menemukan kotak kecil tepat di samping tempat duduk wanita tadi.
“di senymmu air mataku mati
karenanya. Di air mata mu senyum ku mati karenanya. Detik waktu adalah detakkan
aku mencintai mu. Detak waktu adalah detik engkau melupakan aku. Mata mu adalah
mati bagi mata ku. Mati mu adalah sedih bagi mataku. Aku menatap matamu di alam
hidup ku. Kau menutup hidup ku di dalam matamu. Semua tampak jelas ku rasa, kau
tak pernah menginginkan aku seutuhnya, aku menyerah”
Sang pria menyenderkan
badan nya di samping lampu taman. Kaki nya terasa lemas tak bernyawa. Terlihat jelas
sekarang air mata itu benar benar mengalir di pipi nya. yaa.. dia menangis
sejadinya. Cukup lama.
Sang pria lalu bergerak
gontai, mencari sosok wanita nya yang mulai tadi berjalan pergi. Dia berteriak
pekak “TOLONG,
jangan umumkan bahwa perkataanmu menjadi serius terhadapku. Karna sebetulnya
aku tak mampu, dan tak pernah mampu tanpa mu”. Namun sayang
sang wanita telah lama berlalu.
“yaaa. Aku lah sebuah luka kenangan yang mungkin sudah lama kau
lupakan. Sedang di hati ku ?? kau masih menjadi cinta yang bertahta bagai raja”
Mey Samola ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar